PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 10


__ADS_3

"Loh, pak Rio, pak Kenan.... Makan di sini juga?"


Wajah Dira tiba-tiba muncul tanpa di undang. Mata ketiga pasang milik para pria tampan itu sontak tertuju pada Dira yang tersenyum manis dan dandanan yang cukup memikat. sayangnya, hanya Rio di sini yang sedikit terpikat, namun tidak sampai pada tahap ingin memiliki.


"Eh, Bu Dira. Iya, bu. Boleh, ayo gabung".


Celetuk Rio tanpa meminta persetujuan sahabatnya. Sontak saja, baik Ken maupun Niko menatap tajam Rio yang hanya cengengesan ketika merespon tatapan mengerikan dari sahabatnya.


Dira duduk. Mengambil pada posisi tepat di samping Kenan. Kenan meradang pada Rio yang seenaknya. Ia meraih ponsel di saku celana nya dan mengetikkan sebuah pesan pada Rio.


Sepertinya bukan depan akan ada pemangkasan gaji sekertaris.


Pesan terkirim pada nomor Rio. Rio mengeceknya dan melotot ketika membaca isi pesan dari Kenan.


Sontak ia memberi isyarat pada nik untuk pergi dari sana.


Baru saja Dira memesan minuman dan menu makan siangnya kali ini, kalimat Rio membuatnya terkejut dan kecewa.


"Wah, maaf pak Ken, Klien kita yang dari Surabaya sepertinya akan datang setengah jam lagi. Kita harus segera sampai di sana secepatnya."


Ungkap Rio penuh sesal. Dan Ken mengangguk ke arahnya dengan senyum datar.


"Dan sepertinya papa akan datang sebentar lagi. Gue duluan, ya".


Niko berpamitan dan mendapat anggukan dari Rio maupun Kenan.


"Kalau begitu, maaf Bu Dira. Kami permisi dulu. Selamat makan siang".


Rio bangkit berdiri. Berjalan mengekor di belakang Kenan. Sepertinya, Kenan benar-benar tak ingin di usik kali ini. Baiklah, sepertinya Rio perlu memantau wanita yang bernama Dira ini. Rio akan cari tau latar belakangnya tanpa Kenan minta.


Dira kesal setengah mati. Raut wajahnya menggelap penuh amarah. Dirinya tengah mengincar posisi sebagai pasangan bos besar pemilik tempat nya bekerja, namun selalu berakhir gagal dan mengenaskan. Kini, Dira menatap makanan yang tersaji di depannya dengan hati nelangsa dan tanpa selera. Makanan yang semula tersaji menggugah rasa lapar, kini tak lagi menjadi hidangan yang menarik minat.


Dengan perasaan dongkol, Dira melanjutkan niatnya untuk makan siang. Bekerja keras untuk mengejar apa yang jadi incaran kita butuh tenaga yang benar-benar ekstra, bukan?


Dira berdecak kesal.


Niko hanya memperhatikan wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Dira itu dengan pandangan selidik. Mata tajamnya menyorot dalam pada wanita itu.


Sungguh kentara sekali niat wanita itu dalam mendekati Kenan. Seharusnya, Dira tak bermain-main dengan orang yang bukan tandingannya, karna percuma dan hanya akan berakhir gagal.

__ADS_1


Dalam perjalanan, Rio berusaha mengajak Ken berbicara seolah tak ada apapun yang terjadi. Dirinya berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan mood Kenan yang terlanjur memburuk.


"Bos, kayaknya Bu bos butuh liburan keluar rumah deh, buat akhir pekan. Lo kekepin melulu di rumah apa nggak basi, tuh?"


Ucap Rio sembari terkekeh pelan.


"Sejak kapan Lo perhatian banget sama bini orang?"


Rio melirik sekilas ke arah Kenan, kemudian menelan salivanya yang mendadak pahit dan.


"Jangan salah faham gitu dong, bos. Maksud gue nyaranin Lo buat ajak Bu bos jalan-jalan".


"Nggak usah mengalihkan perhatian. Lain kali, kalau Lo sengaja membiarkan Dira mendekati gue, habis Lo!!"


"Iya-iya, maaf". Ucap Rio lirih. Sepertinya, ancaman Kenan kali ini tak main-main. Rio harus hati-hati untuk ke depannya.


~~


~~


"Kamu mau di bawakan oleh-oleh apa nanti, nja?"


"Itu aja?"


"Iya, deh. Itu aja".


"Ya udah, habis ini aku belikan. Ini udah di jalan".


"Ya udah, mas. Hati-hati".


"Oke, sayang."


Ken memutuskan sambungan telepon usai berbicara dengan istrinya. Wajahnya menjadi lebih riang meski letihnya usai bekerja masih ia rasakan.


Usai membelikan sate untuk istri tercinta nya, Ken segera bergegas pulang dan tak sabar untuk segera sampai di rumah.


"Mas, udah pulang?".


Sambut Anja sambil mencium punggung tangan suaminya. Tangan kirinya membelai lembut perutnya yang sudah nampak buncit.

__ADS_1


"Iya, nih pesenan kamu. Kita makan malam bareng, ya. Biar aku mandi dulu. Gerah soalnya".


Ucap Kenan sambil berlalu. memeluk bahu istrinya. Kantung kresek berisi sate telah berpindah ke tangan Anjani.


"Vanya mana?"


"Tadi di bawa mama ke kamar mama. Tau lah. Anak itu lebih Deket sama mama papa di banding kita. Oh ya, mas. Aku mau ngomong sesuatu nanti sama kamu".


Ken mengernyitkan kening.


"Ngomong apa? Ngomong aja."


"Nanti kalau kamu udah mandi udah makan".


"Aku mau sekarang karna aku nggak mau penasaran. Titik".


"Kita ke kamar". Ajak Anjani setelah meletakkan bungkusan makanan Yangs suaminya bawa, di meja makan.


Baik Anjani maupun Kenan, mereka sama-sama seperti enggan untuk menunda lagi. Anjani yang tak sabar ingin mengetahui jawaban suaminya, dan Kenan yang tak sabar ingin tau masalah istrinya.


"Sekarang kamu duduk".


Ken membimbing istrinya duduk di sofa bed di kamarnya.


"Apa yang mau kamu tau?"


Anjani nampak menghela nafas panjang sebelum menghembuskannya perlahan, sebelum menanyakan sesuatu yang mengganjal pikirannya sejak tadi pagi.


"Siapa Bu Wandira? Kenapa dia sering ngirimin kamu chat berisi perhatian kecil yang seharusnya pantas di berikan kepada kekasih?


Maaf. Maaf sekali.


Aku nggak sengaja baca chat dari Wandira pagi tadi di ponsel kamu mas, waktu mas mandi. Mau menanyakan langsung, tapi kamu keburu berangkat kerja dan aku nggak mau mas terlambat".


Kenan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Menimang-nimang kata yang sekiranya pantas ia ucapkan untuk meyakinkan istrinya.


...


...

__ADS_1


__ADS_2