
"Inget, gue bayar Lo mahal buat misi ini. Pastikan bininya si Ken nangis dan cemburu abis malam ini. Buat seolah-olah Ken selingkuh dari cewek kampungan itu",
~part sebelumnya
Anjani yang mendengar perkataan Seyna dengan wanita lain pun segera menenangkan dirinya. Dengan menghembuskan nafas perlahan, Anjani mengirim pesan pada Kenan.
Beruntung, tak lama mengirim pesan, Kenan segera membuka pesannya. Anjani pun bernafas lega dan berniat meneruskan kegiatannya di kamar mandi.
Setelah Anjani keluar, dia mendapati gadis yang tadi berbicara dengan Seyna. Tentu saja dia adalah wanita yang di sewa Seyna agar membuat kekacauan seperti yang di rencanakan tadi.
Dengan berjalan tanpa rasa khawatir, Anjani berjalan pelan menuju Kenan. Sedang dari arah berlawanan, gadis itu jauh lebih dekat dengan Ken.
Sengaja Anjani memperlambat langkahnya agar memberikan ruang dan kesempatan untuk gadis itu menjalankan misinya. Meski ia terlahir sebagai anak pembantu dan terkesan pendiam, namun Anjani adalah pribadi yang kuat dan memiliki tingkat kewaspadaan tinggi.
Anjani mencoba mengamati keadaan sekitar. Tak jauh dari Kenan, Seyna berdiri melirik Ken dengan meneguk ringan minuman dalam gelas. Sedangkan wanita bayaran Seyna pun juga tengah membawa gelas kristal yang begitu mewah.
Minuman itu, entah mengapa Anjani merasa ada yang janggal dengan minuman yang di pegang wanita itu. Meski minuman itu dalam genggamannya, namun wanita itu tak berniat untuk meneguknya.
Atau jangan-jangan, itu racun? Oh tidak, Anjani tidak boleh berburuk sangka. Namun waspada akan lebih menyelamatkan suaminya, bukan?
Wanita itu kian mendekat, dengan pandangan mata tajam namun ekspresi wajah yang begitu kalem, Anjani berjalan mendekat namun diantara kerumunan orang-orang. Sebisa mungkin ia tak akan menampakkan diri dulu agar mempermudah Anjani dalam menilai keadaan.
"Mas, ini minuman yang di pesan mbak yang namanya mbak Anja. Ini untuk mas, mbak Anja masih memperbaiki make up-nya di toilet", Sayup-sayup Anjani mendengar wanita itu berbicara dengan lembut. Kenan pun berniat akan menerima nya.
Di saat yang bersamaan, seorang pelayan lewat tepat di belakang wanita itu. Dengan spontan Anjani mendorong pelayan hingga menyenggol wanita itu.
Taukah kau bagaimana nasib minuman dan gelas kristal yang belum sempat Ken sentuh?
Minuman yang nampak menyegarkan itu tanpa terasa sengaja tertumpah pada gaun bagian dada milik Seyna yang berdiri tak jauh dari Ken. Anjani segera melarikan diri dengan ringan dan tak bersuara.
Hening, Semua mata tertuju pada Seyna dan wanita itu.
"Loh, ada apa ini?" Tiba-tiba suara Kania muncul di antara kerumunan orang-orang, dengan menggandeng lengan Niko tentunya.
"B***sat", Umpat Seyna tanpa mampu lagi menahannya. Wanita itu menciut takut saat menerima tatapan tajam Seyna.
Dengan mengedarkan pandangannya, wanita itu penasaran dan mengedarkan pandangan mencari sosok yang telah tega menyenggolnya. Namun naas, hanya ada pelayan di belakangnya.
"Pelayan ini, yang nyenggol a..aku", ungkap wanita itu dengan takut-takut.
Dari arah toilet, Anjani datang dengan dandanan yang cukup rapi seperti saat baru datang. Dengan senyum tanpa dosa, Anjani muncul dengan sikap biasa saja.
'Kelicikan harus di bayar dengan kelicikan, bukan'
__ADS_1
Batin Anjani.
"Oh kakak ipar darimana aja sih? Kenapa nggak disini bantuin kak Seyna? Kan kak Seyna saudara kita!", ungkap Kania dengan polos tanpa tau akar permasalahannya .
Kenan tersenyum kecil.
"Loh, Seyna kamu kenapa?" tanya Anjani yang berlagak tak tau apapun.
Seyna hanya mematung, seperti tak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya. Senjata yang coba ia hunuskan pada rumah tangga sepupunya itu, harus mengenai dirinya sendiri.
"Ken, ada apa sebenarnya?", tanya Niko yang sedari tadi hanya diam. Kenan hanya mengangkat bahunya acuh.
....................
Hari berlalu, empat hari setelah insiden di pesta itu, semua beraktifitas normal seperti biasanya. Rumah tangga Kenan juga aman tak terusik apapun sejauh ini.
Begitu juga dengan Niko yang menjalani hari-harinya dengan ditemani kehadiran Kania dan sikap barbar nya.
Hari ini hari Sabtu. Niko sengaja masuk kerja hanya setengah hari saja karna ia berniat akan menyambut bunda dan ayahnya yang akan mengunjunginya.
Kania? Tentu saja matanya blingsatan mencari sosok Niko yang tak nampak di ruang kerjanya. Seperti sepasang kekasih yang keranjingan cinta, rindu yang begitu menggebu-gebu tatkala tidak saling bertemu.
Setelah mencari tau dengan bertanya sana sini pada karyawan distro, Kania bergegas pergi menyambangi Niko di rumah kost nya setelah Sasa memberi tahu bahwa Niko pulang lebih cepat hari ini.
Mungkinkah Niko sakit?
Kania mendadak cemas karna khawatir pada kesehatan Niko. Selama ini, Kania selalu rutin memberi makan siang Niki makanan sehat. Jika Niko sakit, mungkinkah Kania kurang baik dalam memasak.
Dengan berjalan tergesa, Kania membawa serta juga rantang yang ia bawa dari rumah tadi.
Di tempat lain, Niko tengah menyambut kedatangan kedua orang tuanya. Bunda selalu membawakan cemilan kesukaan Niko, yakni keripik singkong bumbu balado pedas.
"Ngomong-ngomong, kamu udah punya pacar belum?", Tanya ayah yang duduk di ranjang putranya dengan menekan tombol remote televisi milik Niko. Sedang Niko, memakan cemilan buatan bunda nya dengan semangat.
"Nggak punya, jawab Niko dengan menggelengkan kepalanya",
"Anak ayah nggak laku", Sahut bunda yang tak jauh dari ayah dan anak itu. Senyum hangat terpancar jelas di wajah cantik bunda.
"Ye.... siapa bilang? Itu karna nik nggak siap aja untuk berkomitmen Bun".
"Terus, siapnya kapan? Keburu tua loh, dek", lanjut bunda lagi. Niko memang anak terakhir dari tiga bersaudara. Kakak laki-laki dan perempuannya sudah berumah tangga. hanya Niko saja yang belum ada tanda-tanda memiliki pasangan.
"Kalau Nik udah punya rumah sendiri, Bun. Nik juga belum sempet bahagiain bunda. Jadi jangan ngomongin nikah dulu", jawab nik dengan santai.
__ADS_1
"Tali inget, Jangan kebablasan. Ayah nggak mau kalau sampai anak ayah jadi bujang lapuk cuma gara-gara belum punya ru.....",
"Assalamualaikum, mas Niko?",
Suara Kania tiba-tiba terdengar nyaring dan menghentikan kalimat wejangan dari ayah.
Niko menegang.
Kacau... sepertinya akan sangat kacau. Niko menggelengkan kepalanya dengan keras.
Belum Niko beranjak dari duduknya, Kania sudah muncul dengan rantang di tangannya.
"Maaf", ucap Kania pada dua paruh baya yang ada diantara Niko. Batin Kania bertanya-tanya, kenapa ada orang tua secara tiba-tiba di kost an Niko? Mungkinkah sang pemilik kamar kost ini?
Pandangan mata Kania tiba-tiba terpaku pada toples yang di pangku Niko. Berisi makanan pedas yang tentu sangat di hindari Kania. Segera Kania meletakkan rantang yang ia bawa ke meja Deket televisi.
"Kania....",
"Mas, Kamu makan apaan sih? Ini tuh pedes, nggak boleh ya makan ginian. Pedes itu nggak sehat, mas. Kalau kamu sakit, gimana?", Kania segera merampas toples dipangkuan Niko.
Ayah dan bunda Niko terbengong menatap gadis cantik di depannya ini.
"Kania kamu..... Please Kania jangan buat kekacauan terus", ucap Niko yang sudah kehabisan kata.
"Nak, gadis cantik di depan Niko ini, kamu siapa nak?", tanya bunda lembut dengan penuh kehati-hatian.
"Saya calon istrinya mas Niko", ucap Kania tanpa beban tanpa dosa. Niko pun melotot kearah Kania.
Ayah dan bunda Niko pun terkejut dibuatnya.
"Kania kamu tau nggak kalau keripik yang kamu bilang nggak sehat itu buatan bundaku?",
"Apa?". Kania terkejut dengan pernyataan Niko.
"Dan kamu tau nggak kalau ini itu bundaku?", tunjuk Niko pada paruh baya cantik di sampingnya.
"Kelar idup gue", Kania berkata lirih sembari menundukkan kepalanya.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Hayyo yang suka ceritanya Kania sama Niko, koment yah. jangan lupa dukung juga.
Salam dari neng Tiaππ
__ADS_1