PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 16


__ADS_3

"Mas Niko ngambek, bu. Pulang kerja minta jatah nggak Kania kasih. Lagian, orang Kania mau masak".


Kania terkikik geli, apa lagi, di lihatnya wajah Niko memerah, antara malu dan marah yang bercampur menjadi satu.


"Apa'an sih?" Niko sengaja memalingkan wajahnya demi tak memperlihatkan wajahnya yang memerah.


"Lho, emang bener, kan?"


Ucap Kania tak mau kalah. Toh memang kenyataannya Niko tadi meminta jatah, Kania mengucapkan apa adanya, kan?


"Enggak ya, aku langsung mandi gitu, kok".


Sanggah Niko lagi.


Ayah sudah menggaruk pelipisnya yang tak gatal ketika melihat kelakuan Niki dan Kania layaknya anak kecil. Begitu juga dengan bunda yang bengong, terpaksa menjeda acara masaknya ketika melihat sang putra yang biasanya pemalu dan berwibawa, kini seolah kehilangan sisi maskulin dan kewibawaannya di depan Kania.


Sementara Niko dan Kania saling tuduh dan yang satu saling menyanggah, bunda mendekat pada ayah sambil berbisik lirih,


"Yah, apa jatuh cinta bisa membuat laki-laki tangguh, berubah jadi kekanakan?"


Ayah melirik bunda sebelum menjawab,


"Sepertinya begitu, bunda. Ayah rasa..... Niki itu, apa ya istilahnya anak sekarang? Bucin kayaknya kalau nggak salah".


"Ah, ayah juga bucin ke bunda".


"Astaga..... ayah bisa kalau gini. Jangan-jangan, bunda ketularan mantu kita lagi".


Dan sebuah cubitan mendarat di pinggang ayah dari bunda. Niko dan Kania sontak diam dan menatap ayah dan bunda secara bergantian.


Kemudian ayah dan bunda saling senyum, memasang tampang seolah tak terjadi apapun.


"Sudah-sudah. Ayo lanjutkan masak. Sebentar lagi mama papanya Kania mau datang, kan?".


Kania tersenyum, melanjutkan acara memasak bersama bunda. Membiarkan Niko yang senyum-senyum ke arahnya seperti orang gila. Oh tidak. Tapi Kania suka pada orang gila baru seperti Niko. Niko cintanya, Niko kesayangannya, dan Niko pawang yang ampuh mengendalikan Kania.


Hinga acara makan malam hampir di mulai, Nawal dan Fandy tiba di kediaman putrinya, Kania. Saat mereka tiba, Fatih sudah terbangun dan mengulurkan tangannya pada sang opa, Fandy, minta di gendong. Maka, dengan hati bahagia ia menyambut uluran tangan cucunya untuk di bawanya ke dalam gendongannya.


Beberapa topik tampak menghiasi obrolan mereka malam ini, hingga acara makan malam usai, kini mereka tengah berada di ruang keluarga. Suasana hangat semakin terasa ketika canda gurau terdengar.

__ADS_1


"Papa dengar, kemarin lusa kamu ke kantor mas mu, Kania? Apa bener?"


Fandy membuka pembicaraan lebih dulu.Kania tersenyum kecil ketika merasa, bahwa kedatangan orang tuanya ini adalah untuk menginterogasinya.


"Bener banget, pa. Kenapa?"


"Kamu membuat keributan di sana dengan melabrak wanita yang sengaja menggoda mas mu, begitu? Apa itu benar?" Fandi kembali bertanya.


Niko dan kedua orang tua Niko saling tatap, tak bisa menyembunyikan raut terkejut.


"Ya, Karena wanita itu sengaja berpenampilan setengah telanjang di depan mas Ken, menyodorkan tubuhnya tanpa takut sama sekali. Padahal Kania udah ngasi peringatan".


Jawab Kania jujur apa adanya. Fandy menatap tajam putrinya yang tak gentar sama sekali.


"Apa itu Wandira?" Tanya Niko. Pandangan Fandy kemudian teralih pada sang menantu yang begitu ia banggakan. Tak jarang, Fandy bahkan menyeret menantunya itu ke sebuah acara spesial perkumpulan para pengusaha.


"Iya. Kenapa? Atau jangan-jangan, mas Niko pernah ada affair sama dia?"


Tuduh Kania. Jiwa posesif nya muncul ke permukaan. Cemburu buta nya mulai kumat.


"Jangan ngaco deh. Mana ada kayak gitu?".


"Ya ada lah. Kalau enggak, ngapain mas Niko tau kalau nama wanita berjenis jin ifrid itu, Wandira?"


"Aku habis ketemuan sama mas Ken tiga hari lalu di cafe. Ada Rio juga. Kami cuma bertiga, Dan mas Ken cerita masalah wanita itu. Jangan asal nuduh, deh".


"Oh ya? Tepatnya tanggal berapa, jam berapa?".


"Tiga hari lalu pas jam makan siang".


"Oke, aku buktikan dan akan cek CCTV cafe. Awas aja kalau mas Niko bohong!!".


Niki melotot ke arah istrinya. Segitu tidak percaya kah istrinya itu?


"Oke. Siapa takut".


"Papa ke sini mau tanya-tanya kamu, Kania. Kenapa jadi kalian yang bertengkar, sih? Kalian bikin kepala papa makin pening".


Gumam Fandy lirih. Ia memijat pelan pelipisnya yang terasa nyeri.

__ADS_1


"Huh, papa udah tuan Jadi berhenti mikirin hal-hal uang nggak penting. Mending banyak istirahat dan di imbangi dengan olah raga."


Sahut Kania enteng.


"Gimana papa nggak kepikiran? Kamu bukan hanya sekedar melabrak wanita itu, tapi kamu juga buat dia babak belur. Kalau kamu di tuntut, gimana?".


"Tuntut balik lah, dia yang godain bos nya. Lagian kalau aku di tuntut, jangan kan pengadilan, mulut dia bisa Kania beli".


Jiwa sombong Kania mulai bangkit. Ia paling tak suka di konfrontasi lebih dulu. Salahkan saja si Dira itu, toh Kania berbuat seperti itu juga akibat dari tingkah Dira sendiri.


"Lagian Kania orang yang baik kalau di baik-baikin. Tapi akan jahat kalau sengaja di konfrontasi lebih dulu. Papa kenal Kania dari lahir, kan? Mustahil papa nggak tau sifat dan watak Kania".


Baik orang tua Niko, Nawal dan Fandy mengerjapkan matanya beberapa kali. Dan Fandy mendesah frustasi akan tingkah putranya yang bisa saja menjawab ucapannya.


Fandy jengkel sendiri di buat Kania.


"Pa, mama pusing. Pulang, yuk".


ajak Nawal yang tak sanggup lagi mendengar celoteh putrinya yang kelewatan.


~~


~~


Hari Minggu pagi, Kenan mengajak istrinya berjalan-jalan di area komplek perumahan yang kena tempati. Mereka berjalan beriringan layaknya pasangan yang sedang kasmaran. Tak sekali pun, Ken melepaskan genggaman tangannya dari sang istri.


Dari jauh, Kania tampak berlari mengejar mereka. Kenan mendengus ketika akhir pekannya bersama sang istri, harus terganggu oleh Kania, adik bar-bar yang membuatnya terkadang hampir gila.


"Huh, Kenapa harus ketemu Kania, sih?"


Kenan mendengus ketika melihat Kania mendekat ke arah mereka. Kencan Ken dan istrinya akhir pekan ini pasti terganggu.


Dimana-mana dan bagi siapa saja, keberadaan Kania seolah mengaktifkan alarm tanda bahaya.


Ken termasuk di dalamnya.


🍁🍁🍁


Lanjut di part berikutnya ya😘😂

__ADS_1


__ADS_2