PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 1


__ADS_3

Langit kota Banyuwangi terlihat cerah dan terang benderang. Kicau burung di pagi buta seperti ini, membuat Zhivanya bersorak kegirangan.


Pagi ini, Nawal tengah mengajak cucu perempuannya bermain di halaman belakang.


Di waktu bersamaan, Kania muncul dengan menggendong Fatih dalam dekapannya.


Al Fatih Baihaqi Mahardhika.


Putra yang Kania lahirkan dua bulan yang lalu.


Anak yang begitu lucu dan menggemaskan, dengan pipi gembil dan seringkali memainkan salivanya.


Dengan keadaan yang masih kacau, Kania menguap beberapa kali dan memang mencari Nawal di halaman belakang.


Dua malam ini, Kania dan Niko memang lah sengaja di minta Nawal untuk menginap di kediamannya.


"Kania.... Kamu....?".


"Aku..... aku masih ngantuk, ma. Tolong ya... Aku titip Fatih dulu sebentar."


"Kamu mau mandi??". Tanya Nawal mengernyitkan dahinya bingung seraya menerima Fatih dari gendongan Kania.


Kania menggeleng.


"Enggak kok, ma. Aku mau lanjut tidur lagi, sebentar aja.". Jawab Kania ringan.


"Oh ya ampuun. Kamu udah jadi ibu sekarang, Kania. Ya tuhaaan. Apa setiap hari kamu selalu gini?" Tanya Nawal yang sedikit jengah dengan kelakuan putri bungsunya ini.


"Enggak kok mah. Kalau akhir pekan aja aku bangun siang. Kan mas Niko juga udah pasti libur. Kalau hari-hari biasa baru aku bangun pagi". ungkap Kania seraya berlalu pergi.


Nawal merasa tak berdaya melihat tingkah putrinya.


Pada saat Kania berjalan menjauh dan hampir mendekati pintu belakang, ia berpapasan dengan Fandy yang memegang koran dari dalam rumah.


"Kania...


Fatih mana?" Tanya Fandy pelan.


"Tuh, Kania titipin mama. Aku mau sambung tidur lagi. Kania mohon bilang sama semua, Jangan ada yang ganggu Kania.".


"Loh, kamu nggak masak? Biasanya kalau pagi rajin banget?".


"Mumpung week end pa. Aku mau nyantai, lagian juga Fatih mumpung sama mama".


"Loh kamu.....".


"Please pah jangan berisik. Aku mau bikin adek Fatih. Biar rumah papa ini makin rame. Papa seneng kan punya banyak cucu??".

__ADS_1


Fandy melongo mendengar pengakuan putrinya.


"Astaga Kania......". Ucap Fandy setengah berteriak. Kania sudah berlari menuju tangga untuk kembali ke atas. Tanpa merasa bersalah ia cengengesan.


"Di kamar, Kania nampak menghempaskan tubuhnya pelan. Niko tidak ada. Mungkin mandi, suara gemericik air di kamar mandi Kania begitu berisik bagi Kania.


Tak menunggu waktu lama, Kania kembali terlelap dan mendengkur halus.....


Hingga saat sarapan tiba. Waktu telah menunjukkan hampir pukul 8 pagi.


Semua sudah berkumpul di meja makan.


Vanya dan Fatih tengah berada di ruang keluarga bersama pengasuh mereka. Satu jam yang lalu, Vanya sudah selesai sarapan.


Wajah sumringah Kania membuat semua orang geleng-geleng kepala.


"Woii.... kenapa Lo? Kesambet?", tanya Kenan dengan heran.


"Biasalah.... Habis di kasih jatah lebih sama mas Niko". Ucapnya ringan, membuat Fandy dan Nawal Saling geleng kepala dan saling tatap.


Anjani yang menata makanan menggigit bibir bawahnya menahan tawa.


Perutnya kini sudah mulai sedikit terlihat buncit. Usia kandungannya sekitar empat bulanan saat ini.


Namun, itu tak menjadi halangan bagia Anjani untuk menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.


Niko dan Kania menjadi bingung dengan pernyataan Kenan.


"Maksudnya?" tanya Niko heran.


"Jatah Kania lebih kan semalam?".


"Hahahaha".


Kania sontak tak mampu menahan tawanya.


"Orang aku dikasih jatah belanja lebih kok. Mas Ken pikir aku di kasih jatah lebih aha-aha ya sama mas Niko?" Tanya Kania yang masih di iringi gelak tawanya.


Kenan menggaruk kepalnya yang tak gatal.


"Bukannya Vanya tuh yang mau punya adek....?


Gempur teruuuus".


Sambung Kania meledek kakaknya.


Ken tersenyum kaku dan Anjani mendadak malu sendiri.

__ADS_1


Fandy dan Nawal tersenyum menyaksikan putra putrinya di lingkupi kebahagiaan pagi ini. Pagi yang hangat dan menyenangkan.


"Niko..." Panggil Fandy pelan.


"Iya, pa". Jawab Niko sopan.


"Biasakan mendidik Kania agar lebih disiplin. Kalian sudah menjadi orang tua. Bangun pagi dan memasak di pagi hari adalah kewajiban istri. Jangan terlalu memanjakan Kania. Sekarang, dia bukan anak papa yang manja, melainkan harus menjadi istri yang bertanggung jawab".


Fandy mulai memberi wejangan sebelum makan di mulai.


"Pah... Mohon maaf sebelumnya.


Aku mencintai putri papa. Sangat....


Dan Niko menikahi Kania untuk Niko jadikan istri, bukan pembantu. Niko sanggup kok membayar tenaga asisten rumah tangga.


Percaya lah, pa. Saat di rumah kami, Kania adalah sosok istri dan ibu yang hebat untuk Fatih. Pagi memasak dan mengurus Fatih seorang diri. Untuk beres-beres sudah ada tenaga yang Niko sewa.


Hanya waktu akhir pekan saja mamanya Fatih sedikit bersantai. Dan itu, Niko yang minta".


Ucapan Niko begitu tegas.


Fandy dan Nawal bernafas lega.


Mereka bersyukur bahwa rumah tangga putrinya baik-baik saja terlepas tingkah Kania yang bisa di bilang, masih sedikit labil.


"Syukurlah, Mama beruntung anak-anak dan mantu-mantu mama baik-baik aja".


Ucap Nawal dengan wajah bahagia.


..............


🌹🌹🌹🌹🌹


Hai hai hai para readers setia sahabat neng Tia semua.....


Anjani dan Kenan kembali lagi ya, tak lupa dengan tingkah konyol Kania yang menyertainya.


Aku pikir-pikir kayaknya enak ni di lanjut. Pada setuju nggak? Kemarin-kemarin nih ada yang chat pribadi beberapa orang, minta di lanjutin Kania nya. Oke lah kalau kalian pada suka. Yang nggak suka boleh hengkang kok dari sini.


Oh ya, jangan lupa tetep ikuti cerita seru andalanku, ya.


LUKA DI BALIK JELITA


Mohon tetap like bagi yang suka ya...


Salam segalanya dari neng Tia.❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2