
Tiga hari berlalu setelah Seyna menumpang pada mobil Kenan. Sejauh ini, masih belum ada yang mencurigakan. Tapi tetap saja Kenan akan tetap waspada demi keselamatan rumah tangganya.
Anjani tetap baik-baik saja tanpa ada provokasi dari Seyna. Yang di khawatirkan Kenan saat ni adalah tentu keselamatan Anjani. Seyna merupakan type wanita yang nekat, tidak mau berhenti sampai mendapatkan apa yang dia mau. Bukan hal yang tidak mungkin jika Seyna tak merencanakan sesuatu.
Pagi ini, Kenan bangun lebih pagi dari biasanya. Saat tak mendapati Anjani di sebelahnya, Kenan bergegas membersihkan diri kemudian berniat untuk sedikit berolah raga di balkon kamar.
Suara tangisan Vanya dan lengking memenuhi seisi rumah. Bayi yang sudah mulai bisa tengkurap itu sepertinya lebih dekat dengan Oma dan Opa nya. Terbukti waktu Nawal dan Fandy lah yang lebih banyak bersama Vanya.
Berbeda dengan Kenan dan Anjani yang sibuk bekerja dan sekolah.
"Mas, sarapan udah siap. Ayo makan dulu, Jangan lama-lama, aku telat entar". Anjani sudah tiba dari dapur dan segera membersihkan diri dan berganti seragam sekolahnya. Di susul Kenan yang juga sudah rapi untuk berangkat kerja.
Pagi ini, seperti biasa perbincangan hangat keluarga tengah terjadi di meja makan. Dengan Vanya yang di letakkan di kereta dorongnya, mereka memulai aktifitas sarapan bersama.
"Pa, Kenan berencana mau beli rumah".
Semua sontak menatap Kenan dengan bertanya-tanya. Hanya Anjani yang tak terkejut karna rencana itu Kenan dan Anjani lah yang merencanakannya.
"Untuk apa Ken? Rumah ini juga rumahmu. Kenapa harus beli rumah?" Tanya Fandy yang sedikit tak nyaman dengan topik ini.
"Kania udah mulai dewasa kan, pa? Rumah ini biar Kania yang nempatin. Aku rencananya mau membawa Anjani untuk tinggal bertiga sama Vanya juga. Ya.... semacam aku pengen mandiri gitu".
"Nggak. Mama nggak mau kalau kamu bawa Vanya. Mama setuju kalau kamu mau mandiri dan tinggal berdua, tapi enggak kalau Vanya kamu bawa". Nawal menentang keras rencana Kenan. Sepertinya, Ken harus berusaha keras untuk meyakinkan Nawal
"Aku akan sering-sering titip Vanya kok, ma. Lagian aku kalau pagi kan kerja. Anja juga sekolah, kemudian kuliah setelah lulus nanti. Tenang aja, aku nggak bakal merampas cucu mama dari mama". Bujuk Kenan dengan hati-hati.
"Anter jemput? Bayi itu rawan masuk angin, Ken. Mama nggak mau lama-lama cucu mama sakit karna sering bolak balik antara rumah mu sama di sini". Nawal menggeleng keras. Sungguh, sulit bagi Kenan saat ini.
"Semuanya, ayo lanjutkan makan. dilanjut nanti malam yah, papa ada kerjaan pagi".
Akhirnya pembicaraan tentang rencana Kenan di tunda.
.....................
Kania pun juga mulai aktifitas ke kampus, meski setiap harinya, ia selalu menyempatkan diri untuk menemui Niko.
Pernah suatu ketika Kania tak menemukan Niko sama sekali. Niko yang sengaja menghilangkan diri dari hadapan Kania sontak membuat Kania uring-uringan Sampai esok hari saat dia menemui Niko.
__ADS_1
Hari ini, Kania sengaja ingin menemui Niko di distro Kenan. Entah lah, perasaan Kania tiba-tiba saja mendadak tidak enak. Kania hanya ingin memastikan bahwa Niko baik-baik saja. Tapi sebelum itu, seperti biasa Kania membuat kue untuk ia bawa ke Niko.
Di tempat lain, Niko sedang berbicara Kenan perihal Kania. Niko hanya tidak ingin Kania terus menerus mengejarnya.
Bukan apa-apa, Niko hanya merasa tidak enak hati pada Kenan yang sudah banyak membantunya, terlebih lagi pada keluarga Kenan. Niko merasa, ia cukup tau diri agar tidak menjalin hubungan dengan Kania.
Niko berasal dari keluarga sederhana, itulah alasan utamanya.
"Jadi, Lo mau nya gimana nik?", tanya Kenan dengan serius. "Emangnya Lo nggak ada rasa sama sekali sama adek gue? Apa sih kurangnya Kania, adek gue cantik loh ini", Kenan menggoda Niko.
"Gue mau Kania berhenti nyamperin gue. Bukan apa-apa sih, cuma ngerasa nggak nyaman aja, kayak risih gitu tiap kali dia kesini pas gue kerja", ungkap Niko hati-hati. "Kalau nggak kerja sih, gue fine-fine aja".
"Apa Lo ada rasa suka dikit aja sama adek gue?", tanya Niko yang langsung terpaku dengan ucapan Kenan.
"Gue nggak tau", ungkap Niko dengan suara berat.
"Kalau gitu, gimana kalau misalnya, Lo bikin Kania cemburu sampek dia berhenti ngejar Lo terus?".
"Caranya?".
"Bisa-bisanya Lo gitu Ama gue. Terus, dimana gue bisa dapet cewek?". tanya Niko.
Kenan nampak berpikir. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada Seyna. Bukankah Seyna juga wanita agresif yang melebihi keagresifan Kania? Sepertinya akan seru, pikir Kenan.
"Seyna". Ucap Kenan kemudian.
"Hah?" Niko terkejut."Yang bener? Apa dia mau? Bisa di ketawain gue".
"Gue yang atur".
"Enggak", Niko menggeleng keras. "Gue hubungi Anita aja deh. Inget nggak? Temen fakultas kita dulu?".
"Oh iya ingat.... iya deh gue setuju". Tukas Kenan kemudian.
Tak lama Niko pun menghubungi Anita dan meminta bantuannya. Entah lah, hati Niko bukannya tenang, tapi mendadak gelisah. Bukankah ini rencananya sendiri?
Setelah menjelaskan panjang lebar, akhirnya Anita mau membantu dengan syarat, Niko membantu Anita untuk mencarikan pekerjaan. Tentu saja hal itu segera di iyakan oleh Niko.
__ADS_1
Satu jam berlalu, amit datang dengan anggun dan make up natural.
"Hai nik, mana Kenan?" tanya Anita pada Niko dengan mengedarkan pandangannya di sekeliling ruang kerja Niko.
"Kenan jemput istrinya. Kan jam segini waktunya istrinya ngasi asi ke anaknya?", Jawab Niko santai. Anita tentu saja terkejut.
"Hah? Emang Ken udah nikah? Ya ampun, kenapa aku jadi ketinggalan gosip gini sih?".
"Dasar tukang ghibah Lo".
Ceklek...
Pintu terbuka dari luar, Kania datang membawa rantang berisi makanan yang tentu saja itu hanya untuk Niko.
Sandiwara pun di mulai. Niko pun mengedipkan sebelah matanya tanda memberi kode agar memulai sandiwara ini.
"Sayang, ini siapa?",
"Oh iya, Sayang kenalin ini Kania, adiknya Ken." Pandangan mata Niko beralih pada Kania, "Kania, kenalin ini kekasih ku, Anita".
Taukah kau apa yang terjadi? Bukannya lari dan menangis karna patah hati., Kania Justru berjalan mendekat dan arah Niko dan Anita.
"Kekasih?", Tanya Kania dengan polosnya.
"Iya", jawab Niko dengan senyum yang begitu kaku.
"Mbak Anita, serius?. Mas nik ini calon suami aku loh", ungkap Kania tanpa beban. "Mbak Anita tau nggak? Bahkan sebentar lagi, kami akan segera menggelar pesta pernikahan seperti yang papaku janjikan". Ungkap kania lagi yang tentu saja membuat Niko dan Anita membelalakkan mata lebar.
"Kania... Kamu, maksud kamu apa?" Tanya Niko yang tidak mengerti setelah sadar dengan ucapan Kania.
"Papa janji sama aku kalau aku mau kuliah, papa akan nikahin kita mas nik. Mas nik seneng kan?" Tanya Kania dengan mata berbinar. Bukan malah terusik dengan kehadiran Anita.
"Aku nggak bisa berkata-kata lagi sama kamu kania,", ucap Niko frustasi.
"Mbak Anita, udah deh. Jangan mau di bohongi mas Niko. Mungkin mas Niko cuma mau main-main aja sama mbak Anita. Jodoh sebenarnya mas Niko itu, aku"
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1