
Pagi menjelang... Cuaca pagi ini sedikit mendung. Entah mengapa, saat Kenan mengerjapkan matanya, Ken sedikit merasa tak nyaman.
Diliriknya Anjani yang terbaring di sebelahnya. Entah mengapa, biasanya Anjani yang bangun lebih dulu, tapi kini, Anjani nampak terlihat nyaman tidurnya. Dan, oh tunggu.... Wajahnya sedikit pucat.
Dengan gerakan pelan, Ken meraba bagian kening Anjani. Suhunya tinggi, Ken pun berjingkat dan segera turun dari ranjang. Dengan langkah cepat, Ken keluar dari kamar dengan hanya menggunakan piyama tidur berwarna hitam, dan segera mencari mamanya.
"Ma.... ma, mama...." ucap Ken dengan menuruni anak tangga.
"Apa sih, pagi-pagi udah berisik? Tumben kamu yang turun duluan? Istrimu mana?", Tanya Nawal dengan tangan masih mengupas wortel.
"Anja badannya panas banget ma, padahal semalem nggak apa-apa. Tolong hubungi dokter apa bidan langganan mama deh biar kesini. Aku bingung mau kemana".
"Iya, bentar. Mama nelpon bidan aja deh".
Kenan m nengangguk dan segera membalikkan badan. Baru saja Ken melangkah beberapa langkah saja, Ia bertemu dengan adiknya, Kania.
"Loh, mas. Tumben turun pagi-pagi? Mana belum mandi lagi?".
"Iya, minta tolong mama suruh nelponin bidan. Anja badannya panas". Jawab Ken sembari menghentikan langkahnya.
Kania memperhatikan penampilan kakaknya yang acak-acakan, meski tidak mengurangi kadar ketampanannya. Terbesit ide gila dalam benak Kania untuk menggoda kakaknya yang wajahnya terlihat kusut dan mendung.
"Mas?", Ken yang mulai akan melangkah kembali ke kamar mendadak berhenti karna Kania memanggilnya lagi.
"Hmm?", jawab Ken sambil melihat adiknya dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Kok tumben jam segini mas Ken masih kucel gitu? Hayo habis ngapain semalam? Pasti kak Anja sakit karna semalem kelelahan di obok-obok sama mas ya?".
"Hus....Ngawur. Kamu masih kecil nggak boleh ngelantur, kalau ngomong di jaga" jawab Kenan kesal karna sang adik berani-beraninya menggoda Kenan saat keadaan darurat begini.
"Hei, aku bukan anak kecil kali, mas. Aku udah gede, udah kelas 12 Sekolah menengah atas. Mas Ken ngatain aku anak kecil emang nggak salah?".
"Ya nggak lah. Ah udahlah, mas mau ke atas dulu. Pagi-pagi ladenin anak kecil bikin emosi aja".
__ADS_1
"Biarin. Aku juga bukan anak kecil kali mas, Kak Anja yang seumuran kek aku aja bisa bikin anak kecil kok."
Kenan pun segera menghampiri adiknya dan mencubit gemas pipi adiknya yang asal nyablak saja kalau bicara. "Aw... mas, sakiiit" ucap Kania keras dengan memegangi pipinya yang di cubit Kenan.
Tanpa mereka sadari, Fandy sudah muncul dari tangga dengan langkah ringan dan tak bersuara, menghentikan langkah Kenan saat itu juga.
"Kania kalau ngomong gitu lagi, papa cariin kamu jodoh ya biar papa kawinkan nanti", ucap Fandy yang kedatangannya membuat kedua anaknya terkejut.
"Papa.....", Suara Kania terdengar manja di telinga sang papa. Fandy tersenyum tipis melihat reaksi putrinya yang manja itu. Tanpa terasa, sekarang putri kecil yang dulu selalu Fandy bacakan dongeng sebelum tidur, kini telah tumbuh menjadi remaja.
Fandy tidak bisa membayangkan jika nanti, suatu saat harus melepas putri manjanya itu untuk ia nikahkan dengan jodohnya. Begitulah Fandy, selalu menyayangi dan mengutamakan anak-anaknya.
"Rasain.....", balas Kenan yang semakin membuat jengkel sang adik. Kenan pun berjalan cepat menuju tangga untuk masuk ke kamarnya dan bergegas untuk mandi.
Kania yang tadinya berniat menggoda kakaknya, kini Kania sendiri lah yang di goda.
"Papa kenapa sih, ganggu aja. Kania padahal cuma godain mas Ken, loh", kata Kania dengan wajah kesal dan menyilangkan tangan di depan dada.
"Godain boleh, tapi jangan kelewatan yah. Papa nggak suka kalau Kania bercanda tentang hal-hal dewasa seperti itu, karna belum saatnya. Harusnya, Kania rajin belajar aja"
"Mama mana?", tanya Fandy yang mengintip arah dapur tapi tidak ada Nawal di sana.
"Nelpon bidan pah. Kak Anja kan lagi sakit. Jadi bidannya di panggil kesini sama mama".
"Oh, ya udah Ayo sarapan dulu sebelum berangkat sekolah. Kamu nanti papa yang antar". Spontan, Kania segera mencium pipi papanya.
.................
Di dalam kamar Kenan, seorang bidan paruh baya dan seorang perawat tengah memeriksa keadaan Anjani.
Nawal, Fandy dan Kania juga ada di dalam. Kenan menunggu kabar dari bidan dengan raut wajah tegang. Nawal yang melihat tingkah putranya menyunggingkan senyum tipisnya.
Begitu juga Fandy yang menangkap gurat ke khawatiran di wajah Kenan. Fandy sudah dapat menyimpulkan, cinta Ken begitu besar pada Anjani, meski dulu Ken sempat tidak mau menerima Anjani sepenuh hati.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istri saya, Bu?", Tanya Kenan dengan khawatir setelah bidan memeriksa Anjani.
"Bayinya masih bergerak aktif, sepertinya Sang ibu kelelahan. Mohon untuk bedres dulu dan jangan melakukan apapun. Saya resepkan obatnya ya, nanti silahkan di tebus di apotik dekat sini", ujar sang dokter dengan senyum ramahnya.
Kenan dan semua keluarganya pun bernafas lega. Setelah bidan memberikan resep, bidan pun pamit untuk kembali ke tempat prakteknya. Sedang Kenan, bersiap untuk segera ke apotik terdekat.
"Ya udah, ayo keluar semua. Biarkan Anjani istirahat dulu", ajak Fandy pada istri dan putrinya . Semua mengangguk dan segera pergi meninggalkan kamar Kenan.
Setelah Fandy, Nawal dan Kania sampai di lantai bawah, Fandy hendak pergi ke resto untuk mengecek keadaan di sana. Kenan Napak berjalan tergesa sebelum akhirnya, ia terhenti Karena sesuatu.
"Ma, apa orang hamil semua gitu? Apa pas Kania masih dalam kandungan mama, mama sering kesusahan gitu?" Celetuk Kania tiba-tiba. Nawal dan Fandy pun menoleh ke arah sang putri.
"Memangnya kenapa?" Nawal balik bertanya pada putrinya.
"Maafin Kania ya, ma. Selama ini, Kania sering bandel dan suka bantah mama. Padahal mama kesusahan pas ngandung Kania dan saat Kania masih kecil", lanjut Kania lagi sambil memeluk sang mama.
"Jangankan kecil, Segede ini aja kamu sering nyusahin mama" Ucap Kenan tiba-tiba. Kemudian tertawa lepas sambil setengah berlari menuju pintu keluar. Kenan tau, pasti lah saat ini Kania tengah memberengut sebal padanya.
Sedang di dalam ruang tengah, Fandy tengah memeluk dua wanita yang sangat Fandy sayangi. Nawal pun merasakan kebahagiaan saat ini, pasalnya selain mereka, akan hadir bayi mungil bagian dari keluarga ini. Kebahagiaan keluarga Mahardhika akan sangat lengkap setelah cucunya lahir nanti.
"Udah, Kania cepet berangkat sama papa gih, mama mau temenin kak Anja di kamar. Ingat ya, jangan bandel". Kata Nawal pada putrinya.
"Iya mama sayang." Sahut Kania.
Fandy dan Kania pun berangkat dan Nawal kembali ke atas untuk menemani Anjani yang terbaring lemah.
🌹🌹🌹🌹🌹
Maafkan daku yang kemarin hanya up satu part aja yah, maklum lah, neng Tia nya ada kesibukan yang nggak bisa banget buat di tunda.
Oh ya, Ayo Tamrin kolom komentar ya, biar makin deket kitanya.
Jangan tertipu dengan suasana hangat keluarga Mahardhika ya, Pasalnya setelah ini, akan ada konflik hot nih, tapi bukan konflik karna orang ke tiga pada umumnya ya...
__ADS_1
Penasaran? pokonya tetep stay aja biar nanti penasaran kalian terobati🥰.
~Salam dari neng Tia😚~