PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 40


__ADS_3

"Dan kamu tau nggak kalau ini itu bundaku?",


~part sebelumnya~


Kania terpaku, wajahnya memerah dan sebisa mungkin ia menyembunyikannya dengan menundukkan kepalanya.


Niko begitu kesal. Sangat kesal. Bagaimana mungkin Kania berani berkata bahwa makanan buatan bundanya ini tidak sehat? Padahal sedari kecil, Niko makan keripik singkong balado buatan bundanya dan tidak pernah mengalami sakit setelah memakannya.


"Maaf, Bu. Sa saya.....".


"Ndak apa-apa, Ayo duduk dulu". Bunda berujar dengan lembut. Menarik pelan lengan Kania dan mengajaknya duduk di sofa lembut berisikan dua orang. Mereka duduk bersebelahan.


"Niko, ayo duduk", Ayah yang sedari tadi hanya diam, kini menyeringai pada Niko. Niko memicingkan mata curiga.


Saat ini, mereka tengah duduk di sofa kamar kost Niko. Meski begitu kecil, namun perabotannya sangat lengkap.


"Jadi Niko, Jelaskan sama ayah dan bunda. Katanya kamu nggak punya kekasih, Tapi sekarang gadis cantik ini datang sebagai calon istri, maksudnya?" tanya ayah yang sudah tak sabar menunggu jawaban sang putra. Niko terlihat meneguk ludahnya dengan susah payah. Kegugupan tiba-tiba saja melandanya.



"Emm anu ayah, bunda. Kania itu.... anu....",


"Tinggal bilang calon istri dan sebentar lagi mau menikah apa susahnya sih mas?", Bisik Kania lirih yang tentu saja masih bisa di dengan bunda Daan ayah Niko.


Niko melempar tatapan tajamnya pada Kania yang loss plong kalau bicara tanpa pikir dulu. Lama-lama Niko jadi prihatin pada Nawal dan Fandy, punya dosa apa mereka di masa lalu hingga dikaruniai seorang putri yang slengekan dan gesrek kayak Kania ini.


Hening. Niko tak berani berkata apapun. Ia hanya pasrah pada keadaan. Baru kali ini, Niko yang bersifat cuek pada lawan jenis, tak berkutik hanya karna harus menghadapi sikap konyol Kania.


"Anu apa?", Bunda kian tak sabar.


"Kania ini adiknya Kenan bunda, Kenan yang pernah aku kenalin sama bunda. Bos Niko di tempat Niko kerja", Jawab Niko lirih. Ia sama sekali tak berbohong.


Sebisa mungkin ia ingin menyelamatkan dirinya dari Kania dengan tidak mengakui secara langsung Kania sebagai calon istrinya. Jika sampai Niko mengaku, habis lah riwayatnya kali ini.

__ADS_1


Bunda dan ayah Niko terkejut. Tidak menyangka gadis di depan mereka saat ini adalah gadis yang berasal dari kalangan berada.


"Jadi kamu....?" Ayah Niko menatap Kania dengan intens. Kania yang di tatap memalingkan wajahnya karna malu. Salah tingkah itu sudah pasti.


"Anak sulung om Fandy". Tegas Niko karna tak ingin menyembunyikan apapun dari orang tuanya.


"Nak, kamu cantik. Apa kamu Ndak salah kamu suka sama Niko? Lihat..." Bunda menunjuk Niko di depan Kania, "Niko orang biasa nak. Berasal dari keluarga sederhana. Putra ibu juga jelek. Kamu nggak malu punya suami yang Ndak sederajat denganmu?".


Niko menatap tajam bundanya karna tak terima bundanya mengatainya jelek.


"Kania mencintai mas Niko apa adanya bunda. Jangan khawatirkan perbedaan harta. Papaku bilang, harta itu titipan tuhan. Mama juga bilang, derajat manusia tidak dapat di bedakan hanya karna harta dan kekuasaan. Kami, Kania dan mas Niko juga berencana segera punya anak setelah menikah nanti, Juga pas......".


"Jangan gila kamu, Kania. Itu hanya rencana kamu. Bukan aku. Jangan melibatkan aku sama pikiran konyol kamu. Please Kania jangan halu. Mereka ini orang tuaku. Jangan bercanda. Kamu bisa kan serius?".


Ayah dan bunda terpaku. Bagaimana bisa ada gadis yang jujur tanpa memfilter ucapannya. Dengan terang-terangan Kania mengatakan tentang rencana ke depan bersama Niko.


"Aku serius mas. Apa perlu aku minta papaku untuk melamar kamu?".


"Jangan gila kamu Kania. Mana ada perempuan yang melamar laki-laki?". Niko sudah tak tahan. Kesabarannya berada di ambang batas saat ini. Wajah Niko memerah karena menahan amarah.


"Kania pamit, pak, Bu. Maaf. Kania nggak seharusnya ada disini. Kania salah. Assalamualaikum". Kania beranjak menyalami kedua orang tua Niko dengan mencium punggung tangan mereka.


Tanpa menoleh lagi ke arah Niko, Kania setengah berlari untuk keluar. Sesaat Kania menatap rantang yang berisi makanan yang ia bawa tadi. Tanpa berniat mengambilnya, Kania pergi meninggalkan rumah kost Niko tanpa peduli apapun lagi. Niko yang melihat kepergian Kania mendadak terpaku dan memandang punggung Kania yang sudah menjauh hingga tak kelihatan.


Bunda dan ayah yang baru sadar segera beranjak, berniat untuk mengejar Kania. Namun terlambat, Kania sudah menaiki mobilnya dan melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya.


.....................


Akhir pekan ini, Ken berniat mengajak Anjani pergi jalan-jalan dan mengajak putri kecil mereka, Vanya. Meski harus melalui drama penolakan dulu dari Anjani.


Namun, bukan Kenan namanya kalau tak bisa membujuk Anjani. Pada akhirnya, Anjani mau saja ikut Kenan.


Tujuan Ken saat ini adalah mengajak Anjani untuk berjalan-jalan ke area taman kota. Semenjak Anjani melahirkan, tak pernah mereka mengajak Vanya berjalan-jalan keluar. Saat ini, usia Vanya menginjak hampir empat bulan.

__ADS_1


Setibanya di lampu merah yang dekat dengan taman, Anjani melihat ke arah butik yang memamerkan busana muslim terbaru yang pas dengan wanita seumuran Anjani.


Pikiran Anjani mengelana jauh pada waktu beberapa bulan lalu sebelum melahirkan Vanya.


Saat Anjani di tolong Galuh dan tinggal di pesantren, Anjani sempat mengenakan hijab dan pakaian syar'i. Sebenarnya, Anjani belum siap jika harus berhijab saat itu. Namun, karena Anjani tinggal di pesantren, ia mencoba menghormati lingkungan disana dengan berhijab.


Hingga ia telah dinikahi Kenan, hijab itu ia lepas karena ia merasa belum siap sepenuhnya. Ken pun tidak mempermasalahkan hal itu.


"Kamu mau mutusin berhijab lagi? Kalau iya, mantapkan dulu hatimu. Aku akan dukung apapun keputusan kamu, nja".


Anjani mendongak menatap Kenan dengan berkaca-kaca.


"Aku belum siap, mas.".


Ken mengangguk paham.


Sesampainya di taman alun-alun kota, Ken mengajak Vanya berkeliling taman dan di ikuti Anjani. Pandangan mata Ken terpaku pada sosok pria yang tengah menyendiri di sudut taman di bawah pohon mangga.


"Rio?".


Yang dipanggil menoleh dan sedikit terkejut.


"Ken? Ngapain Lo kesini? Tumben?",


"Ngajak anak bini jalan-jalan lah. Emang Lo, yang masih betah jomblo aja", Sahut Ken santai. Mereka pun terkekeh.


"Mas Rio kok sendiri aja?", Tanya Anjani.


"Gue lagi dikejer-kejer papa, Ken. Bantuin gue dong?", Tiba-tiba Rio mengiba.


"Emang Lo ngapain sampe dikejer-kejer papa Lo?".


"Mau di jodohin gue. Gila kan? Tolong gue Ken. Kalau gue pulang tanpa bawa pacar, gue bakal di kawinin sama cewek pilihan papa".

__ADS_1


Anjani dan Ken pun tertawa terbahak-bahak.


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2