
Kania baru saja terpejam malam ini, ketika rungunya menangkap suara gaduh di depan rumahnya. Kania merutuk dalam hati. Ada apa ini sebenarnya? Tidak bisakah orang-orang itu membiarkan Kania terlelap dan menikmati istirahatnya sebentar saja?
Dengan kesal, Kania lantas bangkit dan menuju ruang tamu. Matanya menyipit dan berusaha mencerna apa maksud semua ini. Dan Kania semakin berdebar tidak karuan, ketika netra matanya menangkap sosok bunda Niko, yang tergesa menurunkan makanan-makanan berwadah kotakan-kotakan dari dalam mobil box.
"Kan.... kamu sehat?" Anjani datang untuk pertama kalinya, Bibirnya melengkung indah ketika sedang bersitatap dengan Kania yang menatapnya datar. Senyum tulusnya terukir mempesona.
Sayang seribu sayang, Kania terasa muak meski hanya menatap wajah Anjani.
Kalau dulu Kania akan bersimpati dan berkelakuan baik di depan Anjani, tali tidak untuk sekarang. Ia merasa Anjani sama seperti keluarganya yang lain. Meski setahun lalu, Anjani tidak mendiamkannya.
"Ya".
Satu kata Kania, membuat senyum Anjani lenyap. Nada bicaranya sarat akan jarak yang terbentang nyata pada keduanya. Hati Anjani seolah retak dan siap pecah berserakan kapan saja. Kania yang sekarang, adalah Kania yang dingin dan berjarak.
Baru akan membuka mulutnya, Nawal menghampiri dan menatap mereka dengan cemas. Menurut Nawal, dengan karakter Anjani yang lemah lembut seperti ini, tidak menutup kemungkinan Anjani akan terluka dengan ucapan putri kandungnya yang pedas. Terlebih, saat ini Kania masih belum bisa memaafkan kesalahan keluarganya.
"Nja, Vanya nyariin kamu, tuh di depan sama papanya".
Ucap Nawal dengan di sertai senyum kaku. Kania yang menyadari bahwa Nawal kini melindungi Anjani dari dirinya, semakin membuat dirinya yakin, bahwa dirinya tak seberharga Anjani di matanya. Kania kian muak.
Ketika Anjani berbalik dan keluar, saat itu juga Kania membelokkan tubuhnya menuju halaman, mengabaikan Nawal, Niko, Fandy, Anja, dan Kenan. Langkah Kania perlahan , namun pasti menghampiri bunda Niko. Sosok wanita yang di jadikan panutan oleh Kania. Meski sayangnya, Kania tidak mampu menjadi wanita se-sabar bunda. Kania akui, Kania payah dalam hal kesabaran.
"Bunda". Kania berhambur memeluk mertuanya yang penyayang itu. Begitu juga ayah yang nampaknya sudah rindu pada Fatih, pria itu menghampiri menantu kesayangannya dengan menggendong Fatih.
Suasana haru dan rindu menyelimuti mereka.
"Sayang, anak bunda kok kucel sih? Baru bangun apa? Baru aja selesai Maghrib loh ini".
Tanya bunda terheran-heran melihat rambut Kania sedikit berantakan dan hanya di ikat asal. Senyumnya meneduhkan.
__ADS_1
"Iya, bunda.... Kania lelah tadi." Lalu mata Kania beralih menatap ayah.
"Ayah apa kabar? Semoga sehat selalu".
"Ayah sehat, nak. Kamu kok kurusan, sih? Ayah bersyukur, kalau akhirnya kamu mau kembali sama Niko. Ayah harap, kejadian setahun lalu, bisa menjadi pelajaran untuk kalian agar saling mengerti satu sama lain".
Kania nampak mengerutkan keningnya ketika mendengar penuturan ayah. Bagaimana mungkin ia mau kembali pada Niko? Bukan. Bahkan Kania tidak bicara apapun pada Niko mengenai hubungan mereka. Sepertinya, ada kesalah pahaman di sini.
"Tunggu tunggu.... maksud ayah, apa?".
Kania bertanya tak mengerti. Niki yang menyadari pun segera turun tangan tak memberi kesempatan kedua orag tuanya untuk menjawab.
"Sayang, udah yuk masuk dulu. Nggak enak bicara di luar. Kita ngomong berdua".
Nko menyeret Kania setengah memaksa menuju ke dalam rumah. Pria itu sedikit sangsi dengan tindakan yang di ambilnya ini.
**
"Mas, Kania sama suaminya debatin apa, ya?"
Tanya Anjani lada Kenan, dengan pandangan tak teralih dari arah keberadaan Kenan dan Kania.
"Biarkan saja, toh nanti mereka bisa selesaikan masalah mereka sendiri. Aku nggak berani ikut campur. Kania mendadak tempramen setelah pergi setahun lalu."
Ucap Kenan. Sejujurnya, kakak Kania itu juga penasaran. Namun ia takut salah kalau-kalau justru nanti ia mencari tau apa yang Kania dan Niko perdebatkan.
Di kamar, Kania dan Niko saling tatap. Kania yang menatap tajam Niko, namun berbeda dengan Niko yang menatap Kania penuh kasih. Ada banyak harapan dan perasaan yang tak bisa Niko deklarasikan melalui kata-kata. Ia akan menerima bagaimana pun amarah istrinya itu.
"Aku mau rujuk, sayang. Aku mohon. Perlahan, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku perlahan sama kamu. Aku mohon".
__ADS_1
Niki memelas di depan Kania. Meski ia sendiri merasa kesalahannya terlalu berat, namun Niko perlu mencoba untuk memperbaiki diri. Toh itu tak ada salahnya sama sekali.
"Kamu mau rujuk tanpa mau tanya dulu sama aku?!?"
Kania menatap tajam Niko. Ia merasa Niko tak memberinya kesempatan untuk memutuskan pilihannya sendiri.
"Aku bukan hanya tanya, kemarin-kemarin aku udah meminta sama kamu. Aku mau memperbaiki semua, apa itu salah. Aku mohon kali ini dengan kesediaanmu. Sebentar lagi, mungkin ketua RT dan RW setempat akan datang bersama kyai. Aku mohon, sayang. Aku udah terlanjur undang mereka".
"Kamu kenapa, sih? Harus banget ya rujuk malam ini?
Pokonya aku nggak mau. Titik!!"
"Sayang... aku mohon.... Apapun yang kamu minta, hukuman apapun yang akan kamu berikan, aku bersedia menerima dengan senang hati. Asal kamu mau kita rujuk malam ini".
Kania menatap garang Niko. Sambil otaknya berputar mencari sekiranya hukuman apa yang pantas untuk Niko terima.
"Oke. Aku mau rujuk sama kamu, dengan satu syarat."
"Apa? Apa itu sayang? Apapun untuk kamu".
Niko menatap Kania dengan mata yang berbinar-binar. Berbeda dengan Kania yang menatapnya penuh kelicikan.
"Aku mau rujuk. Tapi jangan pernah menyentuhku selama setahun. TITIK!!".
Kalimat Kania terucap dengan suara kemenangan. Sedang Niko mendadak pucat.
"Sayang, apa nggak bisa nego lagi?".
"Terima syarat, atau nggak usah rujuk sama sekali!!"
__ADS_1
Niko mendadak tubuhnya menjadi lemas.
🍁🍁🍁