PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 29


__ADS_3

Usai Niko meminta restu pada ibunya, pagi ini juga, Niko memutuskan untuk mempercayakan cafe nya untuk di urus Fandy, selaku ayah mertuanya.


Mau tak mau, dirinya harus berpisah dengan Fatih, putranya dan meminta ibunya menjaga Fatih untuk sementara waktu.


Tekad yang Niko miliki sangat kuat. Niko mencari Kania hingga membabi buta. Tak di pedulikannya berapapun materi yang ia keluarkan, serta waktunya yang ia habiskan. Nyatanya, Kania seperti oksigen yang tak bisa begitu saja lepas dari raganya.


Dengan membawa ransel berukuran sedang yang berisikan beberapa potong pakaian, Niko mengendarai mobilnya keluar dari area komplek. Malam tadi, Niko mendapat informasi dari orang-orang yang membantunya, bahwa saat Kania keluar rumah setahun lalu, Kania pergi bersama seorang wanita lajang bernama Sila, teman lama Kania sewaktu masih duduk di bangku SMA. Satu-satunya petunjuk yang Niko temukan, adalah Sila.


Dan Niko perlu menempuh waktu sekitar 2,5 jam untuk tiba di tempat Sila. Sebuah rumah mungil yang memang pantas untuk di tinggali seorang diri.


Dengan langkah tegap, Niko mengangkat kepalanya, menolak kalah dan menolak apapun yang akan Sila olokkan Padanya. Tak peduli dunia menertawakannya dengan sangat kejam, yang penting Kania nya kembali.


Hanya itu. Hanya Kania dan anak kedua mereka yang entah laki-laki, ataupun perempuan.


Pada ketukan pertama, pintu tetap tak terbuka. Dan tepat pada ketukan ke empat, pintu terbuka sempurna seiring dengan munculnya seorang wanita dengan penampilannya yang sudah terlihat segar.


Bukan tak menyadari, Sila sangat tau siapa sosok yang tengah berdiri menjulang di hadapannya ini.


"Maaf, anda siapa? Ada keperluan apa?"


Tanya Sila dengan intonasi suara yang


datar.


"Kamu Sila?"


Bukannya menjawab, Niko justru melempar tatapan dinginnya, berharap bisa membuat Sila merasa terintimidasi. Sayangnya, Sila bukan wanita lemah.


"Ya".

__ADS_1


"Saya Niko, suami Kania".


Tak ada respon terkejut sama sekali. Toh Sila sudah mengetahui bahwa pria yang berdiri di hadapannya ini, adalah suami sahabatnya.


"Masuklah".


Sila membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Ia tak mau menjadi tuan rumah yang tak sopan karena di anggap tak mempersilahkan tamunya masuk.


Dengan langkah tegap dan mantap, Niko melangkah masuk. Berharap pertemuannya kali ini dengan Sila, bisa memberikan petunjuk keberadaan istrinya.


"Tunggu di sini sebentar".


Sila kemudian masuk menuju kamarnya. Dari waktu dimana Kania memutuskan pergi dan merahasiakan kepergiannya dari keluarganya, Sila sudah mengantisipasi bahwa hal seperti ini akan terjadi.


Maka, Sila berusaha mengungkap akar sebenarnya dari tragedi ini.


Niko menatap Sila dengan tatapan datar setelah wanita itu kembali ke ruang tamu dengan beberapa berkas di tangannya.


Ini adalah alasan mutlak istrimu membuat kesalahan satu tahun yang lalu. Dan untuk kepergiannya, maaf, aku nggak bisa memberi tahu my tentang keberadaannya karna aku terlanjur berjanji sama Kania."


Sila tersenyum simpul demi menghormati Niko, meski sebenarnya, ia tak terlalu suka akan sikap Niko pada Kania setahun lalu. Niko terlalu tega memperlakukan Kania seperti itu. Bahkan di saat Kania tengah hamil muda.


"Aku ingin Kania kembali, semata karna aku mencintainya. Juga putranya sangat membutuhkannya. Aku mohon".


Lirih Niko penuh permohonan. Tak sedikitpun ia membuka berkas-berkas yang Sila berikan padanya.


"Pulanglah dan datanglah lagi setelah semua isi berkas-berkas itu kamu baca. Aku akan mengantarmu pada istrimu, kalau kalau kamu".


"Kamu serius?"

__ADS_1


Tanya Niko tak percaya. Semudah itukah?


"Ya. Setelah kamu baca itu, kamu akan tau siapa Dira dan alasan Kania mengambil langkah drastis. Percayalah, Kania memang kedengarannya sangat kejam. Tapi ada alasan yang mendasari hal itu. Aku harap, kamu bisa cerdas menilai semua nya."


Niko mengangguk dan pamit pergi. Setidaknya, ada celah baginya untuk bisa kembali dengan Kania.


**


**


Kania tengah menyirami tanaman di depan rumah yang di belinya. Rumah dengan harga yang sangat murah yang sesuai dengan budget yang di milikinya setahun yang lalu. Meski kehidupannya sederhana dan hanya hidup dari penghasilan toko kecil yang tak seberapa, namun Kania lebih damai tanpa hiruk pikuk kepedihan.


Anika berada dalam ayunan dan di temani oleh Akil, anak mbak Sri yang berusia sebelas tahun. Dan ketika mbak Sri baru pulang dari sawah, ia datang pada Kania dengan langkah tergesa. Raut wajahnya panik dan luar biasa tertekan.


"Mbak Kania..... ada... ada, ada yang nyari mbak Kania".


Ucap mbak Sri. Kania hanya mengernyitkan keningnya dalam.


"Siapa, mbak Sri? Mana orangnya?"


"Masih di rumah bapak ketua RW. Katanya sih pak... aduh pak siapa ya tadi namanya? Ken... Ken iya itu Ken siapa gitu. Pokonya namanya ada Ken Ken nya gitu".


Wajah Kania berubah pucat pasi. Ia tak menyangka Kenan akan menemukannya secepat ini. Tidak. Kania tidak ingin bertemu siapapun untuk saat ini.


"Mbak Kania... mbak nggak apa-apa?"


tanya mbak Sri.


"Dia... dia kakak ku, mbak Sri".

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2