PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 43


__ADS_3

Hari berganti, bulan berlalu, tahun terus berjalan. Tanpa terasa sudah tiga tahun lamanya Vanya dan Dewa berumah tangga. Sedikit ada perubahan, Dewa pun sekarang jauh lebih baik ekonominya, berkat bantuan dari Kenan dan Anjani. Uluran tangan mereka, tentu saja sangat membantu memperbaiki kondisi finansial rumah tangganya dengan Vanya.


Pasca keguguran hingga saat ini, Vanya belum juga dipercaya tuhan untuk segera mengandung kembali. Dokter pun menyatakan bahwa rahimnya sedikit terganggu pasca kejatuhan Vanya dan benturan pada perutnya, yang menyebabkan adanya gangguan dalam rahimnya.


Sayangnya, hati Vanya menangis sedih setiap kali ia melihat Dewa yang sangat ingin segera punya anak darinya. Wanita itu hanya mengharapkan keajaiban dari tuhan.


Meminta maaf pun pada Anika, sudah ia lakukan. Vanya hanya berpikir, mungkin inilah karma dia menyakiti perasaan Anika dan Vio. Dosanya terhadap Vio, membuat Vanya tidak berdaya.


"Hai, sayang. Dasiku mana?" Tanya Dewa yang kini telah memasang kancing kemejanya. Biasanya, Vanya akan menyiapkan baju kerja beserta dasinya sekaligus.


"Aduh, aku lupa. Ambil sendiri saja dulu, ya? Aku lagi goreng telur, takutnya gosong. Maaf." Vanya berteriak dari arah dapur.


Dewa merasa keheranan, belakangan, Vanya memang kerap kali lupa dalam banyak hal. Tak hanya itu, kadang, Vanya suka menyendiri dan menangis diam-diam, tanpa menjawab jika sudah ditanya. Inilah yang membuat Dewa ekstra khawatir tentu saja.


Usai memasang dasi, Dewa segera keluar, dan melihat istrinya yang selesai menyiapkan sarapan. "Ketemu, dasinya? Maaf banget, aku terburu-buru tadi. Jadinya ya lupa deh. Ayo sarapan. Habis ini kita ke butik sama-sama." Vanya berujar. Keduanya memang mengelola butik Anjani yang sudah lepas tangan.


"Mas, nanti makan siang beli aja, ya? Aku nggak bawa bekal. Ini nasinya sisa semalam, aku goreng buat sarapan. Jadi aku nggak mungkin pulang buat masak." Ucap Vanya.


"Iya, nggak apa-apa." Dewa menjawab sambil tersenyum. "Kita nyari makan di luar saja. Ayo buruan, keburu telat. Hari ini ada janji dengan calon pengantin untuk fitting gaun, kan?" Tanya Dewa.


"Iya." Vanya menjawab pelan. Wanita itu, sekarang mulai belajar merancang gaun, sebagai pengalihan dari kebosanan dan kegalauan.


**


Siang menyapa bumi Blambangan yang begitu subur makmur. Penduduk lokalnya yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat dan juga budaya warisan leluhur, mengelola tanah mereka dengan sangat baik.


Suasana perkebunan kopi yang dikelola oleh Anika, berkembang dengan pesat. Hal ini tentu saja membuat Kenan dan Niko berdecak kagum karenanya. Tiga tahun ini, bahkan perkebunan cukup memberi kesejahteraan untuk masyarakat sekitar yang bekerja disana. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan.

__ADS_1


Tak hanya itu, setiap akhir pekan, banyak para wisatawan yang mengunjungi perkebunan. Ada air terjun juga yang membuat banyak pasangan muda-mudi melepas penat, akibat aktivitas harian yang melelahkan.


Anika bukan orang yang tamak tentu saja. Berkali-kali, ia menawari Vanya untuk ikut bergabung di kantor perkebunan. Tetapi Vanya selalu menolak, dengan dalih ingin jadi ibu rumah tangga biasa, dan mencari kesibukan dengan belajar merancang busana.


Anika benar-benar banyak berubah setelah rumah tangganya dan Dewa hancur. Dari wanita manja dan selalu bergantung pada keluarganya, kini telah berkamuflase menjadi wanita tangguh, hebat dan berkarier.


"Rama, kamu mau makan siang dimana?" Tanya Anika, ketika jam makan siang telah tiba. Wanita itu bila diperhatikan, semakin hari semakin dekat dengan Rama. Begitu juga dengan Rama yang sebenarnya sudah merasakan hal tak biasa bila dekat dengan Anika.


Hanya saja, Rama tahu diri. Dirinya merasa tak sederajat dengan Anika yang berasal dari keluarga terpandang. Lebih baik bagi Rama, memendam rasa pada janda satu anak yang cantik itu. Anggap saja Rama minder.


"Terserah mbak Anika saja." Rama selalu pasrah, kemanapun Anika membawanya makan.


"Gimana kalau di warung lesehan pinggir jalan? Tanggal tua nih, bokek." Ungkap Anika sambil tertawa ringan. Bukan bokek tepatnya, tetapi Anika hanya ingin makan makanan pedas khas pinggir jalan. Setiap hari makan makanan mewah, lama-lama membuat Anika bosan juga.


"Kok saya nggak percaya, ya, kalau mbak Anika bilang bokek?" Tanya Rama kemudian.


"Kamu dibilangin nggak percayaan, sih? Saya kan janda, nggak ada yang nyariin duit." Jawab Anika.


"Ya kali, aku mana ada waktu untuk nyari calon papa buat Vio? Kan aku kerja? Gimana kalau kamu aja yang jadi kandidatnya?" Tanya Anika iseng. Tentu saja itu membuat Rama tertawa lepas.


"Mbak Anika kalau becanda boleh, tapi jangan baperin saya. Takutnya saya baper dan bawa serius, gimana?" Tanya Rama yang sudah dadanya dag-dig-dug tak karuan.


"Memangnya kenapa kalau baper? Toh sama-sama single, kan? Kecuali kalau salah satunya ada yang punya, baru haram." Jawab Anika yang tertawa lepas.


"Mbak Anika bisa aja." Rama tersenyum malu-malu. Lelaki itu, entah untuk yang ke berapa kalinya, dibuat merona pipinya oleh Anika.


"Antar aku ke rumah kak Vanya, nanti. Pulang dari kantor, aku mau mengunjungi dia dan mas Dewa. Udah lama aku nggak pernah menyambangi kak Vanya." Raut wajah Anika mendadak sendu. Sejak lama, ia sudah memaafkan Anika dan juga Dewa. Menghindari bukan berarti tak memaafkan, anika hanya berusaha memulihkan hatinya dalam tiga tahun terakhir.

__ADS_1


Sudah tiga tahun lamanya, Anika berusaha menghindar demi menjaga hatinya. Tetapi kini setelah Anika menerima keadaan dengan hati yang luas, ia memiliki keinginan untuk menjaga tali silaturahmi dengan saudara dan mantan suaminya itu.


"Mbak Anika serius?" Tanya Rama. "Bukannya selama ini mbak Anika selalu menghindari mereka?" tanya Rama hati-hati.


"Ya serius lah, Rama. Mana mungkin aku bercanda. Apalagi sama tawaran yang tadi. Gimana jawaban kamu?" Anika kembali meledek Rama, yang sudah tersipu malu.


"Tawaran apa, mbak?" Tanya Rama yang merasakan darahnya terasa berdesir hebat.


"Jadi papa sambung Vio." Jawab Anika yang menahan tawa. Hingga kemudian Anika tak tahan sata melihat Rama bungkam, wanita itu tertawa.


"Ciye ciye ... Rama malu. Hahahaha ...." Anika tertawa lepas kali ini. Lihat saja, sikap malu-malu Rama, cukup menjadi hiburan untuknya.


Dalam hati Rama merutuki ledekan Anika.


'Bapak, Ibu, Tolong selamatkan Rama dari harapan ini.'


**


Ngetik kisahnya Anika dan Rama, bikin aku baper ini. Hadehhh, gimana yah?🤔


Sambil nunggu cerita ini update, isi waktu dengan baca cerita baru aku, ya. Semoga suka.


- Cinta Si Anak Pembantu.


- Unwanted Husband.


- Sekadar Cinta Figuran.

__ADS_1


- Mawar Seruni (Revisi dari kisah Sekar Seruni).


Terima kasih semua. Salam santun dari Istia.


__ADS_2