
Hari sudah merambah sore, ketika mentari bersiap mengurangi teriknya dan menuju peraduan. Sepasang paruh baya tengah berjalan anggun di pelataran bandara Soekarno-Hatta. Tatapan mata mereka berbinar riang penuh kebahagiaan. setelah dua bulan lalu ia datang kemari, hari ini mereka kembali datang lagi, menginjakkan kaki di ibu kota demi menyambangi sang putri yang tinggal terpisah dari mereka.
Kenan dan Anjani....
Dua paruh baya, namun masih terlihat segar bugar itu, berbincang ringan sambil mencari taksi yang akan mengantar mereka menuju kediaman sang putri, Zhivanya.
Sepanjang perjalanan, Anjani paling tidak bisa diam. Wanita itu semakin hari semakin cerewet saja. Namun meski begitu, Kenan semakin cinta saja pada Anjani, putri pembantunya dahulu.
"Mas, aku kangen sama Vanya. Setiap kali meneleponnya, dia selalu bilang sibuk dan jarang waktu free nya. Aku nggak habis pikir dengan anak itu."
Anjani mengeluh entah untuk yang ke berapa kalinya.
"Biarkan saja. Toh kita bisa main kesini untuk menyambanginya. Hitung-hitung sambil liburan. David juga di rumah cukup berisik dan rumah nggak terlalu sepi. Jangan banyak mengeluh dan syukuri. Lihat saja, Vanya hari ini pasti terkejut melihat kita tiba-tiba datang mengunjunginya."
Kenan menimpali kalimat istrinya, dengan bijak.
"Oh ya, mas. Aku... entah kenapa aku belakangan ini selalu mimpi buruk. Firasatku seolah akan terjadi sesuatu. Apa.... Kania nggak pernah menyinggung tentang kepergian Vanya, bahkan sebelum pernikahan Anika di gelar?"
Tanya Anjani dengan suara lirih. Kenan yang mendengarnya mendadak diam dan tampak berpikir. Menimbang kata-kata yang pantas untuk ia rangkai di depan istrinya.
"Sering. Bahkan ketika pernikahan Anika akan di gelar. Dan belakangan ini, Kania semakin intensif bertanya keadaan Vanya dan berusaha mengorek informasi mengenai keberadaan Vanya. Tapi ya... aku menutupinya sebisa yang aku mampu". Ken menjawab tak kalah lirih.
"Aku nggak tau kenapa keluarga besar kita harus terjerat dalam masalah yang cukup pelik seperti ini. Aku nggak tau apa yang terjadi antara Vanya dan Dewa sebenarnya. Apa yang menjadi masalah sampai dewa mengambil langkah drastis dengan meninggalkan Vanya dan mempersunting Anika di waktu yang cukup singkat".
"Ah... pria brengsek itu, aku ingin sekali menghajarnya".
Geraham Kenan mengetat ketika mengingat mantan kekasih putrinya itu. Bahkan di beberapa momen-momen tertentu pada keluarga Mahardhika, si bajingan itu menatap kita dengan tatapan dingin dan berjarak. Seolah Vanya memiliki dosa dan kesalahan padanya. Bukankah dia yang meninggalkan Vanya dan menikahi wanita lain? Dan sialnya lagi, wanita itu adalah keponakanku sendiri. Aku bisa apa?!?"
__ADS_1
Kenan tersenyum penuh kegetiran.
"Tapi, aku merasa ada yang nggak beres diantara mereka, mas. Jangan menghakimi orang lain kalau nggak tau yang sesungguhnya terjadi. Bisa jadi, ada alasan yang mendasarinya."
"Dan kamu tiba-tiba lebih membelanya di banding putri kita?"
Kanan melempar tatapan tak suka nya terhadap Anjani.
"Bukan. bukan seperti itu, mas.... Maksudku jangan melihat hanya dari mata, dan mendengar hanya dari telinga. Fakta yang ada bukan berarti menjadi barometer untuk kita menghakimi seseorang. Berulang kali kita membujuk Vanya untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi, tapi sepertinya putrimu itu lebih memilih bungkam daripada terbuka".
Hati ibu mana yang tidak sakit ketika menerima kenyataan bahwa putrinya terpuruk dan tidak sedang baik-baik saja?
Anjani kini merasakannya. Namun yang bisa Anja lakukan hanyalah diam dan menguatkan saja, tidak mengorek lebih jauh apa yang sedang menimpa putrinya.
Kenan yang merasa istrinya kembali bersedih, kini meraih dan menyandarkan kepala Anjani ke bahunya. Hingga tanpa sengaja, Taksi yang mereka kendarai kini sudah tiba di pelataran rumah Vanya yang minimalis. Suasana di sana tampak lengang, sepertinya pun Vanya belum pulang dari kantor.
Emi dan Vanya melangkah melewati jalanan menuju rumah minimalis milik Zhivanya. Meski saat ini mood Vanya tak bisa di bilang baik, namun ia berhasil menutupinya dengan sempurna. Setelah dua hari lalu ia dan Dewa menjalani perdebatan tanpa ujung, yang berakhir Vanya menangis lagi dan lagi untuk yang ke sekian kali, Vanya bertekad untuk menghadapi Dewa apapun resikonya.
"Om Kenan... Tante Anja....."
Emi berteriak histeris ketika mendapati dua paruh baya orang tua sahabatnya ini.
"Emi... Vanya.... Sini nak...."
Vanya mendadak sumringah melihat kunjungan orang tuanya kali ini. Kemudian tanpa menunggu Emi, Vanya berlari berhambur dengan keras memeluk kedua orang tuanya secara bersamaan yang memang mereka berdiri bersebelahan.
"Mama... Papa... Vanya kangen...."
__ADS_1
"Papa dan mama juga kangen, nak... Maunya davidjl juga ikut, tapi sayangnya tugas skripsinya nggak mungkin ditinggal, kan?" Anjani melerai pelukan, menatap wajah putrinya yang tampak lemah.
"Ayo masuk".
Sesaat, Emi cemberut karena merasa di abaikan oleh Vanya begitu saja.
"Aku dong, di ajak juga", ucap Emi yang kemudian mendapat tawa ringan dari Kenan dan Anjani.
"Ayo nak Emi... masuk. Tante juga bawakan dua potong dress dari butik Tante buat kamu. Tante jamin pasti kamu suka".
Tentu saja kalimat Anjani ini berhasil membuat Emi bersorak.
Setibanya di dalam, Emi lebih banyak menyita perhatian Anjani dengan banyak pertanyaan. Membuat Vanya dan Kenan geleng-geleng kepala di buatnya.
"Padahal kalau kamu mau, kamu bisa urus bisnis papa di Banyuwangi daripada kamu harus bekerja ikut di kantor orang, nak". Ucap Kenan tiba-tiba dengan raut sendu. Hatinya merasa teriris melihat putrinya harus kelelahan.
"Vanya menjalaninya dengan baik, pa. Nggak usah khawatir. Vanya bisa jaga diri dengan baik selam jauh dari papa."
"Sampai kapan kamu akan menjauh dari masa lalumu?".
"Aku udah nggak lagi jauh dari masa lalu aku, pa. Adek Anika dan suaminya yang bangsat itu ada di sini. Dan sayangnya, menjadi pimpinan di tempat kerjaku. Bahkan, aku udah ketemu Dewa, meski nggak ketemu Anik. Bukan tidak, mungkin belum".
"Apa?".
Kenan dan Anjani sontak terkejut dengan pengakuan putrinya......
...
__ADS_1
...