PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 34


__ADS_3

Kania tak bisa memejamkan matanya begitu saja. Meski malam telah larut, Fatih dan Anika kini telah tidur bersamanya di satu ranjang yang sama. Setelah menolak dengan tegas keinginan Niko untuk menginap di sana, Namun Kania kini kalah karena tak ingin Fatih kebingungan melihatnya dan Niko saling adu mulut.


Ibu dua anak itu berbaring dengan tak nyaman. Namun matanya menyiratkan binar bahagia ketika melihat, Fatih tidur di sisi yang dekat dengan dinding, sedang Anika berada di tengah-tengah di antara dirinya dan Fatih.


Di lantai bawah, Niko tidur dengan lelapnya dengan hanya mengenakan tikar lipat yang dilapisi kain sarung. Bisa Kania pastikan, esok hari badan Niko akan pegal-pegal. Namun, Kania sama sekali tak mau menunjukkan kepeduliannya dan membuat Niko besar kepala nantinya. Walau kini, tangannya gatal hendak menyelimuti tubuh suaminya yang terkulai di lantai bawah.


Waktu telah menunjukkan dini hari. Dan dengkuran halus Niko masih terdengar merdu di telinga Kania.Ya tuhan, sudah sekian lama dalam kurun waktu setahun, Kania mati-matian menepis bayangan dan segala yang berkaitan dengan suaminya. Namun kini ternyata tak sedikitpun rasa debar jantung yang begitu hebat itu, hilang dan terkikis oleh waktu.


Hingga Kania memutuskan bangkit dan menuju ke dapur untuk melakukan apapun yang ingin di lakukannya.


"Kamu mau kemana?".


Suara serak Niko berhasil menghentikan Kania yang hendak membuka pintu kamar.


"Bukan urusan kamu".


Ketus Kania tanpa menatap Niko dan membuka pintu. Alangkah terkejutnya Kania ketika melihat mama nya tertidur di sofa, sedang Fandy, pria itu menikmati secangkir kopi di ruang tengah.


"Kania..... Kamu mau kemana, nak?"


Tanya Fandy lembut. Senyumnya mengembang sempurna meski matanya menampakkan kelelahan.

__ADS_1


"Ke belakang".


"Setelah itu, istirahatlah lagi. Jangan lama-lama meninggalkan Anika."


Tanpa menjawab, Kania berlalu begitu saja. Hatinya terremas pilu sebenarnya, ketika melihat mama tidur dengan posisi tak nyaman.


Setibanya di belakang, tiba-tiba Kania teringat nasib Sila yang tadi mengamuk akibat di abaikan begitu saja oleh Niko, di dalam mobil seorang diri, pula. Dalam hal ini, Kania tak menyalahkan Sila. Pasti Niko menghalalkan segala cara demi menekan Sila.


"Kamu kenapa nggak kembali ke dalam? Nggak tidur lagi?"


Fandy tiba-tiba muncul dan mengejutkan Kania.


"Belum ngantuk".


Tegas Fandy, membuat Kania mau tak mau, menurut karna tak ingin membuat keributan dini hari seperti ini.


Setibanya di dalam mobil, Fandy hanya diam dan menatap putrinya dari kaca spion depan.


"Papa sadar, Kania ..... Sekuat apapun papa berusaha mengendalikan diri, papa hanyalah manusia biasa. Papa salah, papa tau itu. Tapi ingatlah satu hal nak, tak ada orang tua yang tak kehilangan ketika berjauhan dengan anaknya, apalagi hingga setahun lamanya. Papa nggak akan maksa kamu untuk maafin papa. Papa hanya berharap, kamu dengarkan apa yang akan papa ceritakan sama kamu".


Kania diam tak menjawab. Air mata yang tadinya tumpah ruah, Kini seolah kering dan memasuki musim kemarau panjang.

__ADS_1


Mau tak mau, ia memutuskan untuk mendengar apa yang akan di katakan papa.


"Dulu, ketika mamamu mengandung mas Kenan, papa telah melakukan kesalahan dengan menikah lagi dengan kekasih papa. Katakanlah, papa brengsek. Tapi apa yang papa lakukan waktu itu, adalah bentuk dari rasa sayang papa pada mantan kekasih papa. Jangan tanya mengapa, karna papa dan mama di jodohkan".


Fandy menjeda ceritanya. Menghembuskan nafasnya kasar. Mengingat kebodohan di masa lalunya, membuat Fandy di dera rasa sesal yang dalam dan rasa bersalah terhadap istrinya.


"Mamamu pergi akibat kesalahan papa yang papa lakukan berulang kali. Meninggalkan papa dalam keadaan hamil tua dan membuat papa menjadi orang dungu. Hingga usia mas mu menginjak angka..... sekitar empat tahun, barulah mama di pertemukan kembali dengan papa.


Sejak saat itu, rasa sayang dan rasa bersalah papa terhadap kakakmu itu, kian dalam dan sulit di kendalikan. Sejak lahir hingga usia empat tahun, papa melewatkan masa-masa perkembangan nya.


Maafkan papa, nak.... maafkan papa......."


Fandy yang sedari tadi berusaha tegar, kini akhirnya air matanya, runtuh jua.


"Maafkan papa jika selam ini papa terkesan lebih membela dan menyayanginya di banding kamu. Posisi kalian di hati papa tetap sama. Sama-sama anak papa. Tidak ada niatan papa untuk membeda-bedakan kamu dan kakakmu, nak. Papa sayang, sangat sayang padamu. Kamu berhak marah. Hukumlah papa, mama, kakak, dan suamimu. Tapi kalau boleh papa minta, untuk permintaan yang terakhir sekalipun, jangan hukum anak-anak mu. Mereka tidak bersalah. Jangan membuat mereka kahilangan kasih sayang dari salah satu orang tuanya.


Niko adalah suami yang baik. Kesalahannya telah mengabaikan mu, adalah papa yang menekannya. Pertahankan dia, karna dia pria setia dan tulus mencintaimu. Tidak seperti papa mu ini yang bajingan sejati di masa lalu."


Kania terhenyak mendengar penuturan papa yang begitu mengiris hati. Benarkah bahwa Niko adalah suami yang setia? Hati Kania tiba-tiba menghangat, meski ia masih berambisi untuk tidak segera memaafkan Niko. Akan ia beri pelajaran Niko karena telah mengacuhkannya, agar di masa depan, Niko tak mengulang kesalahan yang sama.


"Apa kamu juga ingin dengar, sebuah cerita tentang Niko yang hampir gila setelah kamu tinggalkan?".

__ADS_1


Lagi-lagi, Kania di buat terkejut akan momen-momen setelah kepergiannya.


🍁🍁🍁


__ADS_2