PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 32


__ADS_3

"Kania..... Niko......"


Suara Kenan mengejutkan mereka berdua.


"Ayo masuk ke dalam rumahmu, kita bicarakan baik-baik". Imbuhnya kemudian dengan suara lembut. Tak lupa, senyum hangatnya bertengger manis di bibirnya yang menawan.


"Nggak mau!! TITIK!!!!!!!!!"


Dan sifat keras kepala Kania, muncul.


Beberapa warga yang tampak ingin tau tentang dua pria yang mendatangi Kania itu -Ken&Niko-, nampak memandang Kania penuh rasa ingin tau. Berbeda dengan ketua RW setempat yang sengaja membubarkan para warga untuk kembali ke tempat masing-masing.


"Kan..... Kalau ada masalah itu, kita bicarakan baik-baik. Jangan ngambek dan main pergi aja".


Ucap Kenan lembut. Mau tak mau, Kania tersenyum miris dengan apa yang Ken katakan padanya.


Niko tak mampu berkata-kata. Matanya tak juga lepas dari sosok Anika yang masih menangis dan dalam gendongan Kania.


"Kamu pikir aku anak kecil? Yang akan ngambek dan pergi gitu aja, tanpa sebab? Aku seperti ini, karna kamu biang masalahnya".


Tanpa ragu, Kania menunjuk Kenan tepat di dahinya. Kenan terkejut. Selama hidup berdampingan sebagai saudara, Kania tak pernah sekadar dan sejarah ini. Lalu, jika Kania mampu melakukan hal ini, bukankah masalahnya tak sesederhana yang Kenan pikirkan?Yang Kenan tau, kesalahan memang terletak pada keluarganya. Tapi sedalam itukah luka yang Kania derita, hingga membuat Kania se-marah ini?


"Oke. Kalau memang aku yang salah. Aku salah. Salahkan saja. Luapkan saja amarah kamu ke aku. Aku siap. Tapi lihat Fatih, kan..... dia butuh kamu. Ini juga, kami pergi pas hamil. Kamu nggak lihat gimana kacaunya Niko, suamimu? Gimana tersiksanya dia sampai mengabaikan dirinya sendiri? Lihat......."


Kenan menunjuk ke arah Niko yang sudah menangis.


"Dia sampai kurus loh tanpa meduliin kesehatannya demi nyari kamu. Mama juga sering sakit-sakitan selepas kepergian kamu".


"Aku juga nggak punya keinginan untuk jadi anak durhaka, juga istri durhaka. Alasan kepergian ku juga di dasari bagaimana perlakuan kalian ke aku".


Meski nada bicara Kania lebih pelan dan tidak se-histeris tadi, namun Kania memendam tangisnya, menyudutkan sakitnya seorang diri jauh di dasar hati.


Nafas Kania tertahan akibat sesak yang menghimpit dadanya. Hingga wajahnya kian pucat pasi dan bibirnya membiru perlahan. Bayangannya mulai kabur dan ia roboh perlahan.


Sayup-sayup, telinganya menangkap suara Ken dan Niko yang bersahutan dan saling meneriakkan namanya.

__ADS_1


Tidak. Kania tidak sanggup hingga kegelapan mulai merenggut kesadarannya.


Kania pingsan!!


"Sayang.... Sayang bangun. Ya tuhan..... Kania sayang..... bangun".


"Kania ... dek.... bangun dek... Astaga, Niko..... dia pingsan!!"


Niko dengan sigap menangkap tubuh Kania yang rapuh dan ringkih. Dan Kenan dengan gesitnya, mencoba memegangi Anika yang sejak tadi, tak berhenti menangis.


"Ya ampun mbak Kania....."


Mbak Sri yang memang sejak tadi melihat dari dalam pagar rumahnya yang terbuat dari bambu, akhirnya berteriak dan menghampiri Kania.


"Ayo pak bantu di bawa ke dalam sana".


Pinta mbak Sri yang segera mengambil Anika perlahan dari gendongan Kania.


Setelah tubuh kurus Kania telah di baringkan di atas kasur busa depan televisi, Niko segera menghampiri mbak Sri yang mengayun-ayunkan Anika yang tak berhenti menangis sejak tadi. Sedang Kenan mencoba memberi bantuan terhadap Kania agar segera sadar, dengan mengoleskan minyak kayu putih ke bagian-bagian tertentu.


Mata dan bibir Niko bergetar ketika melihat wajah putrinya yang begitu mirip dengannya.


"Boleh, kok. Saya Sri. Panggil saja mbak Sri".


Mbak Sri tersenyum ramah.


"Silahkan".


"Terima kasih".


Dan Niko benar-benar memecahkan tangisnya dengan menciumi anaknya. Rasa bersalahnya muncul dengan tidak berperasaan, ketika di lihatnya, Anika berhenti menangis ketika mendengar Isak tangis Niko.


"Maafin papa, nak. Papa yang salah. Papa yang nggak bisa menjaga kamu dan mama mu".


Niko meraung tanpa peduli keberadaan Ken, mbak Sri, dan ketua RW setempat. Suasana haru itu kian terasa mendung ketika Ken juga tak bisa meredam rasa bersalahnya.

__ADS_1


Bukankah Kania seperti ini juga akibat ingin menolong keluarga kecil Kenan? Mengapa harus Kania se-menderita ini karena nya?


"Nik..... Ini gimana? Papa di hubungi sekarang?"


Tanya Kenan.


"Hubungi saja, mas. Papa harus ketemu dan meminta maaf sama putrinya. Kania pasti berat melaluinya seorang diri".


Suara Niko terdengar sengau dan bergetar. Tak henti-hentinya ia menggaungkan kata maaf terhadap putri kecilnya yang kini mulai nyaman berada dalam gendongannya.


Anika Humaira.


Nama yang begitu indah Kania sematkan pada putrinya.


**


**


Fandy mencoba untuk menyuapi Nawal yang tak juga kunjung makan. Kekhawatiran menyerbu hatinya ketika melihat tubuh istrinya yang kian ringkih. Dan seperti biasa, Istrinya itu semakin keras kepala ingin bertemu Kania, meski ia sudah berkata, Kania belum juga di ketemukan.


Hingga tiba-tiba, dering ponsel mengejutkannya.


Nama Kenan tertera di sana. Maka, tanpa membuat putranya menunggu lama, Fandy segera menerima panggilan.


"Ya, Ken".


"Pa, Kania udah di ketemukan. Papa bisa kesini, sekarang?".


"Apa? Ya ya..... papa akan kesana".


"Ya sudah. Ken kirim alamat nya sekarang".


"Ya. Papa akan segera kesana".


Panggilan terputus. Membuat Fandy di dera rasa tak sabar untuk menemui putri tercintanya yang sudah lama tak di jumpai nya. Tanpa dia sadari, ia tak akan mendapat perlakuan baik dari seorang putri yang pernah di abaikannya itu.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2