
Ketika seseorang telah digulung oleh rasa emosi, tak ada lagi yang ada dalam benaknya selain melampiaskan emosinya. Ketika level emosinya telah lebih tinggi dari puncak langit, jangan harap lagi akan ada toleransi dan kata mengendalikan diri.
Roy murka, lebih dari sekedar murka hingga ia menghajar Dewa, putranya sendiri di hadapan keluarga Niko. Tak ada satu orang pun yang berniat menolong Dewa, apalagi Kania yang tengah bertepuk tangan ria di dalam hatinya. Kania seolah mendapat hiburan gratis kali ini.
Akhirnya, tanpa Kania turun tangan dan menghajar Dewa, sudah ayahnya yang menghajar Dewa bahkan lebih dari ekspektasi Kania.
'Lihat saja, Dewa yoga Sinatra. Ini hanya awal permulaan. Kamu akan merasakan yang lebih sakit dari pukulan papamu ini. Yang tenang, di depan sana akan ada pembalasan yang akan membuat kamu menyesali perselingkuhan kamu ini. Atas dasar cinta, cuih. Memuakkan.'
Batin Kania kemudian.
Sedangkan Sonya, Diana, Anika, Niko dan juga Fatih tercengang. Ingin menolong lantaran kasihan, tapi tak bisa mengingat Dewa Yang sudah keterlaluan pada Anika. Yang paling bersorak dalam hati adalah Kania. Wanita itu benar-benar pintar menyembunyikan emosi, namun hatinya sudah jingkrak-jingkrak tak karuan.
"Kamu. Siapa yang mengajari kamu untuk kurang ajar pada wanita? kurang baik apa lagi si Anika, Dewa? Mata kamu buta, ya? Apa kamu nggak melihat bagaimana Vio butuh kamu? Hah? Dasar tukang selingkuh!!"
Bugh...
Bugh...
__ADS_1
Duak...
Bragh, gedebuk......
Roy menghajar Dewa dengan membabi buta. "Papa nggak nyangka kamu akan menjadi lelaki bajingan seperti ini. Mata kamu udah dibutakan sama Vanya. Lihat Anika, Dewa. Lihat!!"
Telunjuk Roy tertuju pada Anika yang memalingkan muka. Anika tidak tega sebenarnya, lantaran biar bagaimana pun, selama ini Dewa selalu ia dampingi dan ia layani sepenuh hati. Tapi berhubung Dewa tega padanya, Anika bertekad tak akan menolong Dewa sedikit pun.
Roy melempar dan menendang Dewa, sebagai pukulan penutupnya. Dewa yang sudah terkapar, hanya bisa mendesis menahan kesakitan di sekujur tubuhnya.
"Aku usahakan, tapi aku nggak janji." Ucap Anika sebelum ia kembali membuang muka.
Kania kembali bersorak di dalam hatinya. Sepertinya, Anika sudah mulai cerdas dan berpikir realistis.
"Anika." Dewa bangkit, dengan penampilan yang menyedihkan. "Tolong."
Anika menatap Dewa lagi kemudian. "Saat aku minta tolong ke kamu, untuk kamu menghentikan berhubungan dekat dengan Vanya, apa kamu dengerin aku, mas?" Tanya Anika telak yang berhasil membuat Dewa bungkam.
__ADS_1
"Udahlah, mas. Aku lelah. Kita sudahi saja hubungan ini. Rumah tangga ini nggak layak untuk dipertahankan. Maaf aja nggak cukup menebus kesakitan hati aku. Mending siapkan aja diri kamu, nanti siang kamu harus menikahi Vanya karena om Kenan dan Tante Anja udah minta tanggung jawab kamu."
"Anika, aku mohon. Jangan ngomong begitu lagi. Ayo, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Dewa menghampiri Anika, menggenggam tangan wanita itu. Sayangnya, Anika segera menepis kasar tangan Dewa yang berusaha meraihnya.
"Nggak akan ada kesempatan lagi. Sekali peselingkuh, tetap aja peselingkuh. Udahlah, mungkin kita memang nggak berjodoh. Akan lebih baik jika kita menjadi saudara aja. Jangan khawatir, setelah kita bercerai nanti, kamu bisa menikahi Vanya secara resmi. Tapi untuk saat ini, aku mohon jangan minta kembali. Keputusan aku udah bulat dan aku nggak mau dengar apa-apa lagi." Ungkap Anika.
"Tapi, Nika....."
"Cukup! Andai aku memergoki kamu dan Vanya sedang mesraan atau sedang jalan berdua, mungkin aku masih bisa toleransi. Tapi kalian.... Aku menyaksikan kalian berdua diatas ranjang dengan panasnya. Tanyakan ke ibu dan adik kamu, bagaimana perasaannya jika memiliki suami seperti kamu? Aku lebih tertarik bunuh kamu, tapi aku mikir, biar gimana pun, Kamu papanya Vio."
Bungkam. Semua orang yang ada di dalam ruang tamu keluarga Niko, bungkam seketika.
"Nika, sebaiknya kamu masuk dan tenangin dulu pikiran kamu." Kania dibuat terkejut sekaligus khawatir dengan keberanian putrinya itu yang secara tiba-tiba. Kania tak menyangka Anika akan seberani itu.
"Baik, ma." Sahut Anika sambil pamit pada kedua orang tua Dewa. Kini, Dewa tak bisa lagi menggapai hati Anika seperti dulu. Perasaan Dewa semakin tidak menentu.
**
__ADS_1