PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 25


__ADS_3

"Udah lama, mas?" Suara Vanya, membuat Dewa terpana. Sudah lama sekali, panggilan manja itu tak di dengar Dewa dari mulut Vanya. Kini, mendengar suara Vanya lagi, membuat Dewa bak mendapat air dingin di padang pasir yang gersang.


"Nggak juga. Kamu alasan apa sama Emi?" Dewa bertanya sambil berbisik.


"Ketemu seseorang. Aku juga bingung, gimana caranya alasan tiap hari ke dia, mas. Kamu tahu sendiri akan sangat susah dan lambat laun dia akan curiga kalau kita sering bersama."


Dewa mengangguk. Vanya hanya memerhatikan intens Dewa. Baju yang Dewa kenakan masih sama dengan baju terakhir kali mereka bertemu.


"Kamu nggak pulang ke rumah Nika?"


"Enggak. Aku malas bertengkar lagi sama dia, makanya aku memutuskan hubungi kamu. Otakku lagi buntu di rumah, dan juga perlu hiburan."


"Terus kita mau kemana? Kembali ke rumah?"


"Ya. Aku nggak sabar sebenarnya pengen memiliki kamu, Van. Hanya saja, gimana caranya meyakinkan om Ken dan Tante Anja. Anika juga, aku yakin ia nggak akan rela gitu aja kalau kita menikah."


"Itu pasti, mas. Aku kadang bertanya-tanya, mengapa takdir nggak memihak ke kita."


Hening kemudian. Mobil Dewa melaju pelan. Keduanya kini tengah memikirkan banyak cara bagaimana supaya mereka segera menikah secara resmi. Tinggal serumah dan melakukan hubungan suami istri, membuat Vanya berdosa terhadap banyak orang. Hanya saja, nafsunya sudah lebih tinggi daripada akal sehatnya.


**


Dengan langkah bimbang dan mulai meragu, sore ini Anika berada di kantor suaminya dengan menemui asisten Dewa secara langsung. Bukan karena Anika tak ingin menemui Dewa, melainkan Anika takut justru mendapat kabar buruk perihal Dewa yang membohonginya.

__ADS_1


Satu jam lalu, Kania meneleponnya dan meminta Anika sekedar ke kantor dan mencari tahu Dewa untuk dijadikan barang bukti. Hanya formalitas, bahkan Kania tahu dimana Dewa sekarang dan tengah bersama siapa.


"Sinta, bapak dimana?" Anika yang disambut Sinta, asisten baru Dewa, bertanya pada wanita itu. Tentu saja Sinta yang di tanya hanya mengerutkan keningnya.


"Bapak? Bukannya bapak datang cuman tiga jam saja di kantor, Bu? Katanya ada urusan rumah dan meminta saya agar membatalkan rapat dan satu pertemuan dengan klien hari ini."


Anika benar-benar merasa jantungnya seperti ditarik paksa dari rongga dadanya. Apa yang Anika takutkan, benar-benar terjadi. Beruntung, Anika mengikuti saran Kania untuk merekam percakapannya dengan sekertaris Dewa itu.


"Jam berapa suami saya keluar dari kantor?"


"Sekitar satu setengah jam yang lalu, Bu."


"Ya sudah kalau begitu. Dia pamit untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor katanya. Mungkin pekerjaan yang dia maksud adalah pekerjaan tentang Vanya, wanita yang mengundurkan diri beberapa hari lalu."


Baru saja empat langkah Anika meninggalkan Sinta, kini Anika berbalik dan kembali menatap Sinta.


"Jangan lupa untuk sampaikan ini pada Dewa Sinatra, Sinta. Katakan, bahwa istrinya datang mencari dan sudah mencium kebusukannya, perselingkuhannya dengan Zhivanya yang juga sepupu saya, karyawan yang resign beberapa hari lalu. Katakan juga pada Dewa bahwa saya bahkan lebih dari sekedar mampu untuk meruntuhkan perusahaan ini kapanpun saya mau, membuat seluruh karyawan kehilangan pekerjaan dan Dewa kehilangan citranya sebagai pemimpin. Jangan pernah meremehkan ibu rumah tangga ini. Keluarga Niko Mahardhika bahkan lebih dari sekedar mampu untuk memporak-porandakan kantor ini dan seisinya.


Nika berkata dengan tegas dan lantang. Semua karyawan yang ada di lantai atas dan semua petinggi perusahaan yang Dewa pimpin, kini keluar dan melihat Anika yang terlihat murka.


Ya. Anika tak sengaja mengeluarkan sisi lain dalam dirinya. Sifat Kania, diam-diam menurun padanya. Wanita itu sudah tidak bisa mengendalikan diri dan emosinya.


Sebenarnya, Anika sudah menahan dirinya sejak beberapa waktu lalu. Hanya saja, kesabaran dan mengalah selalu ada batasannya.

__ADS_1


Geram, itulah yang Anika rasakan. Selama ini ia bahkan rela mengabdi untuk Dewa Sinatra dan meninggalkan kariernya begitu saja. Karena perselingkuhan Dewa, Kini Anika menyesal telah menerima pinangan Dewa dan memilih untuk menikah muda.


"Lihat saja, mas. Aku bahkan bisa lebih gila dari mama jika sudah kau sakiti berulang kali. Beberapa hari ini, aku memilih mengalah dan memperlakukanmu layaknya raja di rumah. Sabarku terbatas. Aku nggak bisa jadi wanita bodoh. Maaf om Ken, Tante Anja......"


Anika membuang nafasnya kasar sambil bermonolog.


"Maaf karena kali ini Anika harus tega menghancurkan Zhivanya."


Keluarlah sudah sifat Anika. Wanita yang semula lembut dan santun, kini malah berubah jadi jahat dalam sekejap.


Entah apa yang akan Kania dan Anika lakukan untuk mengatasi perselingkuhan Dewa Sinatra. Yang jelas, Anika harus memberi pelajaran sepupu dan suaminya itu yang sudah sama-sama mengkhianatinya. Andai Dewa mau berubah dan memperbaiki semuanya, berjanji untuk tak mengulangi kesalahan, Anika akan menerima kembali Dewa dengan lapang dada demi Vio.


Memberi kesempatan kedua, Dewa juga berhak untuk mendapatkannya.


"Vio.... maafkan mama, nak." Anika meneteskan air mata sambil mengemudi. Bila mengingat Elvio, Anika mendadak hatinya teriris.


Sejujurnya, sejak tadi Anika menahan diri dan tak memiliki keinginan untuk menangis. Tapi bila sudah menyangkut anak, hati ibu mana yang tak menangis.


"Ya tuhan.... kuatkan aku. Tolong jangan hancurkan rumah tanggaku. Aku nggak mau Vio tak memiliki ayah dan kurang kasih sayang serta kehangatan Dewa. Tolong utuhkan kembali rumah tanggaku."


Anika menangis meluapkan kerapuhannya seorang diri.


**

__ADS_1


__ADS_2