PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 39


__ADS_3

Kania menatap pria yang kembali menjadi suaminya ini, dengan tatapan datar. Namun hatinya bergejolak dan penuh dengan rasa yang begitu sulit Kania artikan. Antara bahagia karena ia kembali pada Niko, namun juga rasa sedih ketika mengingat ketika setahun lalu ia di abaikan.


Kini, Kania memilih untuk tetap tinggal di desa, rumah yang memberikannya ketenangan dan orang-orang tulus di sekitarnya. Niko tak keberatan dan bersedia bila harus bolak-balik ke kota dan di desa seminggu sekali.


Setelah acara rujuk mereka, kini hanya ada Kania dan Niko di kamar. Baik Fatih dan Anika, sedang berada di ruang depan bersama para orang tua.


"Katakan, kenapa kamu masih ngotot mau balik sama aku? Bukankah aku ini perempuan jahat dan memiliki sisi lain pada diriku yang buruk ini?"


Kania bersuara.


"Aku cinta sama kamu, Kania. Sampai kapanpun. Kamu tau? Di malam ketika kamu pergi meninggalkan aku dan Fatih, malam itu justru aku memutuskan untuk menyudahi semua sikap buruk ku yang acuh dan abai ke kamu. Tapi ternyata.... terlambat."


Apa yang Niko katakan, persis seperti apa yang Fandy katakan. Suaranya lirih dan tatapannya melembut. Mengunci tatapan mata Kania yang hendak berpaling.


"Aku capek, mas. Aku capek selama itu di abaikan. Andai kamu ada di posisi ku, apa kamu akan bertahan?


Aku tau. Aku tau aku salah karena sudah membuat Dira menderita. Tapi itu semua aku lakukan demi keutuhan keluarga besarku. Seandainya, seandainya aku membiarkan Dira berada di penjara, dia nggak akan jera gitu aja. Siapa yang bisa nebak dan bisa jamin, kalau setelah dia bebas, dia akan menghentikan niat jahatnya? Bukankah bisa jadi dia akan semakin menjadi-jadi nantinya?

__ADS_1


Di balik sikapku yang tak berperikemanusiaan, aku memiliki alasan mutlaq di baliknya. Akan selalu ada sebab akibat di balik semua sikap buruk seseorang. Pun sebelum aku melakukannya, aku sudah memikirkan. Andai.... andai saat itu aku bertanya dan berunding sama kamu, apa mungkin kamu akan setuju dengan semua tindakanku? Apa kamu nggak akan melarang keras keputusan yang aku buat?


Aku sayang, sayang banget sama kamu. Aku terlalu takut kehilangan kamu kalau sampai kamu tau apa rencana ku, mas. Bukannya aku bisa bertahan sama kamu, tapi kamu yang ada justru abai dan acuh denganku. Siapa yang bisa tahan di perlakukan demikian? Istri gila mana yang rela kehilangan suaminya begitu saja?"


Suara Kania berubah lirih dan lemah di ujung kalimat panjangnya. Tatapan yang tadinya datar, bahkan terkadang berkilat penuh amarah, kini tak lagi ada. yang ada hanya tatapan sendu dan penuh pemujaan. Biarlah, Kania hanya ingn menumpahkan uneg-uneg yang selama ini di pendamnya.


Di tempatnya, Niko terhenyak penuh keterkejutan. Darahnya seolah berhenti mengalir dan rongga dadanya terasa sesak.


Siapa sangka? Di balik sikap barbar dan kekanakan yang Kania miliki, tersimpan pemikiran dalam dan terkonsep dari awal. Justru di sinilah, Niko dan keluarga Mahardhika yang memiliki pemikiran dangkal dan pendek.


"Sekarang aku tanya, apa keuntungan dari sikap kita yang saling menyiksa diri? Kamu terluka, begitu juga dengan aku yang terluka karena kamu acuhkan. Bohong. Bohong sekali kalau kamu mengaku tak terluka sama sekali saat mengabaikanku. Meski kamu marah, kamu ngambek dan kamu nggak ada niatan memperhatikanku, aku tau di balik itu semua kamu juga merasakan sakit." Kania melanjutkan.


"Ya.... aku tau. Tentu aja aku tau. Matamu, tatapanmu, dan isyarat raut wajahmu. Semua nya menunjukkan bagaimana terlukanya kamu. Jangan kamu pikir aku wanita bodoh dan lemah lembut seperti mbak Anja. Mata bukan hanya berfungsi untuk melihat, melainkan juga sebagai jendela hati yang bisa menampakkan bagaimana seseorang berperasaan baik buruknya. Meski gelagat tubuh berkata lain, tali mata dan kilatannya nggak akan bohong. Berapa tahun kita hidup bersama? Nyatanya kamu nggak mengenaliku, di sini, hanya aku yang tau dan paham bagaimana tentang kamu.


Apa kah semua itu terjadi karena dulu aku yang ngejar kamu lebih dulu? Katakan, katakan kalau kamu memang nggak ada rasa sama aku!!"


Di akhir kalimatnya, Kania berteriak dan tak mampu menyembunyikan beban di hatinya. Niki tak tahan dan mulai membawa Kania dalam dekapan hangatnya. Pria itu tak mampu berkata-kata. Yang ia bisa hanyalah, menjelaskan bagai mana cintanya begitu besar lewat dekap hangat untuk Kania yang kini mulai terisak.

__ADS_1


"Aku nggak akan lagi memaksa kalau... kalau kamu.... masih nggak mencintaiku, mas".


"Ssst...... sudah sudah. Jangan nangis dan luapkan semua amarah yang kamu pendam. Kamu berhak marah. Aku pantas mendapatkannya. Tapi aku mohon, jangan lagi bilang kalau aku nggak juga mencintaimu dari sekian tahun pernikahan kita. Kalau aku nggak mencintaimu, aku nggak akan pernah berpikiran untuk mencarimu demi keutuhan keluarga kecil kita.


Aku minta maaf, oke?"


"Akan aku coba memaafkan, tapi sepertinya aku nggak bisa menerima kamu sepenuhnya dan waktu dekat".


Niko paham dan meski hatinya di Landa keberatan, ia akan mencoba sabar dan mengerti keinginan istrinya.


"Kita bisa berteman lebih dulu kalau gitu."


Ucap Niko tanpa melepaskan pelukannya. Kania yang mendengar kalimat pengertian dari suaminya, sontak mendongak dan menatap suaminya.


"Kenapa?".


"Karena aku mencintai mu dan aku sanggup menunggu kesiapan mu menerimaku, meski itu seribu tahun lamanya".

__ADS_1


🍁🍁🍁


Aku kok rada-rada baper ama kalimat Kania, ya??πŸ˜„πŸ€£ tapi juga mual sama kalimat terakhirnya Niko..... bikin mau muntah kalau dengar gombalnyaπŸ‘»πŸ‘»


__ADS_2