
"Ma.... Kania datang, ma. Kania kangen sama mama papa, dan.... mas Ken".
Nawal tergugu dalam tangis. Ia seolah merasa tengah menemukan sungai deras di tengah gurun pasir yang tandus. Sejuk dan mendamaikan jiwa. Ia kemudian maju tiga langkah dan memeluk Kania yang tengah menggendong Anika. Oh tidak.... kerinduan seorang ibu akan sosok putrinya yang dulu suka bermanja-manja, kini seperti tengah terobati.
"Mama juga kangen sama kamu. Sangaaaaat kangeeeeenn. Maafin mama ya, nak.....mama salah, banyak salah sama kamu. Mama janji akan memperbaiki semuanya".
Nawal kemudian melepas pelukannya terhadap sang putri. kemudian mengusap air matanya dan menyapa Niko sejenak, sambil mengambil alih Fatih yang juga yang ada di dalam gendongan Niko.
"Ayo masuk semua, sini sayang sama Oma".
Fatih diam dan tidak memberontak. Anak itu hanya menurut dan sibuk dengan lego yang ada di tangannya. Sedang Niko kemudian mengambil alih Anika yang anteng dan terlelap di dalam pelukan Kania.
Di dalam, baik Fandy, Ken, dan Anjani begitu terkejut mendapati Kania datang bersama Niko. Raut wajah Kania datar dan ia tak terpengaruh apapun sama sekali. Tak ada yang berubah, ibu dua anak itu berjalan mendekati ruang tamu dengan mengangkat dagunya.
"Kania..... Kamu datang".
Fandy tersenyum lebar, menyambut putrinya dengan sukacita. Sejenak, ia bangkit dan segera menghampiri Kania yang segera menjabat tangannya dan mencium punggung tangan Fandy. Fandy terkesiap untuk sesaat.
"Pa......." Fandy segera membawa putrinya ke dalam pelukan, tak memberi kesempatan Kania untuk melanjutkan kalimatnya. Biarlah, saat ini Fandy hanya ingin menumpahkan kerinduan terhadap sosok putrinya yang ceria dan telah lama tak ia temukan keceriaan itu.
"Nak, papa minta maaf... maaf-maaf dan maaf untuk semua yang sudah papa dan keluargamu lakukan. Untuk yang ke sekian kalinya, papa nggak akan pernah berhenti meminta maaf sebelum kamu melegakan hatimu untuk memaafkan keluarga mu yang memiliki cacat dimana-mana ini. Hukum lah papa sesadis yang kamu ingin, tapi papa mohon jangan lagi membenci keluarga ini, nak".
Kania yang sedari tadi hanya diam dan menahan dirinya, kini tak menjawab dan justru menumpahkan tangis di dan dekapan papa. Ia merasa semakin durhaka terhadap orang tua karena telah membiarkan orang tuanya menjalani hukuman darinya.
__ADS_1
Nawal yang juga tak tahan, akhirnya menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Fandy. Mereka bertiga, saling berpelukan dan suasana mendadak hening. Hanya suara isakan yang terdengar. Tak terasa, Anjani meneteskan air mata. Begitu juga dengan Kenan yang matanya sudah berkaca-kaca dan berusaha menekan keinginan dirinya untuk menangis.
Ken bangkit dan menghampiri Niko, memeluk Niko yang sebelumnya telah menurunkan putra nya.
"Mama..... mama tatih au nendong. Mama janan anis".
(mama.... mama Fatih mau gendong. Mama jangan nangis).
Semua menoleh ke arah Fatih yang menatap mereka satu persatu. Zhivanya yang sedari tadi hanya diam, kini merasa tertarik karena sepupunya merasa sedih.
"Adek tatih ayo dendong ama papa Ken aja".
(Adek Fatih ayo gendong sama papa Ken aja)
Usai memisahkan diri dari Fandy dan Nawal, Kania lantas menghampiri Anjani dan Kenan.
"Mbak Anja, mas Ken.... aku minta maaf".
Tiga kata itu meluncur dengan tegas dari bibir Kania. Membuat Kenan sedetik kemudian, menghampiri dan memeluk adiknya dengan sayang. Momen-momen seperti inilah, yang membuat Kenan begitu rindu.
"Aku sayang banget sama kamu, dek. Jangan berpikir lagi kalau gue merebut perhatian dan kasih sayang mama dan papa dari kamu." Ungkap Kenan.
"Aku udah maafin, mas. aku juga minta maaf atas semua kelakuan aku". Kania mengucap kalimatnya dengan nada suara bergetar.
__ADS_1
"Aku.... aku juga minta maaf karena menjadi biang masalah ini, kan...... kalau aja aku nggak minta tolong kamu untuk mengatasi wanita itu, kejadian ini nggak akan terjadi". Lirih Anjani kemudian.
**
Kini, mereka semua telah berkumpul di ruang makan. Jam makan siang mulai terasa menghangat kali ini. Baik Fandy maupun Nawal, tak pernah mengira hal ini akan terjadi. Setelah kedatangan Kania, Nawal memohon pada kena dan Anjani untuk tetap di sana demi menghormati Kania.
"Kamu mau ikutan mas ke rumah baru mas?"
Tanya Kenan sekali lagi. Kania yang mendapati pertanyaan kakaknya, sontak mendongak dan menatap Niko yang mengiyakan.
"Ya udah, aku ikutan".
Suasana makan siang kali ini,terasa semakin hangat. terlebih kini satu per satu permasalahan mereka telah teratasi. Ada banyak rasa yang menaungi keluarga Mahardhika saat ini. Ada banyak pelajaran yang dapat mereka petik dari semua rentetan kejadian yang menimpa mereka.
Kini, mereka kembali bersama setelah badai dahsyat menimpa keluarga mereka. Tidak ada yang tidak mungkin, selama kita merendahkan ego kita demi keutuhan keluarga. Sejatinya, keluarga lah tempat ternyaman yang dengan tulus menerima kekurangan dan kecacatan kita.
*TAMAT*
🍁🍁🍁
Terima kasih dari neng Tia buat kalian semua yang udah support kisah ini. semoga banyak pelajaran yang dapat kalian petik dari cerita ini. Neng Tia minta maaf yang sebesar-besarnya karena udah banyak salah dan cacat dalam pembuatan kisah ini. Neng Tia harap, ke depannya kalian nggak akan bosan dengan novel-novel neng Tia.
Oh ya, selanjutnya, neng Tia akan fokus buat menyelesaikan MELATI,CINTA YANG TERKOYAK ya, sebelum juga nanti sesekali akan up NIKAH DADAKAN..
__ADS_1
Terima ksih semua.... sampai jumpa di kisah melati berikutnya ya.....😘😘❣️