
Malam ini, Fandy duduk seorang diri di ruang kerjanya. Ia duduk tanpa melakukan aktifitas apapun. Pikirannya me lang lang buana jauh entah kemana. Hatinya mendadak gelisah.
Gundah gulana.
Semakin membuat Fandy kepikiran.
Kania, sebentar lagi akan menikah. Mau tak mau ia harus melepas sang putri. Putri yang seperti baru kemarin bergelayut manja di lengannya.
Nawal masuk ke ruang kerja suaminya tanpa mengetuk pintu. Senyum dan kelembutannya membuat Fandy teralihkan pikirannya.
"Papa kok ngelamun disini? Ayo keluar." ajak Nawal pada suaminya. Yang di ajak hanya tersenyum simpul.
"Papa lagi pengen sendirian aja, ma".
"Apa sih yang papa pikirin, hm?" Tanya Nawal mendekat. Dari raut wajahnya, sudah bisa di pastikan bahwa Fandy tengah memikirkan sesuatu.
"Papa mikirin putri kita, ma. Nggak kerasa Kania udah mau nikah", hanya itu yang Fandy ucapkan. Nawal menghela nafasnya berat.
Sebenarnya, Nawal juga memikirkan hal yang sama. Hanya saja ia masih bisa bersikap biasa saja di depan anak-anaknya.
Bukan perihal Niko orang tak punya, tapi lebih cenderung ke usia Kania yang masih lah sangat muda. Nawal dan Fandy hanya berpikir, sanggupkah mereka mengimbangi satu sama lain? Apa lagi, Kania masih lah sangat labil.
"Kania yang menginginkannya, pa. Kita bisa apa? Ya udah lah pa jangan terlalu di pikirin. Di jalani aja seperti air mengalir. Kalau ini yang terbaik dan yang di inginkan Kania, kita harus dukung.".
"Mama yakin?", Tanya Fandy dengan memicingkan matanya ke arah sang istri.
__ADS_1
"Mau nggak yakin? Sementara sembilan hari lagi pernikahan akan di gelar?" Fandy terkekeh. Apa yang di katakan istrinya memang ada benarnya juga.
Di saat yang bersamaan, Kania datang dengan senyum mengembang. Fandy dan Nawal tersenyum menyambut kedatangan putrinya ini.
"Mama.... papa.... Kok pada ngumpul disini sih?" Kania datang dengan senyum manis menghiasi bibir indahnya. "Apa ada masalah?", tanya nya tanpa rasa bersalah. Ia segera menuju sofa di ruang kerja Fandy. Mendaratkan tubuhnya di sana dengan menebar senyum ke arah sang mama dan papa.
"Ya. Masalah terbesarnya, kamu!". Nawal berbicara dengan nada sinis. Namun ketahuilah bahwa itu tidaklah sungguh-sungguh. Kania hanya tersenyum lebar menyaksikan respon mamanya yang seperti itu.
"Kenapa aku dipikirin sih, ma? Santai aja kali. Aku aja happy kok. Apalagi, bentar lagi aku mau nikah. Mama bakal punya mantu seganteng mas Niko, loh", Kelakarnya dengan senyum lebar. Nawal hanya mendengus sebal karna tingkah sang putri ini.
"Kania, mama heran deh sama kamu. Kebanyakan anak di luar sana pada gila belajar dan merangkai cira-cita masa depan. Lah ini kamu malah kebelet nikah. Apa sih yang kamu mau dari sebuah pernikahan?", tanya Nawal.
Nawal sebal sendiri karna sang putri selalu saja memiliki pola pikir yang berbeda dari remaja-remaja pada umumnya.
"Kamu bisa punya anak. Tapi kan setelah kamu selesai kuliah. Lagi pula kamu ini..... Tau ah. Bingung mama ngomongnya".
"Kelamaan itu mah kalau nunggu harus selesai kuliah dulu. Jangan di bikin pusing, ma. Di jalanin aja. Aku udah siap lahir batin kok untuk jadi istri. Nanti kan Kania bisa belajar dari mama dan kak Anja".
"Iya Kania. udah ya jangan di lanjut lagi debatnya. Sekarang kamu jujur deh sama papa, Kenapa kamu cari papa Sampai ke ruang kerja segala? Biasanya kamu selalu ada maunya kalau nyari papa seperti ini", Tanya Fandy dengan nada lembut.
Sebengal-bengalnya Kania, Fandy tetaplah tidak pernah memperlakukan Kania dengan kasar. Baginya, Kania tetaplah putri yang menggemaskan se cerewet apapun dia.
"Pa, aku mau haneymoon...... di Bali. Boleh ya?", tanyanya dengan memohon seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Nawal yang juga duduk tak jauh darinya melotot ke arah Kania.
Bayangkan saja, gaun pernikahan saja belum selesai di buat karna baru saja Nawal memesannya. Dan kini Kania sudah meminta honeymoon. Ini benar-benar gila.
__ADS_1
Fandy bingung harus menanggapi bagaimana. Baru kemaren kania membuat ulah gagal kuliah ke Australia yang membuat Fandy merogoh uang simpanannya, kini Kania kembali meminta untuk bulan madu ke Bali.
"Kania, Apa nggak sebaiknya di tunda dulu bulan madunya? Bukannya papa keberatan, Hanya saja kayaknya jangan dulu deh".
"Papa kan banyak duitnya, pah. Kalau bukan Kania anak papa yang cantik ini, siapa dong bakal ngabisin? Lagian kan papa nyari duit buat siapa coba kalau nggak buat anak? Ya kan pa?", Kelakarnya yang Ngan wajah tanpa dosa dan menyebalkan di mata Nawal.
Sungguh Nawal merasa tekanan darah nya naik saat itu juga. Bisa-bisanya Kania membantah ucapan suaminya yang notabene nya adalah kepala keluarga? Nawal benar-benar tak habis pikir.
"KANIA....!!!" Nawal berteriak ke arah putrinya. Bagaimana mungkin Kania bisa menyebalkan seperti ini?
Fandy yang ada di kursi kebesarannya hanya memijit pelipisnya yang terasa pening. Bingung harus menjawab Kania seperti apa. Berdebat dengan Kania jelas bukan solusi yang tepat. Yang ada Fandy akan terpojok sendiri karna Kania memang type anak yang mau menang sendiri.
"Keluar kamu! Kamu nggak dengar apa yang papa bilang? Bisa-bisanya ya mama punya anak kayak kamu?". Nawal sudah emosi. Entahlah bagaimana harus mengatasi kania, Nawal bingung sendiri.
"Kok mama tanya Kania? Kan yang ngelahirin Kania itu, mama?", Jawab Kania tanpa dosa. Sungguh, Nawal bisa terkena stroke saat ini juga.
"Ma... udah, kontrol emosi mama.", ucap Fandy seraya menghampiri sang istri. Kemudian menatap Kania.
"Kania, sekarang kamu keluar dulu, ya. Jangan bikin Mama emosi. Masalah bulan madu, nanti papa urus" Kata Fandy tegas. Kania berbinar-binar.
"Makasih, pa", kata Kania dengan mengecup pipi papanya tanpa rasa berdosa. Kemudian berlalu pergi.
"Pa, papa inget nggak dulu mama ngidam apa pas hamil Kania?".
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1