
Suasana sebuah kantor hari ini lumayan mencekam. Ada beberapa sistem kerja dan peraturan yang hendak di rubah di sana.
Seorang pria bertubuh tegap tengah berjalan memasuki lift khusus para petinggi perusahaan. Tak ada satu pun mata yang berani menatap tepat pada manik matanya. Seolah ia adalah seorang tirani yang tak berhati. Meski pembawaannya kalem dan lembut, tapi jelas kharisma dan wibawanya tak bisa di anggap main-main.
Dewa Yoga Sinatra.
Seorang putra sulung keluarga Sinatra yang kini telah resmi meneruskan usaha pamannya yang tak memiliki keturunan. Satu-satunya saudari yang di milikinya adalah Diana Dwi Sinatra. Kelihaiannya dalam mengurus perusahaan, membuat sang paman, Haris Sinatra mempercayakan seluruh bisnisnya pada dewa.
Setelah memasuki ruangannya, dewa tak segera memanggil sekertaris nya untuk membacakan jadwal pekerjaannya hari ini. Bukannya segera tangkas membereskan semua pekerjaannya, dewa justru membuka dompetnya dan mengambil sebuah foto seorang gadis yang bukan berstatus sebagai istrinya. Hatinya berdenyut sakit ketika memandang bola mata yang jernih dan murni gadis itu.
Aku datang, Zhivanya..... Aku datang untukmu. Sekarang, aku sudah menemukanmu, siapkah kau jika kita bertemu. Aku mohon jangan lagi menghindari ku.
Batin dewa lirih.
Setelah puas memandangi wajah cantik dan teduh milik Zhivanya, dewa segera memasukkan foto itu kembali ke dalam dompetnya, menyembunyikannya hingga ke dalam lipatan terdalam agar tak seorangpun tau apa yang kini di simpannya.
**
Vanya berjalan lurus menuju kubikelnya. Sesekali, gadis itu tersenyum ketika menanggapi cerita Emi, sahabatnya yang selama dua tahun ini setia menemaninya. Gadis berparas ayu dengan kulit putih yang di warisi oleh ayahnya itu, benar-benar menyembunyikan keresahan hatinya.
"Lo yakin enggak bakal mau mengajukan surat pengunduran diri? Bener-bener mau berubah pikiran?"
Emi bertanya dengan suara berbisik ke arah Vanya. Vanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Ya. Gue rasa sekaranglah saatnya. Bukannya Lo tadi bilang kalau gue nggak boleh terus-menerus bersembunyi di balik latarbelakang? Toh selama ini gue nggak bisa sembunyi".
"Siiip. Apapun keputusan Lo, gue dukung asal Lo berhenti mengharapkan lelaki macam dewa".
"Hmmm.... Ngomong-ngomong, Lo ada nggak sih, rasa ingin ketemu dan kangen sama sepupu Lo, Anika? Secara, kalian kan masih saudara. Dan sepupu Lo itu, juga dulu terlalu polos dan nggak tau siapa sebenarnya sosok suaminya."
"Gue lebih nyaman sendiri dan nggak ketemu siapapun. Terlebih keluarga besar. Hanya papa, mama, dan David yang benar-benar bisa ngertiin gue.".
"Apa artinya, Lo juga benci Sepulu Lo? Dia kan juga korban di sini, hanya saja..... dia belum menyadarinya".
Vanya diam tanpa berniat menjawab pertanyaan Emi. Meski tak di pungkirinya bahwa Anika tak sepenuhnya bersalah, namun entah mengapa setitik rasa benci itu melilit hati Vanya yang telah remuk tak berbentuk.
Setibanya di meja tempat Vanya berkutat dengan kertas-kertas dan komputernya, gadis milik Kenan dan Anjani itu segera duduk dan menatap layar komputernya yang mati dengan pandangan kosong. Apakah salah bila Vanya juga turut membenci Anika?
Baik Emi maupun Vanya terdiam di tempatnya seperti patung. Mereka sama-sama tau bahwa Vanya tidak ingin bersitatap dengan CEO mereka. Emi yang menyadari suasana hati Vanya yang tak baik ini pun, sontak menyuarakan isi hatinya.
"Mbak Rosa.... biar aku aja yang nganter ke ruang CEO. Vanya biar nemuin pak Sultan deh. Kami tukeran tugas aja". Emi mengeluarkan kalimatnya secara spontan.
"Tapi pak sultan memanag butuh kamu untuk saat ini. Lagian setelah nanti mengantar berkas, saya minta Vanya menyelesaikan ini". Tangan mbak Rosa menyodorkan sebuah map pada Emi dan Vanya. Anji yang memang juga berada di divisi keuangan, tentu saja menangkap ada aura aneh di sana.
"Eh emangnya kenapa sih? Apa Vanya keberatan?" Lelaki berusia dua puluh enam tahun itu bertanya.
"Enggak, nggak ada apa-apa". Pandangan mata Vanya beralih pada mbak Rosa. "Kemarikan mbak, sebentar lagi aku antar". Ucap Vanya yang seolah dirinya sedang baik-baik saja.
__ADS_1
Mbak Rosa kemudian berlalu menuju mejanya, begitupun juga Anji, adik tiri mbak Rosa yang memang hubungan mereka di bilang sangat baik meski tak sekandung.
Baik Emi dan Vanya kemudian kembali duduk di tempatnya masing-masing.
"Lo yakin, Van?" Emi berbisik lirih. Suaranya bergetar dengan nadanya yang penuh kekhawatiran.
"Apa gue punya pilihan lain? Mungkin, ini udah saatnya. Bener kata mama dan papa. Gue nggak pantes seterpuruk ini hanya karena laki-laki seperti dewa Sinatra."
Jawab Kania dengan pandangan kosong lurus ke layar komputernya yang belum menyala.
Diam-diam Emi berpikir, sesakit itukah hati Vanya akibat emosi dewa di masa lalu? Lalu, bagaimana dengan kehidupan rumah tangga dewa dan Anika yang berawal dari keegoisan dewa saat itu? Apakah Vanya tidak berhak bahagia? Bukannya gadis di samping Emi ini, kini telah banyak mengalah?
"Gue hanya bisa bantu Lo dengan berdoa. Gue yakin Lo gadis kuat dan benar-benar tangguh."
"Makasih, mi.... Lo emang sahabat gue satu-satunya".
Emi tersenyum lebar. Namun setelahnya, kalimat yang di lontarkannya itu, membuat Vanya mengumpat kesal.
"Ngomong-ngomong, Boleh nggak kalau makan siang nanti Lo teraktir gue? Secara kan, gue sahabat Lo satu-satunya".
"Sialan Lo."
...
__ADS_1
...