PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 36


__ADS_3

"Kamu Rama?" Tanya Anika pada sesosok lelaki tinggi tegap dengan dadanya yang bidang. Cukup tampan, dan itu tak mempengaruhi Anika sama sekali.


"Iya, Bu. Anda Bu Nika?" Tanya anak pak Agus yang kini telah tiba di kediaman Niko.


"Iya. Panggil aku mbak, atau apa lah, asal jangan ibu. Aku nggak tua-tua amat meski anak satu, asal kamu tahu itu." Ungkap Anika kemudian.


"Maaf, Mbak. Saya . . . bingung mau panggil apa." Rama tersenyum ramah pada Anika yang hanya mengangguk.


"Nggak apa-apa. Ayo masuk. Aku perlu ngajak kamu untuk bicara agar kamu ngerti dengan kemauan saya, dan tentang posisi kamu." Anika masuk, menggiring Rama menuju ke ruang tamu.


"Aku sengaja minta pak Agus mengirim kamu untuk saya pekerjakan. Sebenarnya, kata papaku kamu bisa aja dimasukin ke kafe papaku, karena ada posisi yang kosong disana. Cuman ya, aku butuh sopir setelah ini, sekaligus asisten pribadi. Jadi, aku putuskan untuk kamu jadi sopir dan Aspri ku aja. Masalah gaji, aku akan gaji kamu lebih besar daripada di kafe papa. Nanti malam kita bahas masalah gaji." ungkap Anika.


"Iya, Bu. Ibu kerja di kantor?" tanya Rama. Lelaki itu tampak supel, ramah dan menyenangkan.


"Bukan perusahaan besar, aku akan bantu om Kenan, pamanku, mengurus perkebunan yang membutuhkan seseorang. Perkebunan warisan Oma dan opa dulu. Oh ya, hari ini kalau kamu kelelahan karena usai perjalanan jauh, kamu bisa istirahat dulu dan mulai kerja besok. Untuk hari ini, aku akan mengendarai mobilku sendiri. Kamu juga bisa tinggal di paviliun sebelah." Ucap Anika panjang lebar.

__ADS_1


Pembicaraan yang lebih di dominasi oleh Anika itu, membuat Rama banyak diam dan mengangguk. Di mata Rama, Anika seperti sosok yang lemah lembut, tapi manja. Biasalah, menurutnya, orang kaya memang kebanyakan manja. Begitulah sudut pandang seorang Rama.


"Iya, mbak. Terima kasih sudah memberi saya pekerjaan sekaligus tumpangan tempat tinggal. Tapi, kalau boleh, saya mau bekerja hari ini juga. Perjalanan jauh juga naik pesawat, nggak capek-capek amat. Saya siap nganter mbak Nika." Usul Rama.


"Baiklah, kalau gitu. Yang penting aku nggak maksa dan nggak menekan kamu. Papaku udah berangkat kerja, ada kakak laki-lakiku juga di rumah ini. Nanti kamu santai aja, kalau butuh apa-apa, jangan sungkan." Ucap Anika.


"Baik, mbak."


"Ya udah, ayo aku antar ke paviliun sebelah." Ucap Anika sambil bangkit dan berlalu pergi menuju paviliun.


Baru saja Anika tiba di pintu, ia melihat mobil Kenan memasuki pekarangan rumahnya, dan memarkirkannya ke dalam garasi.


"Om ingin ketemu kamu juga. Dia . . . siapa?" Tanya Kenan dengan pandangan tertuju pada Rama.


"Rama, anaknya pak Agus, sopir Anika saat di Jakarta. Sekarang dia yang bakalan jadi sopir Anika." Jawab Nika.

__ADS_1


"Ini Anika mau berangkat ke kantor perkebunan, Anika pikir om Ken udah berangkat."


"Om Ken sengaja kesini dulu, Nika. Sekalian mau ngasih ini, kamu bawa ini, nanti kita ketemu disana. Atau kamu mau bareng sama om Ken?" Tanya Kenan. Tangannya mengulurkan sebuah map pada Anika.


"Aku sama Rama, om. Jangan khawatir." Ungkap Anika sambil menerima berkas dari Kenan.


Kenan mengangguk. Lelaki itu sebenarnya sedikit terkejut tadi. Beberapa hari lalu Anika yang begitu murka pada putrinya, kini telah berubah, seolah tidak terjadi apa-apa. Tentu saja hal ini membuat Kenan takjub sekaligus kagum pada Nika. Sisi buruk dari Nika hanya, dia terlalu manja.


"Ya udah, om kenan berangkat duluan. Nanti, kamu akan om kenalkan sama pengurus perkebunan." Pamit Kenan.


"Baik, om." Jawab Anika.


Dari sudut taman rumah, ada Kania yang tengah menggendong Vio. Kania rupanya tak kunjung pergi, karena begitu penasaran pada sosok yang namanya Rama.


'Sepertinya Rama memang pribadi yang baik, gelagatnya nggak menunjukkan dia pribadi yang nggak baik. Semoga aja, setelah ini Anika bisa melupakan Dewa dan lebih fokus ke pekerjaannya. Setidaknya, ada Rama yang akan bantu dia nanti.'

__ADS_1


Bisik hati Kania. Sebagai ibu, Kania hanya ingin putrinya bangkit dari keterpurukannya.


**


__ADS_2