PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 26


__ADS_3

Malam kian larut. Detak jarum jam kian terdengar jelas seolah seperti memekakkan telinga. Rembulan kian terlihat terang seiring dengan bentuknya yang bulat sempurna.


Di kediaman Niko, Niko mengitari seisi rumah demi memastikan bahwa Kania baik-baik saja.


Sayangnya, hasilnya nihil. Dari sekian banyak sudut yang seringkali di jadikan tempat untuk Kania menyendiri, bahkan mendominasi waktunya u tuk menangi, tak satupun yang kini menampakkan keberadaan istrinya itu.


Dan entah untuk yang ke berapa kalinya, Niko memasuki kamar Fatih. Melihat sekali lagi demi memastikan bahwa yang tidur di sisi putranya adalah mbak Sari, pengasuh Fatih.


Panik tiba-tiba melanda. Niko tak lagi memikirkan waktu yang telah masuk pada dini hari. Ia segera menelepon mertuanya. Mungkin saja, Kania ada di sana saat ini.


"Hallo, pa. Pa, apa mamanya Fatih di sana?"


Cecar Niko dengan suara panik nya. Nafasnya memburu tanpa lagi merasa segan pada ayah mertuanya. Yang ia ingin tau adalah, keadaan Kania yang membuatnya khawatir.


"Nggak ada. Sama sekali nggak ada Kania kemari. Dia.... udah sekitar semingguan lebih nggak pernah lagi ke sini".


Jawab Fandy yang tiba-tiba bangkit dan ikutan panik, saat mendengar suara Niko yang bergetar seiring nafasnya yang kian memburu.


"Kania nggak ada di rumah, pa. Sewaktu jam sembilan tadi, dia masih nonton televisi dan Niko ke ruang kerja. Tapi sekarang mamanya Fatih nggak ada".


"Jangan panik. Papa ke sana sekarang. Sebentar, papa bangunin Kenan dulu."


"Iya, pa. Makasih".


Sambungan telepon terputus. Niko kemudian beranjak menuju kamarnya. Entah kenapa, tiba-tiba Niko terdorong untuk memeriksa isi almari Kania di dalam walk in closed.


Dan baju-baju bagus Kania masih tertata rapi di sana. Namun, ada satu saf yang isinya kosong. Sama sekali tak ada sepotong pun. Begitu juga tiga kotak besar koleksi perhiasan Kania. Semua raib serta seluruh harta benda milik Kania sendiri. Hanya saja, Niko melihat ponsel dan semua kartu ATM dan kartu kredit Kania yang tersisa.


Mengetahui fakta ini, jantung Niko terasa berdentum keras.


'Kamu pergi, Kania.... Nggak salah lagi. Kamu pasti pergi. Astaga..... kenapa aku bisa kecolongan gini, sih? aku bodoh. Aku bodoh'

__ADS_1


Umpat Niko yang di tujukan untuk dirinya sendiri. Pria satu anak itu lantas bergegas untuk keluar rumah dan menuju gerbang depan untuk mencapai pos security. Di sana, pak Kadir sang security masih tetap terjaga dengan segelas kopi dan sepiring pisang goreng.


"Pak Kadir, apa pak Kadir lihat ibu keluar rumah?"


Tanya Niko tak sabar. Raut wajahnya terlihat jelas sangat panik.


"Sama sekali Ndak kelihatan, pak. Terakhir saya lihat ibu, tadi sore pas gendong den Fatih. Setelahnya, saya nggak liat ibu keluar".


Ucap pak Kadir yakin. Nafas Niko kian tercekat.


"Tapi ibu nggak ada di rumah, pak. Nggak ada di dalem. Baju-baju nya bahkan satu saf nggak ada di lemari". Mata Niki kian blingsatan membayangkan kondisi tubuh Kania yang belakangan kurang fit, di tambah lagi sepertinya Kania terlihat hancur dan bisa-bisa, ia bunuh diri.


Niko menggelengkan kepalanya tegas. Menghalau segala kemungkinan buruk yang bercokol di otaknya.


Kania adalah wanita yang nekat dan tak kenal takut. Niko justru takut sendiri kalau-kalau nanti Kania melakukan aksi nekat.


"Tapi kan, kondisi ibu sepertinya kurang sehat, pak. Apa iya, ibu bisa keluar rumah, tanpa pamit bapak lagi".


Pak Kadir tau, bahwa hubungan rumah tangga majikannya ini, sedang tidak baik-baik saja.


Pinta Niko kemudian berjalan menyusuri lorong samping rumahnya, menuju halaman belakang. Mungkin saja, Kania pergi dengan melewati pintu belakang.


"Pak. Pintu itu terbuka".


Tunjuk pak Kadir dengan intonasi suara yang tinggi. Mata pria paruh baya itu tajam melihat ke sisi pintu belakang yang terbuka.


"Kalau memang ibu benar-benar kabut, pasti lewat sini".


Tunjuk pak Kadir tanpa ragu lagi.


"Astaga Kania......"

__ADS_1


Niko menahan suaranya yang terdengar sangat frustasi. Lantas ia berlari mengecek pintu dan menjambak rambutnya sendiri dengan kasar.


Dan Niko merosot lemas di tengah pintu ketika menyadari, bahwa Kania juga meninggalkan sandal pembelian Niko tempo hari, tepat di sisi pintu.


Hati Niko seolah tertancap anak panah beracun seketika.


"Di mana kamu, Kania?".


lirihnya.


Pak Kadir yang melihat kekacauan Niko, mau tak mau ikut prihatin akan kejadian yang menimpa rumah tangga majikannya ini.


**


**


Kania masih terisak pelan sepanjang perjalanan. Hanya satu bayangan yang terus mengekor di hati dan pikiran Kania. Fatih. Bayangan anak itu seolah neggan untuk tinggal. Mengikuti Kania kemanapun Kania lergi. Sila yang menjadi penolong Kania, mau tak mau ikut prihatin.


"Lo jangan nangis terus kalau memang ini keputusan yang udah final. Lo sendiri kan, yang nggak mau bawa Fatih?". Celetuk Sila tiba-tiba.


"Gue mau kehidupan Fatih tak kurang apapun, Sil. Dia butuh kehidupan yang layak dan berkecukupan. Ibu mana yang mau melihat anaknya menderita bersamanya?"


Sila hanya manggut-manggut. Merasa bahwa pemikiran Kania kali ini tak sepenuhnya salah.


"Terus, sekarang kita harus gimana?"


Tanya Sila, mengedarkan pandangannya pada seluruh penumpang kereta, yang rupanya, mereka telah terlelap.


"Pergi kemanapun, dan kita akan pindah-pindah, nanti."


"Untuk apa?" Tanya Sila tak mengerti.

__ADS_1


"Untuk mengelabui keluargaku dan siapa pun yang mencariku. Aku nggak mau di ketemukan, setidaknya untuk saat ini".


🍁🍁🍁


__ADS_2