PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 12


__ADS_3

Seorang ibu muda tengah berjalan angkuh dan tatapan mata dingin berjarak, ketika melangkahkan kaki menuju gedung distro terbesar di kota itu. Postur tubuhnya Tegap dengan dada membusung dan dagu terangkat sempurna, sebagai simbol yang mendeklarasikan pada siapapun yang di lewatinya, bahwa ia tak bisa di anggap remeh.


Kania melangkah dengan yakin dan langkah-langkahnya terasa lebar. Kacamata coklat nya bertengger pasti di hidungnya yang mancung, namun mungil menggoda. Rambutnya berwarna hitam pekat dengan sedikit gelombang di ujungnya, membuat siapapun hanyut dalam gelombang suka cita dan rasa yang menyenangkan.


Anjani sudah menunggu Kania sedari tadi di dalam ruang kantor Kenan. Matanya menyiratkan kegelisahan saat Kania kini terlambat datang hingga hampir setengah jam. Ketika di hubungi tak ada jawaban sama sekali.


Sesekali, mata wanita muda yang sedang hamil itu, memperhatikan suaminya yang berkutat dan menatap layar laptopnya dengan sangat serius.


Pintu di ketuk dari luar. Sosok Rio membuka pintu dan menampilkan senyum khasnya yang jenaka.


"Selamat pagi, Pak. Di luar ada Bu Kania. Katanya sedang ingin menemui bapak".


Ungkap Rio dengan bahasa yang formal. Biar bagaimana pun, ada Anjani sebagai nyonya di sini.


Pagi tadi, Kenan sudah mengirim pesan pada Rio, bahwa ia harus bersikap profesional layaknya atasan dan bawahan. Tujuannya hanya satu, agar Anjani tak mencium adanya bau-bau sekongkol di antara keduanya.


"Suruh masuk".


Ucap Ken datar sambil matanya melirik Anjani. Berpikir mungkin Anjani yang meminta Kania untuk datang kemari. Bila tidak ya, mungkin saja kedatangan adiknya itu hanya kebetulan saja.


"Pagi mba Anja.... pagi mas Ken".


Kania datang dengan senyum sumringah seiring wajah cerahnya pagi ini.


"Loh, tumben mba Anja ikut?"


Tatapan mata Kania penuh selidik mengarah pada Anjani. Namun tentu ia tau semuanya. Hanya saja, sedikit drama di pagi hari, baik untuk kesehatan, bukan?


"Iya. Bosen aja di rumah".


Anjani menjawab pelan.


"Ciye.... bumil yang lagi nggak mau di tinggal Babang Kenan......."


Kania sengaja menggoda Anjani di depan Kenan.


"Tumben kamu datang pagi ini? Ada apa?"


"Ekhm......"


Kania melonggarkan dadanya kali ini.


"Aku udah lama nggak dapat jatah duit dari mas. Mau sampai kapan? Gimana pun juga, aku adik mas Ken, loh. Udah cepet transfer. Kayaknya aku perlu shoping dan jatah dari mas Niko cuma buat kebutuhan rumah dan Fatih". Ucapnya dengan enteng.


"Ck...." Ken berdecak sebal.

__ADS_1


"Kamu ini datang cuma buat minta duit".


Dan Ken segera meraih ponselnya dan mentransfer sejumlah uang kerekening adiknya. Kania sontak saja bersorak girang ketika sebuah notifikasi saldo masuk ke rekeningnya, terlihat.


"Makasih, mas. Oh ya, aku ajak mba Anja jalan-jalan dulu di depan. Kayanya ada stand booth baru di halaman depan distro. Aku kesana, ya?"


Kemudian tatapan Kania beralih pada Anjani dan mengedipkan sebelah matanya sebagai isyarat.


"Yuk, mba".


"Jangan jauh-jauh, kan. Mbak mu nggak boleh kecapekan". Ucap Ken dengan suara agak keras karena Kania sudah membuka pintu ruang kerja Kenan.


"Iya, siap bos".


Dan mereka berjalan menyusuri lorong untuk keluar distro dan menuju lantai satu. Karena posisi office berada di lantai tiga.


"Kita mau kemana, kan?".


Tanya Anjani yang penasaran pada Kania yang hendak mengajaknya keluar.


"Kita mau ke booth stand depan, mbak. Seperti yang aku bilang tadi ke mas Ken."


"Mau ngapain? Kamu belum sarapan?"


Anjani memicing curiga.


Jawabnya ringan.


Anjani menghela nafas dan tersenyum. Dari dulu, ke bar-bar an Kania tak di ragukan lagi, tak pernah berubah, dan sangat jauh dari sifat Nawal yang lembut dan Fandy yang kebapakan. Terkadang, Anjani sempat curiga. Mungkinkah Kania ini anak hasil adopsi?


Sesampainya mereka di booth stand, Kania memesan satu menu makanan untuknya dan dua minuman. Satu minuman untuk Anja dan satu untuknya.


Lama mereka berbincang dan saling bertukar cerita tentang wanita penggoda Ken yang bernama Wandira itu, akhirnya Kania jadi paham dan ia tau dari mana ia harus memulai rencananya. Maka, Kania segera mengajak Anjani kembali ke lantai tiga.


Bertepatan jam makan siang hampir tiba, Kania dan Anja melewati lorong yang menuju ruang kerja Ken.


Sebuah pintu terbuka dan menampilkan sosok Dira. Kania memperhatikan dengan jelas sosok itu dan melihat name tag di dada kirinya.


Wandira Hayati..... Tertertera di sana. Kania mengangguk dan mempersiapkan minuman yang sedari tadi di bawanya dari depan distro.


Niatnya untuk di berikan nya untuk Ken, sayangnya Dira lebih membutuhkan, begitu pikir Kania.


Anjani yang tak tau secara detail rencana adik iparnya itu, hanya diam. Tatapannya terpaku pada sosok Dira yang berjalan ke arahnya. Sepertinya wanita itu hendak turun ke bawah.


Kemudian Anjani menatap pintu ruang kerja Ken yang memunculkan sosok Rio yang baru keluar dari sana. Rio hanya terpaku dan menyaksikan kebar-baran Kania yang terasa jarang terlihat itu.

__ADS_1


"Awwhhhh......."


Jeritan pelan dari Wandira terdengar. Kania pura-pura memasang tampang tak bersalah.


"Astaga buuuu.... maaf nggak sengaja".


Ucap Kania yang mendapat tatapan tajam dari Dira. Dira tak tau saja kalau sebenarnya Kania adalah dik dari pemilik distro yang memiliki beberapa anak cabang ini.


"Kamu siapa sih kok keluyuran di sini? Kalau jalan pakai mata, dong".


"Maaf, Bu. Karena tadi saya jalan pakai kaki. Ya kali pakai mata, bakal kelilipan nanti". Jawab Kania dengan nada mengejek.


"Kamu....." Belum sempat Dira melanjutkan kalimatnya, Kania segera menyela.


"Lagian mata saya itu untuk lihat-lihat Bu. Ya kali kalau mata ibu, meski bisa lihat tapi bisa di bilang buta."


Ungkap Kania tenang. Dia saat yang bersamaan, Kenan terlihat melongok kan kepalanya dari dalam saat mendengar keributan, namun tak berani keluar. Ken tak ingin terlibat. Senyum tipis tersungging di bibirnya yang berhiaskan kumis tipis itu. Rio lun bahkan sengaja menggeser tubuhnya demi memberi ruang untuk Ken agar lebih leluasa.


Anjani melihat itu.


"Jaga ucapan kamu! Saya nggak buta!".


Dira menatap Kania dengan sorot mengintimidasi. Nadanya sedikit meninggi, berusaha menahan emosi.


"Kalau nggak buta nggak bakalan godain suami orang yang udah beristri".


Kania balik nyolot dengan berkacak pinggang. Nadanya tak kalah tinggi dan matanya tak kalah tajam dari Dira. Wanita itu siap mengacak-acak rambut Dira yang bentukannya keriting gantung warna merah.


"Apa maksud kamu?"


"Hellehhhh.... Lo pikir gue gak tau gimana kelakuan Lo yang udah godain pemilik tempat ini. Kalau sampai berlanjut dan Lo nggak kapok, gue jamin kepala Lo botak mirip kepala guru matematika gue dulu. Juga gue jamin wajah Lo penuh cakaran gue!".


Kania lantas menunjukkan jemari lentiknya. Berhiaskan kuku panjang dan lentik dengan kutek sewarna darah yang cukup menakutkan.


"Kamu pikir aku bakal takut?"


"Baiklah, persiapkan diri Lo untuk beberapa waktu ke depan!!".


....


....


Part selanjutnya, aseli deh ada atraksi cakar-cakaran dan jambak-jambakan.


Perrsiapkan mental kalian sebelum baca BONEPS 13.

__ADS_1


😜😂😂


__ADS_2