PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 49


__ADS_3

Saat ini, Kania tengah berjalan canggung menuju ruang tamu kediaman Fandyka. Di sana, sudah duduk Niko dengan wajah datarnya dengan di apit oleh ayah dan bundanya. Di sofa yang lain, Fandy dan Nawal juga duduk berdampingan.


Kania mendadak kaku. Kegugupan seketika melanda. Apa yang harus Kania katakan bila papanya bertanya tentang lamaran Niko?


"Sini sayang..... ayo duduk sini. Ada ayah sama bundanya nak Niko ingin ngobrol-ngobrol sama Kania. Ayo sini......." Pinta Nawal lembut.


Semua nampak menampilkan senyum hangat. Berbeda dengan Fandy yang merasa terkesan memaksakan senyum. Bagaimana tidak? Putri kecil yang selalu bergelayut manja di lengannya, kini harus rela ia lepaskan untuk pria yang tulus mencintainya.


Bagi Fandy, Kania tetaplah putri kecilnya. Bidadari mungilnya. Di usianya yang masih menginjak angka sembilan belas tahun, membuat Fandy merasa sedikit berat kalau-kalau Kania harus menerima pinangan Niko.


Bukan masalah berat bila pria itu adalah Niko, Niko dirasa Fandy juga anak baik dan cukup bertanggung jawab. Rasa berat itu cenderung karna Kania masih lah sangat muda.


Kania berjalan perlahan menuju orang tuanya. Sebagai orang tua, Fandy mau tak mau harus rela bila sang putri menerima pinangan Niko.


"Sayang, ini orang tua Niko datang untuk berbicara dengan kania." Ujar Fandy dengan menatap sang putri. Yang di tatap hanya tersenyum malu sembari menundukkan kepala.


"Nak Kania, nak Kania sehat?", Tanya bunda Niko dengan menyertakan senyum hangatnya.


"Alhamdulillah sehat, bunda".


"Ehmm begini, kedatangan kami kemari.... terutama ayah dan bunda jauh-jauh dari kampung, ingin melamar kamu untuk putra ayah, Niko. Apa nak Kania bersedia? Maaf kalau kedatangan kami kemari tanpa ada nya konfirmasi terlebih dahulu", ungkap ayah sopan.


"Namun, perlu saya sampaikan sekali lagi.... Niko bukanlah berasal dari kaum berada nak, melainkan dari keluarga sederhana. Jadi ketahuilah, Kami berjanji untuk meminangmu dengan setulus hati, membahagiakan mu dengan penuh cinta kelak di rumah sederhana kami". Lanjut ayah.


Kania mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia seperti linglung, menatap semua orang dengan bingung. Sejatinya, Kania masih mencerna apa yang baru saja ia dengar.


Andai saat ini Kania tak berhadapan dengan calon mertua, pastilah Kania akan jingkrak-jingkrak kesenangan dan loncat-loncat bahagia.

__ADS_1


Beruntung ada ayah dan bunda Niko. Jadi lah Kania menahan gejolak di hatinya dengan tetap bersikap sopan. Ah biarlah, nanti jika Niko dan keluarganya sudah pulang, Kania berniat untuk menjadikan ranjangnya sebagai panggung kebahagiaan dengan jingkrak-jingkrak diatasnya.


"Em... saya... saya..." Kania gugup luar biasa. keringat dingin mengucur deras di sepanjang pelipisnya. Fandy dan Nawal yang menyadari itu segera menenangkan putrinya dengan mengusap pelan punggung sang putri.


"Sayang... tenang ya, jangan gugup. Kamu ikuti kata hati kamu.", ujar Fandy menenangkan.


"Apa mas Niko beneran melamar aku? Aku cuma remaja labil yang mungkin akan membuat mas Niko risih sama tingkah aku. Kalaupun mas nik tetep sayang sama aku, aku janji akan memperbaiki sikap aku", jawab Kania setelah ia berhasil mengumpulkan keberaniannya.


"Aku sayang sama kamu Kania, Harus dengan apa aku membuktikan? Beberapa hari ini kamu mengacuhkan aku, apa kamu pikir aku baik-baik aja?" Niko berusaha menepis rasa sungkannya terhadap orang tua Kania.


Beberapa hari ini, Niko memang merasa kacau karna Kania mengabaikannya. Itulah mengapa di pertemuan ini, Niko mencurahkan gundah gulana yang ia tahan seorang diri.


"Jadi bener kamu serius sama aku?", Kania bertanya sekali lagi untuk memastikan. Kania tentu saja enggan berkomentar membuang waktu lagi.


"Aku serius melamar kamu. Kalau memang dengan lamaran ini mampu bikin kamu nggak menjauhi aku, kenapa tidak?".


Semua orang terkejut setengah mati, menatap Kania dengan tidak percaya. Kania, dengan percaya dirinya meminta pernikahan secepat itu di depan keluarga Niko. Tentu saja Nawal syok dengan tingkah putrinya.


Nawal berpikir, Kania akan menolak lamaran ini melihat tingkah Kania yang acuh terhadap Niki belakangan ini. Begitu pun dengan Fandy yang bahkan lidahnya terasa kelu, tak mampu berkata-kata lagi.


'Kania... kurang ajar kamu. Aku pikir kamu akan nolak, ternyata kamu minta nikah Minggu ini. Gawat.... bisa di godain habis-habisan sama bunda ini. Gimana dong tuhaaan....'


Batin Niko frustasi.


Ya tuhan, berurusan dengan Kania nyatanya tak semudah yang Niko bayangkan.


"Kuliah kamu?" Tanya Niko berusaha mencari celah. Maksud dan kedatangan Niko, harapannya untuk bertunangan dulu dengan Kania. Meminta segera di nikahi benar-benar diluar spekulasi Niko.

__ADS_1


"Kuliah kan bisa sambil nikah, mas Niko. Atau kalau mas Niko keberatan aku kuliah ke Australia, Aku bisa minta papa untuk batalin penerbangan aku. Aku paham kok sepasang pengantin baru berat rasanya kalau harus jauh-jauhan" ungkap Kania panjang lebar bar dengan begitu ringannya seringan bulu.


Niko dan ayah bundanya melongo mendengar alasan Kania yang begitu jujur.


'Calon istriku bener-bener nggak punya filter kalau ngomong' batin Niko.


"Kania... nikah itu nggak main-main loh sayang. Kania serius?", Tanya Nawal. Ia berharap apa yang putrinya katakan hanya bagian dari bercandanya. Fandy bingung harus berkata apa.


Fandy mendesah pasrah. Bagaimana mungkin Fandy memiliki putri yang begitu jujur seperti Kania.


"Aku juga serius, ma. Kalau nunda-nunda itu nggak baik juga. Entar keburu dibisikin setan harus ini dan harus itu yang mungkin aja berujung gagal nikah. Lagian kalau kelamaan juga aku khawatir mas Niko di tikung orang", Jawab Kania.


Ayah dan bunda Niko hanya melongo tak percaya karna nyatanya wanita pilihan putranya merupakan anak yang begitu polos. Bunda jadi khawatir dengan nasib putranya kedepannya.


"Ya sudah kalau itu maumu. Mama cuma bisa dukung. Masalah kuliah, kamu konfirmasi sama papa.", Jawab Nawal pasrah. Melawan Kania sama saja memperburuk keadaan. Yang ada Nawal akan semakin pusing sendiri di buatnya.


Kania kembali menatap Niko dengan mengulas senyum manis. Kania, nyatanya mampu merobohkan dinding pertahanan Niko.


Niko merasa bingung sendiri bila harus menghadapi Kania. Jadi Niko lebih memilih diam dan membiarkan para orang tua mengendalikan topik perbincangan.


Fandy kebingungan sendiri yang ngahdaoi tingkah putrinya. Sungguh, biaya yang Fandy keluarkan untuk keberangkatan putrinya dan biaya kuliah di Australia tidak lah sedikit. Dan kini Kania meminta menikah dalam waktu minggu-minggu ini?


Kania benar-mar mengacaukan situasi.


Tak jauh dari Fandy, Niko terbengong dengan wajah pucat pasi. Sungguh Niko sebenarnya belum siap untuk menikah. Namun untuk mundur pun, Niko merasa tak mungkin.


Menikah? Minggu ini? Ya tuhan, Niko tak pernah berpikir seperti ini sebelumnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2