
Vanya tengah berjalan santai menuju ruangan tempatnya bekerja. ada rasa was-was dan tak nyaman yang tiba-tiba hadir dalam hatinya. Sekelebat bayangan hadir. bayangan Dewa yang selama ini berusaha ia enyahkan dari pikirannya.
Sekali lagi, Vanya hanya bisa mengeluh dalam hati. sesakit inikah patah hati? Dewa telah bersama dengan yang lain. sementara dirinya? Bahkan untuk sekedar move on saja Vanya tidak mampu.
Inginnya Vanya memaki dirinya sendiri. inginnya Vanya menyumpah serapah Dewa yang telah berani bangkit begitu saja, meninggalkan Vanya yang hanyut dan tenggelam dalam rasa sakit yang tak berkesudahan seorang diri. Sialan dewa, pria itu telah berhasil membuat porak poranda hidup Vanya.
"Heh"
Emi tiba-tiba datang mengagetkan Vanya yang sedang melamun. entah apa yang membuat wanita itu hanyut dan tenggelam dalam lamunan. Yang jelas, belakangan ini, emi selalu menemukan sahabatnya itu selalu di timpa kesialan.
"Please jangan ngagetin gue. Lo mau gue mati jantungan?"
Vanya melotot ke arah Emilia yang sedang tersenyum.
"Dewa lagi?"
Vanya hanya mengangguk. Senyumnya penuh semangat dan hal itu berhasil membuat Emi penasaran.
"Lo kok semangat benget hari ini, ada apa?"
"Gue semangat buat melupakan mantan kekasih gue, Dewa"
dengan senyum terkembang sempurna, kalimat Vanya mendapatkan tawa keras dari Emi. mari kita lihat saja, sejauh mana Vanya bisa melupakan Dewa.
Lantas mereka berdua mulau bekerja dan menuntaskan apa yang menjadi tugas mereka. Tak lupa, sesekali mereka terlibat canda gurau dan saling ejek. Sejak dulu, mereka memang selalu kompak dalam segala hal.
Hingga kemudian Mia meminta Vanya untuk menemui Dewa untuk sebuah kepentingan. Sekali lagi, Vanya tak bisa menghindar dan memilih untuk menyembunyikan diri.
__ADS_1
"Ini udah fix kamu yang di minta, Vanya."
Ungkap mbak Mia tiap kali Vanya mencoba mencari alasan agar bisa menghindar.
"Iya, deh, mbak. Aku akan coba menemui pak Dewa di ruangannya".
Mau tak mau, tak ada pilihan lain, kan?
**
Di ruangannya, Dewa termenung seorang diri usai menyelesaikan pekerjaannya. layar komputer yang masih menyala, serta beberapa berkas yang tertata rapi, menjadi pemandangan penunjang diatas meja kerja Dewa yang cukup besar.
Putra tunggal keluarga Sinatra itu kini tengah berpikir untuk mengakhiri semua masalah di masa lalunya. satu-satunya cara adalah dengan bertemu Vanya di jam kerja. Tentu saja putri Kenan itu tak akan pernah bersedia apabila Dewa nekat menemuinya diluar jam kantor.
Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan Dewa. Selain penasaran, Dewa juga merasa ada yang janggal atas semua yang terjadi dimasa lalu. Inginnya Dewa bergerak cepat, namun Dewa tak mau gegabah dan berakhir melukai siapapun. Cukup lah karena keegoisannya, ia mengorbankan perasaan Anika dan Vanya secara bersamaan.
"Selamat siang, pak. Bapak memanggil saya?"
Vanya bertanya dengan sopan. Wanita itu sama sekali tidak melupakan bagaimana posisinya di kantor ini. Seorang bawahan memang harus selalu sopan pada atasan, kan?
"Siang. Silahkan duduk. Ada beberapa hak yang ingin saya luruskan, sekaligus ingin saya tanyakan pada kamu"
Dewa tak kalah datar. Pria itu masih sangat pintar menyembunyikan emosinya.
"Ada apa, pak?"
Hening cukup lama. Sedikitpun Dewa tak melirik Vanya barang sekejap saja. Dewa justru sibuk mengetik sesuatu pada komputernya. Tidak lama, karena hanya beberapa menit saja, lalu kemudian Dewa bangkit dan menghampiri Vanya.
__ADS_1
"Sebelum saya mekar melamar Anika ketika itu, seseorang telah mengatakan pada saya bahwa kamu tengah tidur dengan pria uang bernama Alvin di dalam ruangan yang bersifat privasi di salah satu milik cafe. Aku ingin kejujuran kami, Vanya. Apa itu benar?"
Vanya tak menyangka, ia mendapatkan pertanyaan yang bersifat di luar pekerjaan dari Dewa. Ia juga tak menyangka bahwa Dewa akan mengulas masa lalu lagi.
"Alvin itu adalah lelaki yang suka dengan Emilia, begitu juga demikian dengan Emi. Apa kiranya aku gila udah tidur sama laki-laki milik sahabatku?"
Apa-apaan ini? Bisa-bisanya Dewa menuduhnya dengan cara halus seperti itu? Memangnya siapa Dewa?
Dengan tenang dan suara yang terbilang pelan, Vanya menegaskan kenyataannya pada Dewa.
"Baiklah. itu artinya, ada seseorang yang berusaha menjebak kamu, juga telah memfitnah kamu".
Dewa menatap lekat-lekat netra mata wanita yang kini masih sangat di cintainya itu. Ada getaran yang bersifat sama yang hingga kini masih terasa. Dewa tak paham, mengapa rasa itu masih tetap dimilikinya. Bukankah keberadaan Anika sudah lebih dari cukup dari apa yang ia butuhkan. Dewa sangat menyayangkan apa yang pernah ia lakukan, termasuk keegoisannya dalam memanfaatkan Anika untuk membalas Vanya.
"Apa maksudnya ini?"
"Aku sengaja ingin membalas kamu, dengan cara menikahi Anika. Ketika itu, seseorang telah mengatakan padaku bahwa kau telah tidur dengan pria yang bernama Alvin itu. Maafkan aku, Vanya. Maaf"
"Maaf saja tak cukup untuk menebus dosa kamu. Aku sakit, wa. Hatiku sakit". Vanya sangat syok ketika mendengar apa yang baru saja Dewa katakan. Putri sulung Kenan itu tak menyangka ia akan menjadi korban fitnah, juga tak menyangka bahwa Dewa terpengaruh oleh fitnah itu. sungguh memilukan.
"Aku tau, Vanya, maafku tak bisa menebus semua dosa-dosa ku, aku mohon hukum aku setidaknya untuk mengurangi beban dosa ini, Vanya. Bantu aku"
Baik Vanya maupun Dewa sama-sama menangis di dalam ruangan Dewa. Ada sebuah rasa rindu dan cinta yang meletup-letup diantara keduanya.
**
Selamat beraktifitas buat semua. Istia kembali dengan membawa kabar baik, nih. Untuk sementara, novel yang ada di NT, akan Tia lanjutkan ya. mohon untuk tetap support Tia biar semangat nulisnya. insya Allah, setiap hari akan update.
__ADS_1
terimakasih buat semua. aku rindu kalian😘❤️