
Hidup adalah sebuah pertarungan. Ketika kau mempertaruhkan segalanya, maka segala konsekuensi dan resikonya, seharusnya sudah kau pikir masak-masak. Dan ketika semua yang kau impikan tercapai, maka pertarungan berakhir dan dunia memutuskan bahwa kau lah pemenangnya. Namun, di balik sebuah kemenangan, bukankah kau telah melewati ribuan onak duri dan merenangi lautan neraka untuk sampai hingga pada titik puncak?
Dari awal, Niko sudah bertekad untuk bertarung dengan semua kemurkaan Kania, istrinya. menentang terang-terangan keputusan Kania yang menjauh dan menghilang tanpa pamit.
Mengapa demikian? Toh kepergian Kania di dasari oleh salah Niko sendiri? Maka, Niko mengambil langkah untuk bertarung kali ini, demi mencapai sebuah kemenangan dengan cara membawa Kania kembali pulang. Tak peduli bila nanti Kania menolak dan mengusirnya bila perlu, Niko akan tetap kekeuh mengambil hati Kania lagi.
Inginnya kembali seperti dulu, namun bukan kah semua membutuhkan proses? Niko sudah bertekad untuk menikmati prosesnya untuk kembali memperbaiki rumah tangga nya yang hancur berantakan akibat kecerobohannya sendiri.
Mobil yang Niko kendarai bersama Sila memasuki sebuah jalanan beraspal sebuah pedesaan yang cukup asri. Pohon-pohon dan berbagai tumbuhan hijau lainnya, nampak berjajar rapi. Suasana hati Niko lebih baik saat ini, meski tak dipungkirinya, jantungnya berdegub tak normal seperti biasanya.
"Pertigaan depan, belok kiri. Lurus. Rumah istri lu di ujung sana. Berhenti tepat di depan toko sembako kecil, yang di depannya, ada pohon pepaya".
Sila memberi arahan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
Sejujurnya, Sila sedikit gentar jika nanti ia bertemu Kania dan membawa serta Niko kemari. Takut-takut, jika nanti ia mendapat amukan dari si barbar kania.Ah, membayangkannya saja, sudah membuat Sila bergidik.
"Hmmm". Niko hanya bergumam sebagai respon.
Setibanya di sebuah toko sembako yang ada di ujung jalan, Niko segera menghentikan mobilnya tak jauh dari pohon pepaya di depan rumah Kania. Dan pria dua anak itu terpaku di tempatnya, ketika melihat Kania tengah menimbang-nimbang anaknya sembari menyemprot tanaman bunga yang tertanam indah di sudut halaman.
Nafas Niko seolah tercekat dan tak berdaya ketika mendapati, bahwa Kania lebih kurus dengan kulit yang sedikit lebih eksotis. Terlebih, saat pandangannya terpaku lebih lama pada sosok mungil yang berada dalam gendongan Kania. Sepertinya, anak itu sangat rewel.
Kania sendiri tidak menyadari bahwa mobil yang berhenti di dekat rumahnya, dengan posisi jendela mobil yang masih tertutup itu, adalah Niko, suaminya. Fokusnya masih tertancap pada Anika yang seharian ini rewel dan tak seperti biasanya.
"Elu mau di sini aja, apa turun. Kalau turun, lu sendiri aja deh. Gue nggak mau menampakkan diri pada Kania. Bisa di cincang gue karna udah nganter lu kemari".
__ADS_1
Celetukan Sila membangunkan Niko dari keterpanaannya terhadap sosok yang sudah di rindukannya itu.
Tanpa berniat menjawab kalimat Sila, Niko segera turun dan menutup pintu mobilnya.
Tak jauh dari Niko, Kania serasa sesak dan tak mampu meraup oksigen ketika di lihatnya, Niko berdiri menjulang dengan kondisi tubuh yang lebih kurus dari yang terakhir di lihatnya. Ibu dua anak itu lantas mengerjapkan matanya beberapa kali guna memastikan bahwa yang di lihatnya itu adalah nyata, bukan sekedar ilusi sesaat yang mampu menjatuhkan harapan dan kerinduannya terhadap suaminya. Meski tak juga di pungkiri, rindu di hatinya seolah membaur bersama kebencian yang mendarah daging dalam dirinya.
Mundur dua langkah, tangisan Anika seolah memberi kesadaran pada Kania, bahwa ia harus menjauh, dan itu sekarang. Demi menjaga hatinya yabg terlanjur benci pada sosok suami yang mengabaikannya, hingga menumbuhkan ribuan rasa sakit yang tak juga sembuh hingga kini.
"Kan...Kania..... Kania aku datang".
Lirih Niko yang tentu, mendapat penolakan mutlak dari Kania.
"Pergi.... jangan ganggu aku... Pulang sana, pulang!!"
Kania berbalik dan berlari memasuki rumahnya dengan tangis yang begitu menyayat hati. Hingga saat ini, hatinya masih di dera ribuan rasa sakit yang tak pernah terkikis waktu. Padahal, setahun sudah berlalu. Tapi sakitnya masih terasa hingga kini.
"Kan.... aku mohon, Maafkan aku, sayang. Maafkan aku. Beri aku kesempatan aku untuk bicara".
Niko menahan lengan Kania dan tak memberi kesempatan Kania untuk menjauh darinya.
"Lupakan. Aku muak dan lelah kalau lagi-lagi, harus bicara sama kamu yang setahun lalu, sama sekali nggak menghendaki kehadiranku.
Pulanglah, mas Niko. Aku mau hidup sendiri. Aku sebatang kara sekarang. Aku nggak punya keluarga. Keluargaku, ada di sini".
Kania berteriak histeris. Tak peduli bahwa saat ini, para tetangga datang, dan juga..... mereka tak menyadari bahwa ketua RW setempat, datang bersama dengan Kenan yang mengaku sebagai kakak Kania.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan? Aku suamimu, kamu juga masih punya papa, mama dan kakak. Kamu nggak sebatang kara. Pulanglah, Fatih menunggumu di rumah".
"Rumahku disini. Sekarang aku miskin dan aku nggak bisa memenuhi kehidupan Fatih dengan layak. Kamu.... kamu lebih baik pulang dan besarkan Fatih dengan penuh kasih sayang".
Suara Kania bergetar hebat, perlahan mulai melirih. Mengingat Fatih yang ia tinggalkan, membuat kerinduan Kania terasa memuncak hingga ke ubun-ubun.
Kania merasa bukan ibu yang baik untuk Fatih. Meninggalkan Fatih, bukan karena ia tak punya hati, melainkan ia ingin hidup putranya tak kekurangan bila bersama nya. Karena kini hidup Kania yang pas-pasan, juga telah menanggung hidup bersama Nika.
"Kami tega ninggalin Fatih gitu aja? Jangan memandangku, istriku. Pandanglah Fatih yang sangat membutuhkan kasih sayang ibunya. Kamu tega?"
"Aku nggak tega. Tapi perlakuan kamu setahun yang lalu itu, membuat aku terpaksa meninggalkannya."
"Kau salah... aku salah..... Jadi aku mohon aku minta maaf dan beri aku kesempatan".
Niko memelas dan masih tetap menggenggam erat lengan Kania.
"Kania..... Niko......"
Suara Kenan mengejutkan mereka berdua.
"Ayo masuk ke dalam rumahmu, kita bicarakan baik-baik". Imbuhnya kemudian dengan suara lembut. Tak lupa, senyum hangatnya bertengger manis di bibirnya yang menawan.
"Nggak mau!! TITIK!!!!!!!!!"
Dan sifat keras kepala Kania, muncul.
__ADS_1