PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 14


__ADS_3

Kania tengah mengemudikan mobilnya dengan tenang menuju rumah orang tuanya. Suasana hatinya membaik setelah ia melampiaskan kemarahannya pada Dira yang tanpa sengaja. Sebenarnya sangat ironis ketika Kania menyebutnya tanpa sengaja.


Awalnya, Kania berencana membalas Dira dengan cara anggun dan tanpa bar-bar. Tapi rupanya Dira sendiri yang menabuh genderang perang dan mengibarkan benderanya terhadap Kania secara terang-terangan m Jadi, jangan salahkan Kania bila Kania kalap dan khilaf.


Ibu muda itu kemudian memasuki pelataran halaman rumah Fandy yang demikian luas. Senyumnya terbit ketika di lihatnya, Anjani sedang fokus pada layar laptopnya. Istri Kenan itu tengah memantau perkembangan keuangan dan produksi aneka busana di butik yang ia kelola. Meski tak sebesar distro milik Kenan, namun bagi Anjani butik itu adalah sumber penghasilannya.


"Hai mba Anja".


Kania menyapa Anjani lebih dulu. Dia tak menyadari adik iparnya.


"Hai. Tumben, cerah hari ini. Dedek Fatih, mana?"


"Lagi di rumah sama ibu mertua. Aku habis jalan-jalan sekalian makan-makan". Ucap Kania penuh bangga.


"Tumben nggak ajak-ajak? Memangnya makan-makan apa?". Anjani masih tak menyadari maksud Kania.


"Makan orang" Sahut Kania sambil mendudukkan dirinya di bangku depan Anjani. Anjani yang penasaran dan merasa tertarik dengan pengakuan adik iparnya, segera menunda melanjutkan pekerjaannya dan memilih menutup laptopnya.


"Makan orang gimana maksudnya?"


Anjani tergelak.


"Aku habis hajar si musang licik Dira itu, sampe babak belur".


Aku Kania yang membuat Anjani melotot ke arahnya.


"Kenapa... kenapa bisa, begitu? Memangnya gimana sih awalnya?"


"Bentar-bentar, aku mau minta minum dulu sama Bi Sarinah". Kepala Kania melongok ke arah bi Sarinah yang sedang menanam beberapa bunga di taman depan.


"Bi Inah, buatkan Kania minuman yang seger dong".

__ADS_1


"Iya non".


Bi Sarinah menjawab sopan.


Kania kemudian memperbaiki posisi duduknya. Mode seriusnya kembali.


"Aku tadi mampir ke kantor mas Ken. Tebak apa yang aku temui? Mas Ken di godain lagi sama Dira. Bukan hanya melalui chat, tali juga secara fisik. Dia nempel-nempel sama mas Ken".


Sumpah demi apapun juga, jantung Anjani berdetak lebih kencang dari biasanya. Emosinya mulai naik.


"Terus? Apa mas Ken nggak menepisnya?"


"Mau nepis, aku Jambak duluan. Kelar deh idupnya".


Kania tersenyum kecil menyadari, bahwa ia bisa selangkah lebih gesit daripada sang pengganggu. Memangnya, Kania bodoh apa? Jelas nggak mungkin.


"Hah? terus terus? Kamu apain lagi?"


"Astaga Kania..... lain kali, jangan pakai cara kasar."


"Nah loh, cara halus ku tempo hari ngingetin dia, nggak di perhatian sama dia, justru hanya di anggap angin lalu."


"Tapi setidaknya pakai cara anggun, jangan bar-bar".


"Gini nih.....Gini dah kalau kl mba Anja terlalu lembek, nggak heran dulu di mainin sama mas Ken.


Jadi perempuan itu kuatnya harus setara dengan laki-laki mba, kalau nggak mau harga diri di injek-injek. Jangan mau di sakiti. Bukannya pepatah mengatakan, lebih menyakiti dari pada di sakiti?


Tergantung mba Anja aja, mau pilih posisi yang mana. Kalau aku mending nyakitin si diri itu dari pada aku yang di sakiti suamiku".


Anjani kehabisan stok kata-kata untuk menimpali kalimat adik iparnya ini. Anja hanya tak menyangka akan mendengar ocehan Kania yang menurutnya terlalu liar. Anja mendesah lelah.

__ADS_1


Di saat yang bersamaan, Bi Inah datang membawa dua gelas minuman segar seperti yang di minta Kania.


"Makasih ya, Bi."


"Iya, non".


Bi Inah kemudian berlalu pergi. Meninggalkan Anjani dan Kania yang terkadang masih penuh emosi ketika menceritakan kelakuan Dira yang tak senonoh pada Kenan. Biar bagaimana pun, Kenan adalah pria normal yang mungkin saja tergoda oleh tubuh seksi wanita di luaran sana, akan tetapi tetap harus di jaga, kan?


Kania tak mau rumah tangga kakaknya berantakan. Meski Ken mencintai istrinya, tapi kalau yang namanya apes, pasti Ken salah langkah.


🌺🌺


Kenan tengah menatap kondisi Dira dengan rasa khawatir. Bukan khawatir karena cinta, melainkan khawatir karena memang serangan Kania yang membabi buta.


Kini, Dira terbaring tak berdaya di sofa ruang kerja Dira sendiri. Dokter yang di panggil Rio untuk menangani Dira, juga ikut merasa prihatin ketika melihat luka-luka dan beberapa lebam di beberapa bagian tubuh wanita cantik itu.


Setelah dokter berlalu pergi, Ken segera menanyai Dira yang memang tadi sengaja mendekatinya. Menggunakan tubuh indahnya untuk menjerat pria? Hei, Kenan jijik mendengarnya.


"Maaf Bu Dira, saya rasa anda sendiri yang menyebabkan ini terjadi. Karena Bu Dira kondisinya tak cukup membaik, Bu Dira boleh pulang dan istirahat beberapa hari di rumah selagi kondisi anda belum pulih. Dan saya harap, ke depannya tak akan ada kejadian serupa yang terulang."


Ken menasehati Dira dengan bijak. Dira mengangguk dan bangkit pelan meski di sekujur tubuhnya, terasa remuk akibat Kania tadi menghempaskannya perlahan.


"Saya pamit, pak. Maaf. Selamat siang".


Pamitnya sebelum berlalu pergi. Tidak ada yang tau, senyumnya semakin penuh arti dan segudang otak liciknya masih bekerja dengan sangat baik. Dira tidak kapok dengan serangan Kania. Wanita itu masih terobsesi pada Kenan yang sudah nyata menjaga jarak darinya dan menolak kehadiran Dira.


"Aya. Tolong camkan apa yang saya katakan barusan, Bu Dira. Saya nggak mau kejadian serupa terulang di masa depan."


"Iya, pak. Permisi".


Hari ini, Dira merasa hanya apes. Tapi dalam hati Dira, ia berjanji akan main cantik dan lebih berhati-hati.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2