PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 33


__ADS_3

Nawal menatap putrinya dengan perasaan yang sulit di ungkapkan. Antara rasa sedih, sesal, dan tak berdaya bercokol sekaligus dalam satu lubang di hatinya. Ibu mana yang sanggup melihat putrinya lebih kurus dan kacau seperti itu?


Jelas-jelas Kania lebih menderita. Lalu, mengapa selama ini dirinya tak memikirkan perasaan putrinya sendiri? Pantaskah dirinya di sebut sebagai seorang ibu?


Sedikitpun, sedikitpun Kania tak menatap ke arah Nawal dan Fandy. Dirinya menguatkan hatinya demi tak memuntahkan segala unek-uneknya yang ia pendam seorang diri. Bukan karena Kania masih memiliki harapan banyak tidak. Tetapi karena Kania sudah berhenti berharap apapun semenjak kepergiannya setahun lalu. Terlebih, ketika ingat dirinya di acuhkan oleh kedua orang tuanya, menyisakan sakit yang hingga kini merangkul batinnya.


"Siapa nama si kecil, nak?"


Bibir Nawal bergetar pelan ketika bertanya. Ia sebenarnya ingin memeluk Kania, tapi urung ketika melihat tatapan dingin dan berjarak yang Kania perlihatkan.


"Anika Humaira".


Kania rupanya berhasil menguasai dirinya. Tak membiarkan tubuhnya memperlihatkan kerapuhan hatinya.


"Cantik sekali. Mama ingin gendong, apa boleh?"


Kania semakin mengeratkan pelukannya pada Anika, seolah tidak mengijinkan siapapun untuk menyentuh putrinya. Bahkan tadi, ketika dirinya tersadar dan melihat Niko yang tengah menggendong Anika, Kania segera mengambil paksa Anika dengan kasar.


Menyadari bahwa situasinya sedang tak baik, Fandy menyentuh bahu Nawal dan memberi isyarat, agar tak memaksa Kania. Nawal faham, dan mengangguk sembari tersenyum, meski hatinya berdarah akibat menerima penolakan dari putrinya.


Baik Ken, Niko dan Fandy, sama sekali tak mengalihkan tatapan mereka pada Kania.


Hari telah beranjak malam, udara semakin menusuk hingga ke tulang belulang. Kania sungguh tak nyaman berada dalam keheningan seperti ini, di tengah-tengah keluarganya. Ia lelah dan ingin mengakhirinya.


"Pergilah dari sini. Aku dan putriku ingin istirahat".


Ucapnya tegas tanpa ingin di bantah.


"Aku akan menginap di sini".


Sahut Niko secara spontan yang tentu saja, mendapat tatapan tajam dari Kania.


"Jangan mimpi! Tempatmu bukan di sini."


Kania menolak mentah-mentah pernyataan Niko. Enak saja, setelah setahun lamanya ia menjauh demi bisa menghindari berinteraksi dengan Niko agar tak lagi tersiksa batinya, Niko sekarang akan tinggal di sini. Yang benar saja? Kania tentu tidak mau nanti hatinya kembali luluh begitu saja bila terus bersama dengan Niko. Terlebih, perlakuan Niko yang lembut.


Tidak! Kania jelas tidak akan mau hal itu terjadi.

__ADS_1


"Tapi aku suamimu".


"Hanya di atas kertas. Jangan lupakan hal itu. Lebih dari tiga bulan kita nggak bersama, maka sudah sepatutnya kita bercerai saja. Aku bisa hidup tanpa kamu."


"Sayang, beri aku kesempatan".


"Tidak. Pulanglah dan jangan pernah kembali!"


Kania sendiri sejujurnya terpana ketika mendapati dirinya seberani ini menghadapi keluarganya, juga suaminya. Terlebih, ia tak lagi meneteskan air matanya. Namun ya, tentu saja dengan kerja keras menahan air mata agar tak tumpah begitu saja.


"Tapi aku nggak akan kemana-mana kalau nggak sama kamu".


"Aku nggak peduli!!"


Selanjutnya, keheningan kembali mengisi di ruangan yang cukup sempit itu. Bahkan Kania merasa gerah ketika melihat kakak kandungnya sendiri. Kania muak.


"Dek, mas minta maaf".


Kenan memulai pembicaraan.


Kania tak juga menjawab dan hanya memalingkan wajah sambil memeluk Anika. anak itu masih anteng dan terus memejamkan matanya.


Hingga suara deru mobil yang berhenti tepat di depan rumahnya, barulah Kania mengalihkan pandangannya tepat di pintu.


Niko dan Nawal keluar dari sana, menyambut kedatangan ibu Niko yang membawa serta Fatih dalam gendongannya. Meski usia ibu Niko tak lagu muda, namun senyum hangatnya menawarkan kedamaian dan ketenangan.


Sejenak, Kania mulai goyah ketika menatap putranya yang kini telah tumbuh menjadi balita yang luar biasa tampan. Garis wajahnya kian tegas seperti ayahnya, Niko. Anak itu terlihat celingukan dan meminta Niko untuk meraihnya ke dalam dekapannya.


"Papa......."


Niko meraih Fatih dan membawanya ke hadapan Kania. Air mata yang sedari tadi di tahannya mati-matian, kini Kania lepaskan tanpa pikir panjang. hatinya terlampau rapuh ketika melihat putranya sudah tumbuh hingga sebesar ini.


"Sayang, ini mama..... coba Fatih panggil mama".


Niko berkata dengan suara lembut.


"Mama........"

__ADS_1


Kania menarik Fatih ke dalam dekapannya, tak peduli bahwa kini, dirinya tengah berdekatan dengan Niko. Sesuatu yang di hindari ya semenjak Niko datang.


"Fatih.... ini... mama, nak.... Mama kangen..... Fatih udah sebesar ini. Mama..... mama minta.... maaf.."


Suara Kania terseguk tak terkendali. Tangisannya pecah begitu saja tanpa mempedulikan Anika yang kini bergerak-gerak tak nyaman.


Dalam situasi seperti ini, tentu saja Nawal mengambil kesempatan untuk meraih cucu perempuan yang terlahir dari Kania itu, mendekapnya dalam gendongan Kania pasrah dan hanya ingin meluapkan kerinduannya pada sang putra.


"Mama......"


"Iya, nak. Ini mama..... Fatih lupa sama..... mama?"


Anak itu tersenyum dan tersenyum polos.


Kania menciumi sekujur wajah putranya dengan penuh sayang dan kerinduan. Biarlah, untuk masalah Fatih, Kania tidak akan mempertahankan egonya.


Niko dan semua yang ada di sana, menangis haru atas pertemuan Kania dan Fatih. Tak ada yang bisa mendeskripsikan kebahagiaan ketika melihat ibu dan anak kembali bertemu setelah berpisah selama setahun.


"Mama sayang sama Fatih. Maaf.... maaf kalau mama meninggalkan Fatih dan nggak membawa serta anak mama ini. Mama hanya ingin Fatih nggak kekurangan apapun kalau ikut mama. Mama...... bukan mama yang asik, kan buat Fatih?"


Semua terhenyak mendengar kalimat Kania, yang enggan menyeret putranya ke dalam kehidupan yang susah.


"Sayang...... maafkan aku. Aku yang Menjadi akar dari masalah ini. Tolong, demi Fatih, kita bicara baik-baik dan dari hati ke hati".


Pinta Niko lagi. Suaranya masih selembut sutera.


"Aku ingin sendiri dan jangan melewati batas yang sudah aku tentukan!".


Kania menjawab dengan suara bergetar. Sejujurnya, Kania masih sangat mencintai lelakinya itu. Tapi Kania tak akan memaafkan Niko dan keluarganya begitu saja.


Ibu Niko yang memang faham akab sifat menantunya yang keras kepala, hanya tersenyum dan mengimbangi emosi Kania.


"Jangan paksa, Niko. Istrimu masih butuh waktu."


"Ibu...." Kania tercekat dan baru menyadari kedatangan ibu mertuanya.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2