PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 39


__ADS_3

Sebuah kabar kehamilan, seharusnya menjadi kabar gembira dan menjadi penyemangat seseorang untuk terus menjalani kehidupan. Kabar kehamilan harusnya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi seorang perempuan, khusunya yang belum pernah memiliki anak.


Usia Vanya saat ini sudah tak bisa dikatakan muda. Harusnya kehamilannya menjadi sebuah kabar gembira yang membuatnya merasa kian sempurna sebagai seorang ibu. Sayangnya, semua itu musnah karena nyatanya, ia hamil tiga bulan, namun pernikahannya baru tujuh Minggu berjalan dengan Dewa.


Meski sore ini Dewa pulang dengan membawa kabar bahwa Dewa telah resmi bercerai dengan Anika, namun tetap saja itu membuat rasa bersalah Vanya semakin menjadi-jadi.


Kehamilannya, justru menjadi alasan ia harus menghancurkan pernikahan sepupunya.


"Ingat pesan dokter, Van. Ingat kalau kamu nggak boleh nangis terus dan stress. Udahlah, semua udah terjadi. Kita jalani aja hidup kita yang begini." Ungkap Dewa kemudian.


Lelaki itu benar-benar bosan dengan suasana rumahnya yang tidak terasa hangat lagi. Kesedihan Vanya dan rasa bersalahnya, membuat Vanya seolah lupa dengan kewajibannya sebagai seorang istri, terutama dalam melayani suami.


"Aku, aku kayak nggak punya muka lagi kalau sampai nanti, aku ketemu sama Anika, mas. Dari awal dia nggak tahu apa-apa tentang masalah kita." Ucap Vanya.


Dewa hanya bisa mendengus kesal mendengarnya.

__ADS_1


"Kalau kamu akan menyesali semuanya, kenapa kamu dulu mau menyerahkan tubuh kamu ke aku?"


"Kamu yang bawa aku. Kamu lupa awal saat kita melakukannya?" Tanya Vanya dengan nada suara yang tinggi. Ia tak menyangka, hidupnya akan sehina ini. Bukan orang lain yang membuatnya hina, melainkan dirinya sendiri.


Hormon kehamilan juga menjadi pemicu wanita hamil itu cepat emosi.


"Jangan membuat aku semakin muak melihat kamu, Vanya. Aku udah sabar menghadapi kamu. Aku jatuh miskin demi mempertahankan cinta kita. Aku dijauhi keluargaku, juga karena cinta ini. Jadi tolong, jangan membuat aku bosan di rumah karena tingkah kamu yang seperti ini." Ucap Dewa kemudian.


Dewa kemudian berlalu menuju ke teras belakang, menjemur handuk yang baru saja ia gunakan usai mandi.


Lama dewa duduk di teras belakang sambil melihat beberapa tanaman bunga dengan tatapan kosong, Vanya tiba-tiba datang mengejutkan Dewa.


"Mas, masuk yuk. Aku mau ngomong." Ungkap Vanya.


"Ngomong aja, Van. Disini nggak ada siapa-siapa, nggak bakalan ada yang dengar juga." Jawab Dewa, tanpa menatap Vanya.

__ADS_1


Vanya kemudian duduk tepat di samping Dewa. Wanita itu tengah memikirkan sesuatu, dan Dewa tahu itu.


"Mau ngomong apa, sih?" tanya Dewa dengan lembut, tak seperti tadi yang terbawa emosi.


"Ayo kita main ke rumah Anika, aku . . . aku pengen minta maaf sama dia." Ajak Vanya.


"Aku sedang nggak mau ketemu siapa pun yang bisa memicu pertengkaran. Jadi tolong, Van. Tolong mengerti. Jangan sekarang, lain waktu aja." ungkap dewa kemudian.


"Apa kamu nggak pengen ketemu Vio, anak kamu?" Tanya Vanya, menjadikan Vio sebagai senjata.


"Jujur aku kangen banget sama Vio, Van. Tapi aku terlalu malu menampakkan mukaku di depan keluarga Anika."


"Lebih malu lagi, kalau kamu nggak mengunjungi Vio sama sekali."


"Ya udah, Kita akan kesana malam ini." Jawaban Dewa, membuat Vanya tersenyum pada suaminya itu.

__ADS_1


**


__ADS_2