
"Anjani Syafa Zulaikha, Aku mencintaimu. Tolong jangan mengabaikan aku dan jangan meninggalkan aku lagi",
Anjani berbalik menatap Ken yang berdiri tak jauh darinya. Jantungnya kembali berdegub kencang. Pusaran badai kembali menggelar di hatinya. Darahnya mengalir deras bak air terjun yang berjatuhan. Anjani mematung,sedang Kenan, menatapnya dengan pandangan syahdu dan penuh cinta.
Anjani hampir saja hanyut dalam tatapan mata Kenan yang begitu memikat. Tapi tidak, Anjani harus segera sadar dan tidak mau terperosok lebih dalam lagi pada kubangan cinta milik Kenan. Beruntung, di lantai dua tidak ada aktifitas sama sekali. Tidak ada yang boleh naik ke lantai 2, siapapun itu kecuali pemilik rumah.
"Untuk apa bertahan dengan seseorang yang nggak menginginkan kehadiranku lagi, mas? Aku tau aku wanita lemah dan nggak punya harga diri lagi di matamu."
"Kamu berharga Anjani. Kamu nggak tau hari-hari aku mencarimu kesana kemari. Mengorek informasi keberadaan mu yang nggak meninggalkan jejak sama sekali. Aku mencintaimu Anja, lebih dari ap......".
"Karna aku mengandung anak kamu? Itu kan tujuan kamu menikahi aku? Jangan berpura-pura baik, mas. Aku nggak akan terpengaruh".
"Dengan cara apa lagi biar kamu yakin dengan ku, Anja?", Suara kenan melemah seiring kepercayaan dirinya yang terkikis oleh kekecewaan Anjani.
"Nggak ada. Nggak ada cara lain lagi, mas. Mari kita jalani sandiwara rumah tangga seperti yang kamu mau. Setelah anak kita lahir, Kamu bisa menceraikan aku", Suara Anjani bergetar, Tidak mampu lagi menahan air matanya yang siap tumpah di hadapan lelaki yang belum genap dua jam menjadi suaminya ini.
Kenan syok. Bagaimana mungkin Anjani membicarakan perceraian di saat ijab Qabul baru saja di gelar? Bahkan, para kerabat pun belum pada pulang. Kenan tersentak dan segera berlari menyusul Anjani yang sudah duduk bersimpuh di lantai tepat sebelah ranjang.
"Nja, katakan kalau kamu bercanda. Iya kan? Kamu nggak serius kan? Kamu bercanda, kan? Kamu nggak serius kan? Nja.... Aku baru mau memulai hubungan rumah tangga dengan sepenuh hati, Kamu ngomong cerai,,,, itu cuma bohong kan?",
Kenan memberondong Anjani dengan banyak pertanyaan. Anjani juga hancur karna ucapannya sendiri. Kendati demikian, Anjani harus tetaplah menyiapkan hati untuk segala kemungkinan buruk di masa depan.
Anjani meraih kedua telapak tangan Ken yang mencengkeram bahunya, kemudian menghempaskan pelan.
"Udah aku katakan, aku memang nggak pantes buat kamu, mas. Antara kita, tidak ada yang membenarkan kita b rumah tangga".
"Siapa orangnya? Siapa orang bodoh yang ngomong gitu ke kamu, nja. Siapapun nggak berhak ngatur kita". Ken menjeda kalimatnya dan wajahnya menatap lekat Anjani. "Aku mau memulai dari awal lagi semuanya, nja. Tolong, kasi aku waktu untuk memperbaiki semuanya".
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Anjani. Suasana mendadak hening. Kemudian, Kenan meraih tubuh ringkih Anjani ke dalam pelukannya. Anjani yang mendapat perlakuan tiba-tiba pun menjadi terpaku dan rasanya sulit untuk memberontak.
Pelukan ini adalah pelukan pertama mereka setelah mereka berpisah berbulan-bulan lamanya. Ken mendekap erat tubuh Anjani.
"Seberapa berharganya aku buat kamu, mas?", Air mata Anjani lebih deras lagi mengalir. Kemeja dan jas yang Kenan gunakan sekarang pun basah karenanya.
"Tidak ada apapun yang bisa menyetarai dengan kamu, nja. Aku mencintaimu. Kehilangan kamu berbulan-bulan lamanya membuat aku hampir gila di buatnya. Aku mohon, jangan pergi lagi".
Anjani mengurai pelukan Kenan perlahan, kemudian memberanikan diri lagi menatap manik mata Kenan.
"Bukannya kamu lebih seneng saat aku pergi?".
"Ya. Aku bahagia dalam satu hingga dua hari. Namun, hari ketiga aku merasa sangat kacau karna di Landa rindu sama kamu yang pergi gitu aja. Hingga seminggu berlalu, saat itulah aku baru nyadar, kalau aku nggak bisa kehilangan kamu, nja. Aku cinta sama kamu. Aku sangat sayang sama kamu". Ken tersenyum kecut menceritakannya. Ada luka dalam yang memancar dari mata indahnya. Meski Ken merasa mampu menyembunyikannya.
Anjani terkesiap. Bagaimana mungkin? Tidak tidak. Anjani tidak mau tertipu dengan Kenan lagi. Anjani tidak ingin mengulang kesalahan lagi. Baginya, pernikahan ini hanyalah sebuah tameng seorang Kenan agar tetap di cap sebagai pria bertanggung jawab.
................
Tanpa terasa, hari sudah beranjak malam. Anjani merasa semakin linglung. Malam ini, adalah malam pertamanya dengan suaminya, Kenan. Lucu sekali. Anjani enggan melakukan hubungan layaknya suami istri malam ini. Bukankah dulu Anjani begitu tergila-gila dengan sentuhan Kenan?
Selesai makan malam, Nawal segera menyuruh Anjani istirahat karena kondisinya yang belum sepenuhnya stabil. Nawal juga di larang keras melakukan pekerjaan rumah. Entah mengapa, Nawal begitu sangat menyayangi Anjani, bahkan memperlakukan Anjani seperti putrinya sendiri.
Ken masuk ke dalam kamar dan mendapati Anjani duduk termangu di ranjang.
"Nja, Kamu belum ngantuk?", Tanya Ken dengan senyum tipisnya. Anjani mendongak. Menatap Kenan dengan sangat intens.
Dulu, Kenan memiliki tubuh yang ideal, dada bidang dan tubuh yang macho. Namun kini, Ken terlihat lebih kurus. Ada lingkaran hitam di kelopak mata bawahnya, terlihat sekali bahwa saat ini, Kenan kurang istirahat.
__ADS_1
"Belum", Anjani menggeleng pelan, Kenan tersenyum tipis karna menangkap kegugupan Anjani.
"Ayo istirahat, Mama bilang kamu harus banyak istirahat. Jangan kecapekan. Aku nggak mau kamu sakit", Ujar Ken sembari merebahkan diri dan mendekat ke arah Anjani.
Bukan maksud Ken untuk menuntut haknya sebagai suami malam ini. Namun, Ken hanya ingin memeluk Anjani dan tidur bersama, itu saja.
Begitu Ken mendekat, Anjani bergeser. Terlihat sekali bahwa saat ini, Anjani merasa tidak nyaman.
"Kamu kenapa menjauh?".
"A aku... aku.....",
"Kamu enggan aku sentuh?", tebak Kenan dengan dahi mengerut samar. Anjani hanya diam sembari menunduk. Kenan hanya bisa mendesah pasrah.
"Aku akan tidur di sofa", tukas Ken kemudian. Kenan pun beranjak meninggalkan ranjang menuju sofa dengan membawa sebuah bantal dan sebuah guling.
Anjani menatap Kenan yang menjauh darinya. Sebenarnya, ada rasa tidak rela saat Ken meninggalkannya seorang diri di ranjang. Tapi bagaimana pun, Anjani harus tetap membatasi diri dengan Kenan.
Ken pun segera merebahkan dirinya di ranjang dengan menghadap ke sandaran sofa dan membelakangi Anjani. Tanpa terasa, Ken meneteskan air mata. Kenan sadar, Anjani seperti ini karna dulu perlakuan dirinya yang begitu buruk. Jenna berpikir, mungkin hanya masalah waktu. Nanti juga Anjani pasti akan menerimanya sepenuh hati.
Begitu juga dengan Anjani. Anjani juga menangis dalam diam setelah merebahkan dirinya di ranjang. Anjani menatap langit-langit kamar dengan mengusap pelan perutnya.
Dulu, kamar ini sangat sulit untuk Anjani jangkau. Tapi kini, Anjani telah menempati kamar mewah dan luas ini. Sesuatu yang dulu terasa mustahil.
Anjani mengalihkan tatapannya pada sofa tempat Kenan berada. Tanpa mereka sadari, mereka sama-sama menangis. Mereka saling menyakiti diri masing-masing karna mempertahankan ego dan pendirian masing-masing.
'Maafin aku mas' Batin Anjani menjerit.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹