
"Sore hari nanti bersiaplah, aku akan mengajakmu dan Vio berjalan-jalan ke mall." Suara Dewa muncul dari arah pintu menuju meja makan. Anika terheran-heran. Kalau Dewa berniat menyogok dirinya dan Vio setelah pengakuan cintanya terhadap Vanya, bisa membuat hati Anika kembali semula, Dewa salah. Nyatanya Anika serasa kian merasakan pedih di hatinya.
Berjalan-jalan ke mall tentu saja tidak bisa menjadi barometer kekecewaan Anika perlahan surut. Yang ada Anika tentu saja merasa kian sakit melihat Dewa merasa bisa membeli kebahagiaannya dengan jalan-jalan ke mall. Tidak. Anika tidak mau menerima ajakan suaminya. Suami yang begitu Nika cintai.
Bum surut rasa kecewa Anika, juga belum sempat Nika menjawab kalimat Dewa, Elvio datang dengan jalan tertatih menghampiri keduanya. Dewa sontak menundukkan tubuhnya demi bisa meraih dan membawa putri semata wayangnya itu ke atas pangkuannya.
"Sayang, nanti Vio, mama dan papa akan pergi ke mall sore nanti asal Vio tidak cerewet dan merepotkan mama, ya. Papa janji, nanti papa beliin mainan buat Vio. Vio jangan nakal, ya? Jagain mama di rumah selama papa kerja".
Suara Dewa lembut, namun hati Anika seolah tak tersentuh sama sekali.
"Papapa.....papapapa", Celoteh Vio menjadi sebuah vitamin tersendiri bagi Dewa maupun Nika.
"Ya udah, sekarang Vio turun dan main sama mbak Yuni, ya. Inget pesan papa, jangan nakal dan jagain mama di rumah". Sambung dewa lagi yang tentu tak mendapat jawaban dari Vio. Gadis kecil berusia satu tahun itu hanya tersenyum dan sesekali berceloteh tak jelas sembari menghampiri mbak Yuni, sang baby sitter.
Sarapan pagi kali ini, di dominasi oleh keheningan yang melingkupi keluarga kecil Dewa Sinatra. Dewa tau, istrinya itu tengah marah dan kecewa padanya. Dewa tau, istrinya itu membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran. Tapi tidak demikian dengan Anika yang merasa, Dewa mengabaikannya. Kesalah pahaman kecil inilah yang tentu membuat keduanya tak kunjung menemukan jalan keluar
"Nika, nanti......."
"Jangan bicara saat makan, mas. Nanti kamu tersedak".
Dengan cepat Nika menyela kalimat suaminya. Nada suaranya dingin dan tak menunjukkan keramahan sama sekali.
"Aku seneng kamu cemburu. Itu artinya....."
"Seneng aku cemburu, artinya memang kamu masih berharap kembali dengan mbak Vanya?"
"Aku belum selesai bicara, Anika. Beri aku kesempatan".
Sendok yang sedari tadi Anika pakai, kini di letakkan begitu saja oleh Anika setelah mendengar kalimat Dewa.
__ADS_1
"Ya udah. kamu ngomong".
Ibu Vio itu lantas meneguk minumannya hingga tandas. Kemudian menatap tajam ke arah suaminya.
"Jangan lagi membicarakan Vanya, oke? Dia hanya masa lalu".
"Masa lalu yang kamu harapkan kembali kehadirannya?"
Dewa menatap nanar ke arah istrinya. Sesungguhnya, kalimat Anika baru saja membuat Dewa terluka egonya sebagai pria, sekaligus kepala keluarga. Meski bila boleh Dewa jujur, ia memang mengharapkan Vanya kembali. Sebut saja Dewa itu si brengsek. Tapi Dewa tak keberatan mendengarnya.
"Ini masih pagi, Nika. Tolong jangan pancing emosiku. Aku mau berangkat kerja". Dewa berkata lembut. Namun tidak demikian dengan tatapan Anika yang seolah menghunus tajam.
Anika bangkit berdiri dan menunjuk ke arah Dewa.
"Kamu yang memulai, mas. Kamu yang udah menjadikanku hanya sebagai pelampiasan!!"
Hilang sudah kesabaran Nika.
"Kalau kamu ngerasa nggak enak, kenapa kamu melakukan hal itu ke aku, mas? Kenapa kamu cuma menjadikan aku pelarianmu dari mbak Vanya?"
Anika terisak-isak. Sedang Dewa menghela nafas nya gusar.
Inilah perbedaan yang sangat kentara antara Anika dan Vanya, meski mereka sama-sama berhari lembut. Bila Anika suka meledak-ledak bila marah, sulit mengendalikan emosi, berbeda dengan Vanya yang selalu tenang dan mampu menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin.
"Aku berangkat kerja, jaga dirimu baik-baik di rumah".
Ungkap Dewa lirih, setelah ia meneguk air minumnya hingga tandas. Melihat hidangan di meja makan pagi ini, sama sekali tak membuat selera makannya tetap ada.
Dewa sadar, dirinya bersalah karena masih mengharapkan wanita lain untuk mendampinginya. Tetapi sebisa mungkin Dewa untuk bijak menyikapi. Bukankah di antara ia dan Anika memiliki Vio? Dewa tentu saja tidak ingin semua masalahnya berpengaruh pada tumbuh kembang sang putri.
__ADS_1
**
"Makasih, sayang". Fandi berucap lembut ketika sarapan pagi ini di layani oleh putri sulungnya. Anjani yang duduk bersebelahan dengan Fandy, tersenyum kecil.
"Mama mau di ambilin apa?" Tanya Vanya.
"Apa aja sayang, mama pasti makan".
"Maaf ya, ma. Kalau disini Vanya nggak bisa masak banyak kayak di Banyuwangi."
"Nggak masalah, yang penting putri mama sehat. Oh ya, David adikmu itu tengah sibuk. Katanya selesai skripsi, dia mau mengunjungi kamu. Mungkin hanya tinggal sebulan dua bulan lagi kayaknya".
Wajah Anjani demikian sumringah. Membayangkan adik Vanya, Membuat Anjani serasa ingin berkumpul berempat seperti dulu.
"Kalau boleh papa sarankan, sebaiknya kamu resign dan kembali ke kota kelahiran kami, Vanya....
Toh dewa dan Anika sudah menetap di sini".
Ujar fandy tiba-tiba. Membuat Vanya maupun Anjani menghentikan aktifitas mereka untuk mengunyah makanan.
"Papa.... Vanya akan tetap di sini. Papa percaya sama Vanya, perlahan Vanya pasti bisa melupakan semua ini. Toh Dewa cuma masa lalu."
"Papa harap kamu menemukan lelaki yang tepat untuk mencintai kamu, nak".
Tatapan sendu, kembali Vanya lihat dari ayahnya. Entah mengapa, Vanya merasa ada yang tidak beres. terlebih, ketika Vanya harus terjebak di ruangan pria masa lalunya itu.
Kala itu........
...
__ADS_1
...