PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 21


__ADS_3

Di beberapa part berikutnya, konfliknya bukan lagi masalah pelakor, ya. Tetapi dari dalam keluarga aja. Sedikit berat konfliknya, tapi tetep happy ending kok. Tenang aja.


Terima kasih sudah berkenan membaca.


Selamat membaca🥰.


##


Malam telah tiba. Petang menyapa ketika mentari telah kembali ke peraduannya. Desau angin berhembus perlahan melewati jendela ruang rawat Kenan yang terbuka. Di ruangan tempat Ken di rawat, Anjani, Fandy dan Nawal tengah berkumpul. Dokter menyatakan bahwa esok hari, Kenan sudah bisa di bawa pulang.


Suasana hangat hangat terasa. Namun, ada satu hal yang membuat Ken merasa kurang. Bukan hanya Zhivanya yang tidak ada, melainkan juga Kania yang tak hadir, bahkan sama sekali tak terlihat semenjak Ken masuk rumah sakit. Anjani pernah bilang di hari pertama Ken sadar, bahwa Kania sempat datang waktu itu, namun Ken masih belum sadarkan diri.


Sebagai satu-satunya saudara yang Ken miliki, tentu saja ketidak hadiran Kania kali ini terasa menohok ulu hatinya. Terakhir ia bertemu Kania, semenjak Ken menghadiri pesta yang di gelar Niko atas keberhasilan cafe yang di kelolanya. Dan sebelum itu, saat lari pagi di akhir pekan lalu. Apa ada yang salah hingga Kania kini tidak ada menjenguknya?


"Kania mana?"


Celetuk Kenan secara tiba-tiba. Tatapan matanya memancarkan sorot kebingungan yang nyata.


Antara Anjani dan Nawal, saling tatap. Begitu juga dengan Fandy yang merasa aneh dengan sikap Kania kali ini. Putri bungsu Fandy itu, seperti tengah menciptakan sekat tebal yang semakin menjauhkan mereka. Ada apa ini sebenarnya??


"Kania.... belakangan ini sedang ada kesibukan. Persisnya, mama nggak tau."


Nawal menjawab apa adanya. Setiap kali Kania dia ajak menjenguk Ken, Kania sering kali beralasan ada kesibukan. Tapi meski begitu, Kania terkadang kirim serantang makanan untuk di kirimkan nya pada Kenan.


"Aneh. Tumben banget Kania nggak kumpul? Biasanya selalu rame kalau ada dia". Sahut Ken. Dahinya nampak berkerut-kerut tak senang.


"Mungkin, adikmu itu memang sibuk".


Fandy menimpali. Sejujurnya, Fandy belakangan memang ikut khawatir dengan perubahan sikap Kania. Biasanya, putrinya itu akan datang dan selalu membuat ulah. Tapi sepertinya, kali ini terasa aneh dengan jarak yang Kania ciptakan di antara mereka.


"Tapi Kenan merasa aneh, pa. Kania terasa seperti menjauh dan berjarak semenjak pesta yang di gelar Niko kemarin. Kania seperti berubah".


"Entah, papa juga bingung".


"Jangan berburuk sangka dulu, mas. Siapa tau Kania memang lagi sibuk. Nggak ada yang berubah dari Kania. Semua akan baik-baik saja".


Anjani yang sedari tadi hanya diam, kini ikut menimpali.


Baik Nawal, Ken dan Fandy mengangguk mengerti.


**

__ADS_1


Kania menatap puas dengan hasil laporan sila kali ini. Niko baru saja berangkat ke cafe nya satu jam lalu. Dan kini, Kania tengah berada di rumah Sila yang tak terlalu besar, namun cukup nyaman untuk di tinggali seorang diri.


Tentu saja kepergiannya kali ini, ia telah berpamitan pada sang suami. Sayangnya, Niko tidak tau saja bahwa apa yang Kania bahas dengan Sila, adalah informasi yang sangat sensitif.


"Jadi, kapan wanita murahan itu bisa keluar dari penjara?"


Tanya Kania tidak sabar.


"Lusa. Semua sudah di urus oleh kuasa hukum gue. Uang jaminan juga, udah nyampe".


Jawab Sila sambil melahap cemilan berupa popcorn.


"Bagus. Setelah dia keluar, gue nggak mau nama gue terseret, ya. Gue nggak mau nanti dia tau kalau gue dalang di balik pembebasannya".


Ucap Kania menekankan.


"Jangan khawatir. Semua udah di urus. Dia nggak tau semua ini. Beberapa orang udah di siap sedemikian rupa buat menutupi informasi mengenai kita".


"Bagus. Setidaknya, setelah ini dia akan benar-benar jera setelah tau bagaimana kehidupannya yang selanjutnya".


Hening. Mereka hanya diam dan kembali tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Ada kelegaan ketika Kania mendengar semua masalah ini bisa di urus.


Sesampainya di cafe Niko, Kania segera masuk untuk menuju ke ruangan Niko. Beberapa karyawan di sana, menunduk dan menyapa Kania dengan penuh hormat. Siapa yang tak kenal Kania? Semua orang bahkan tau bahwa Kania adalah putri bungsu keluarga Mahardhika.


"Bapak Niko ada, Rudi?".


Tanya Kania yang kebetulan sedang berpapasan dengan Rudy, asisten Niko yang cukup handal dan profesional.


"Ada, buk. Baru saja saya ketemu beliau".


Jawab Rudy ramah.


"Apa sibuk? Atau sedang rapat, mungkin?"


"Tidak, Bu. Hari ini jadwal bapak sedikit santai.".


"Ya sudah. Saya kesana dulu".


"Baik, Bu".


Kemudian Kania berlalu menuju ruangan Niko. Di sana, Niko tengah memeriksa beberapa berkas, dan sesekali, dirinya membubuhkan tanda tangannya. Terlihat gagah dan berwibawa di usia Niko yang masih muda.

__ADS_1


"Hai, sayang". Sapa Kania sambil menutup pintu ruangan Niko. Kemudian raut terkejut, jelas tercetak di wajah ayah satu anak itu.


"Oh, sayang..... Kamu kok tiba di sini? Sejak kapan?"


Sahut Niko menimpali. Kemudian tatapan matanya kembali fokus pada lembar demi lembar berkas-berkas yang di periksa nya.


"Baru aja. Lagi suntuk di rumah. Pengen kesini aja. Barusan udah ketemu Sila".


"Oh, ya. Hari ini, mas Ken pulang dari rumah sakit. Kamu nggak ikut jemput?".


Tanya Niko, membuat Kania kembali diliputi mendung pada aura wajahnya. Niki bangkit berdiri dan membawa Kania untuk duduk di sofa di sudut ruangan.


"Kayaknya enggak, mas".


Jawab Kania pelan. Senyum terbit di bibir Kania. Namun jelas itu seperti di paksakan. Kania tau dan memahami emosi Kania yang labil. Dalam hal ini, Niko memang menuntut dirinya untuk sabar menghadapi wanita yang mampu mencairkan kebekuan hati Niko.


"Kenapa?"


"Lagi nggak pengen aja".


"Tidak mencampuri urusannya, bukan berarti kamu tidak mau peduli sama mas Ken. Sebagai saudara, Solidaritas kekeluargaan harus tetap terjaga".


Niko berkata lembut.


"Aku ada kesibukan lain, Nanti".


Kania terpaksa berbohong demi tidak membantah Niko. Bukannya apa. Sikap Ken terakhir kali pada Kania yang seperti enggan di dekati, membuat Kania merasa ia tak lagi di butuhkan dalam keluarganya.


"Kesibukan apa?"


Kania diam tak menjawab. Namun jelas, air muka nya menunjukkan kerumitan yang cukup dalam.


"Kenapa diem?" Jemari nik terulur untuk menyingkap beberapa helai rambut Kania yang menjuntai di depan telinga, kemudian menyelipkannya di belakang telinga Kania.


"Bukan hanya mas Ken, dari di, papa dan mama selalu menomorsatukan mas Ken di banding aku. Mas tau? Itu juga adalah salah satu bagian dari alasan aku seringkali bersikap bar-bar dan melewati batas. Mama dan papa sering kali membeda-bedakan antara aku dan mas Ken.


Katakanlah......


Aku berbuat seperti itu, tak urung demi untuk menarik perhatian mama dan papa.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2