
Di dalam rumah yang Dewa miliki dan dewa rahasiakan dari siapa pun, lelaki itu tengah duduk sambil menyantap hidangan yang Vanya buat untuknya. Siang yang panas, juga menjadi saksi betapa panasnya permainan Dewa dan Vanya baru saja. Keduanya hanyut dalam perselingkuhan yang membuat nyaman.
Meski dalam hati Vanya, ia merasa berdosa sekali karena menghancurkan hidupnya sendiri dan mengkhianati sepupunya, tapi Vanya sudah lelah bila harus mengalah dan membiarkan Dewa bahagia dengan wanita lain.
Egois? Vanya bahkan akan menerima andai ada yang menghujatnya sebagai wanita egois dan perebut laki orang.Untyk sementara, baik Dewa maupun Vanya ingin diam dulu dan menikmati momen kebersamaan mereka. Setelahnya, setelah Vanya benar-benar siap, Dewa akan berterus terang pada keluarga besar Mahardhika.
"Masakan kamu sejak dulu memang anak." Puji Dewa. Vanya hanya tersenyum manis menanggapi. Sejak dulu, Dewa tak pernah berubah.
"Terima kasih." Vanya kembali memandang Dewa yang kembali makan dengan lahapnya. Ia merasa saat ini dirinya seperti tengah berperan sebagai istri simpanan Dewa. Hanya saja, Vanya tak lagi berpikir tentang aib yang bisa menimpa kedua orang tuanya.
"Maaf, Vanya, aku belum bisa memberi tempat yang layak buat kamu. Oh ya, aku udah konfirmasi ke temanku, kalau kamu bisa mulai kerja besok. Bilang juga sama Emi, teman kamu itu kalau kami sudah dapat pekerjaan dan wawancara hari ini. Kamu paham kan?"
Dewa memberi interupsi Vanya, dan Vanya hanya mengangguk tersebab ia tak ingin membantah sedikit pun.
__ADS_1
"Mas, bagaimana kabar Anika sekarang?" Pertanyaan Vanya, membuat Dewa menghentikan gerakannya sejenak, sebelum akhirnya ia kembali menyantap makannya dengan lahap.
"Dia baik. Mama Kania juga datang berkunjung beberapa hari terakhir ini. Jika kita sedang berdua begini, aku mohon jangan tanyakan apalagi membicarakan Anika dan Vio, Vanya. Ingat, aku ingin menikmati momen kebersamaan kita, tanpa ada pembicaraan tentang siapa pun." Tegas Dewa.
Vanya berusaha menahan laju air matanya dengan memalingkan muka. Membayangkan saja, Vanya merasakan ikut kesakitan, seperti apa yang Anika rasakan.
"Tapi aku merasa berdosa sekali, mas."
"Terkadang, dosa dan keegoisanlah yang membuat kita jadi banyak belajar. Sudahlah, aku akan memasang punggung tegak jika ada seorang saja yang berusaha untuk menghancurkan."
"Bagaimana jika semua keluarga besarku tahu tentang hubungan kita, mas? Apa yanga akan terjadi di masa depan?" Vanya berusaha untuk santai, seolah ia terpengaruh apa pun.
"Tak mengapa, aku tak akan keberatan
__ADS_1
andai aku dihajar oleh papamu nanti. Yang penting sekarang, aku bisa hidup berdampingan sama kamu, Vanya. Kamu tahu, aku bahkan udah lama banget menantikan sebuah kebersamaan seperti ini sama kamu. Sayangnya, ini tak bisa kita lakukan seharian penuh."
"Aku juga pengen banget hidup kayak gini sama kamu, mas. Tapi...... aku nggak rela kalau nanti kamu.... pulang. Aku egois ya?"
"Enggak sama sekali. Kita sama-sama saling mencintai, nggak egois karena sebelum sama Anika, kita udah sepasang kekasih. Nggak ada yang boleh menghakimi kamu karena dari awal, aku yang salah dan gegabah dalam mencari langkah. Mungkin udah takdir kita begini. Tenang aja, kita akan mencari jalan keluarnya bersama-sama."
Vanya dan Dewa sama-sama terdiam sejenak.
"Mas, aku ingin kamu nikahin aku. Andai nanti aku hamil, aku nggak mau aku hamil di luar nikah." Vanya mengeluarkan keinginannya.
"Aku udah mikirin semuanya. Nggak mudah untuk dapat restu dari orang tua kamu. aku harap, kamu sabar dulu."
"Aku akan selalu nunggu kamu, mas. Kamu tahu, aku udah melangkah sejauh ini dan berkorban segini besar buat kamu. Aku nggak akan pernah mundur lagi karena semuanya, udah aku persembahkan buat kamu."
__ADS_1
Keduanya hanya tidak tahu, bahwa di luar rumah, ada seseorang yang tengah menatap rumah itu dengan tatapan tajamnya.
**