PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 15


__ADS_3

Seorang wanita tengah berjalan kaki di sepanjang jalanan setapak di daerah pedesaan, tepatnya di desa Baleadi-Sukolilo, Pati Jawa tengah.


Sudah sekitar satu bulan berlalu, Anjani meninggalkan rumah majikannya tanpa pamit. Kini, Anjani berjalan Luntang Lantung tanpa arah tujuan. Uang tabungan dan hasil penjualan emas pun sudah sangat menipis.


Kini, Anjani benar-benar telah hidup seorang diri. Usia kandungannya yang sudah memasuki usia empat bulan ,mulai terlihat sedikit membuncit.


Sebelumnya, Anjani tinggal di tempat kost daerah Pacitan. Namun, karna di sana keadaan Anjani yang hamil dan tak bersuami, Anjani selalu mendapat hujatan dan cibiran dari para warga sekitar. Hingga Anjani di usir paksa dari sana.


Waktu menunjukkan pukul 10.12. Anjani duduk termangu di sebuah pos kamling. Ingin menangis, namun ia tahan karna malu. Sebulan ini, Anjani menjalani hidup dengan berbagai macam kesulitan seorang diri.


Hingga suara lembut seorang wanita berpakaian syar'i menyapa Anjani.


"Nduk, Kamu siapa dan.... dari mana? Kok sendirian? Kamu mau kemana?".


"Saya Ndak punya tujuan, Bu. Saya mencari tempat tinggal", Jawab Anjani dengan bibir gemetar. Sesungguhnya, Anjani saat ini belum sempat makan. terakhir ia makan malam tadi, itu pun hanya nasi bungkus yang isinya hanya sedikit.


"Kamu pucat, Apa ada masalah? Kalau kamu butuh tempat tinggal, Kebetulan di pesantren ada kamar kosong di sebelah kantin. Kamu boleh pakai kamar itu sekalian kalau mau buka usaha jualan makanan ringan". Tanya sang wanita yang mengenakan pakaian syar'i tersebut. Suaranya sangt lah lembut.


"Saya sebenarnya.......saya mencari tempat tinggal Bu. Tapi banyak orang yang tidak mau menerima saya karna keadaan saya yang hamil dan tanpa suami. Saya Ndak maksa ibu mau Nerima saya, karna.... saya sangat kotor. Saya Ndak akan marah kalau ibu juga membenci saya". Air mata Anjani tak terbendung lagi. Suaranya melemah saat kalimat terakhirnya meluncur begitu saja.


Anjani benar, dalam keadaannya yang saat ini, tidak mungkin Anjani untuk menutupi kandungannya lagi. Usia kandungan yang sudah memasuki usia empat bulan, secara otomatis perutnya akan semakin membuncit seiring bertambahnya waktu.


"Masya Allah. Seburuk apapun kamu, bukankah sesama manusia, ibu Ndak berhak menghakimi mu. Sekarang, ayo ikut ibu. Ibu bawa kamu ke pesantren".


"Bu, kalau boleh tau, berapa biaya sewa kamarnya per bulan? Masalahnya Uang saya saat ini tidak lah banyak".


"Jangan memikirkan itu, yang penting sekarang kamu punya tempat tinggal dulu. Kamu boleh tinggal di sana kapan pun, dan selama apapun. Ibu tidak menyewakan kamar. Ngomong-ngomong, nama mu siapa?".


"Saya, Anjani Syafa Zulaikha. ibu bisa panggil saya Anja. Kalau ibu?".


"Saya Galuh. Suami ibu pemilik pesantren di dekat sini. Nanti ibu kenalkan kamu dengan beliau".


"Saya takut Bu. Bagaimana kalau....?".

__ADS_1


"Suami ibu orangnya ramah, Jangan samakan beliau dengan orang-orang lainnya". Anjani tersenyum lega.


Takdir memang sedang mempermainkan mereka, mengaduk-aduk perasaan rapuh dan jiwa ringkih mereka. Siapa yang tau bahwa sebenarnya, Galuh adalah putri sulung paman parman. Paman Nawal yang tinggal di daerah temanggung. Dulu, paman parman lah yang menampung Nawal saat Nawal pergi meninggalkan Fandy.


Jarak tempuh dari temanggung ke daerah Pati, hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam saja.


Hingga Anjani di sebuah rumah sederhana namun begitu luas. Anjani di persilahkan duduk di kursi ruang tamu, sedangkan Galuh masuk ke dalam rumah untuk memanggil suaminya.


Setelah Anjani duduk hampir setengah jam, Galuh tak kunjung muncul, Anjani merasa cemas dan takut.


Tak lama, Galuh datang dengan seorang pria paruh baya. Anjani tersenyum lega dan segera menunduk hormat.


"Anja, kenalkan, ini suami saya, Arsyad. Anak-anak pesantren biasa memanggil dengan sebutan pak kyai".


"Saya, Anja pak kyai".


"Istri saya sudah menceritakan semua tentangmu. Kamu boleh menempati sebuah kamar kosong di sebelah kantin. Biar nanti, istri saya yang mengantar mu".


"Injeh, pak kyai".


"Saya dari Banyuwangi pak kyai". Kyai Arsyad hanya mengangguk tanda paham.


"Kalau begitu, saya harus keluar dulu ke pesantren dekat sini. Ada yang harus saya urus di sana", ucap kyai Arsyad dan mengalihkan pandangannya pada sang istri, "Bu, tolong antarkan Anja ke sana, ya".


"Injeh, mas".


"Kalau begitu, saya berangkat dulu Asaalamualaikum".


"Wa'alaikum salam". jawan Galuh dan Anjani bersamaan.


"Nja, kamu lapar? Ayo ke belakang dulu. Ada sedikit makanan. Semoga kamu suka".


"Terima kasih Bu", Mata Anjani seketika berbinar-binar.

__ADS_1


...........


Di waktu yang sama dan tempat yang berbeda, Seorang wanita paruh baya tengah terbaring lemah di ranjang kamarnya, sesekali dokter datang mengontrol keadaannya. Akhir-akhir ini, kesehatannya semakin memburuk karena terlalu lelah berpikir dan mencari keberadaan putri semata wayangnya.


Di sebelahnya, seorang pria muda menatap ke arah wanita itu dengan mata berkaca-kaca. Tangan wanita itu menggenggam sebuah surat yang di tinggalkan anaknya sebulan yang lalu.


"Bi, bibi harus sembuh. Bibi ingin ketemu sama Anja, kan? Kalau bibi sakit, Anjani pasti akan sangat sedih".


"Tolong, tolong jangan menyakiti Anjani lagi, den. Anja anak yang penurut. Tolong temukan Anjani untuk bibi. Bibi mohon, den". Pinta bi Tarsih dengan mata berkaca-kaca. Kenan semakin di tikam rasa bersalah yang luar biasa. Penyesalannya terasa berkali-kali lipat dan semakin membesar setiap waktunya.


"Maafin Ken, bi. Ken sadar Ken salah. Ken janji akan mencari Anjani terus sampai ketemu. Kenan janji akan bertanggung jawab bi, Ken menyesal. Setelah Anjani pergi, Ken baru sadar kalau Kenan merindukan dan mencintai Anjani. Tapi, apakah masih pantas Kenan mendapatkan cinta Anjani setelah apa yang Ken lakukan pada Anjani?". Suara Kenan mendadak melirih.


"Anjani anak baik, den. Anja pasti akan memaafkan Aden". Kenan tersenyum lega. Setidaknya, saat ini Kenan sudah mendapat restu dari ibu Anjani.


Kenan kembali ke kamarnya. Pikirannya tengah kacau sekarang.


Dulu, Anjani sama sekali tidak ada dalam daftar orang yang ia sayangi. Namun, siapa sangka, kini Anjani mampu menempati hatinya secara penuh.


Kenan termangu, mengingat kembali saat pertemuan terakhirnya dengan Anjani. Anjani memintanya agar Kenan tak menyesal apalagi mencari Anjani setelah Anjani pergi.


Tapi kini, Ken kehilangan arah. Hidupnya terasa sangat kacau semenjak Anjani pergi. Ia merindukan Anjani dengan sangat dalam. Hatinya merasa hancur saat mengetahui fakta Anjani meninggalkannya dengan membawa serta janin dalam kandungannya.


Kenan merasa bodoh sekarang.


Andai ia tidak merendahkan Anjani.


Andai ia bertanggung jawab saat itu juga.


Andai ia merendahkan egonya sejenak saja.


Andai ia tak mengikuti taruhan sialan itu.


Andai cintanya pada Anjani hadir saat Anjani masih ada di sisinya.

__ADS_1


Namun sayang, semuanya hanya menjadi andai andai belaka.


__ADS_2