PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 47


__ADS_3

Dewa menelan makan siangnya hari ini, dengan susah payah dan kerongkongan yang terasa sempit. Baru saja lelaki itu makan dua suap nasi dan lauk masakan istrinya, Dewa seolah tidak lagi berselera, saat ibu mertuanya, Anjani datang dan memberi kabar bahwa dua hari lagi, Anika dan Rama akan melangsungkan pernikahan.


Siapa yang tidak syok?


Sejenak, Dewa bertanya pada sudut hatinya yang terdalam, apakah ini sebuah rasa cinta terhadap mantan istrinya itu?


Tiga tahun telah berlalu, maka dengan akal yang seharusnya waras, Dewa harusnya lebih fokus membahagiakan istrinya, bukan justru memikirkan Anika. Toh dulu dirinya yang mengkhianati Anika, dengan berselingkuh bersama Vanya.


"Kamu kenapa, Wa?" Anjani bertanya pelan, ketika melihat Dewa membiarkan makanannya berdiam dalam mulutnya tanpa mengunyahnya. "Kamu sakit?" tanya Anjani yang sedikit curiga.


"Enggak, Ma. Cuman kaget aja, karena kabar pernikahan Anika yang dua hari lagi, kerasa mendadak," jawab Dewa. Ia kenal betul, karakter Anjani yang pasti akan tahu bahwa ia tengah memikirkan Anika.


"Mama sendiri juga kaget, tuh Vanya aja juga terlihat terkejut saat Tante Kania bilang, Anika menikah besok lusa," timpal Anjani. "Ya udah, Mama mau pulang dulu, ya. Terima kasih, kamu dan Vanya sudah mengurus butik dengan baik," ujar Anjani, sebelum kemudian berlalu pergi.


Di tempatnya, Vanya tertegun dengan sikap dan alasan suaminya. Mungkin ikatan batin, Vanya merasakan bahwa suaminya itu gundah akibat mendengar kabar pernikahan Anika. Apa mungkin Dewa masih menaruh hati pada sepupunya itu? Vanya takut bila itu sampai terjadi.

__ADS_1


"Kamu masih mencintai Anika, mas?" tanya Vanya tanpa menatap Dewa. Wanita itu masih sibuk menggunting pola kebaya yang dipesan oleh klien beberapa hari lalu.


"Enggak," jawab Dewa kemudian. Lelaki itu melanjutkan makan, agar Vanya tak semakin curiga. Sekuat tenaga Dewa berusaha untuk mengenyahkan Anika dari hatinya.


"Tapi kelihatan banget kalau kamu itu masih memikirkan Anika," ungkap Vanya.


"Kamu cemburu?" ledek Dewa sambil terus mengunyah makanannya.


"Untuk apa? Anika nggak mau bersaing sama sepupunya, Terlebih itu aku. Jadi buat apa? Lebih baik aku diam aja dan melanjutkan hidupku. Toh kamu juga udah jadi suami aku sekarang. Aku nggak kayak Anika yang baik, aku cuman wanita jahat yang merebut suamiku dengan dalih cinta," Vanya menghentikan gerakannya yang memotong pola kebaya rancangannya.


Sejujurnya, sampai sekarang Vanya masih degelung rasa bersalah atas hancurnya rumah tangga Anika dengan Dewa, meski Anika berkata ia sudah memaafkan Vanya.


"Tapi aku nggak percaya," jawab Vanya. Wanita itu mulai mencari gara-gara dan suka curiga pada Dewa, padahal, dewa tidak begitu.


Dewa meletakkan gelasnya seketika, menatap Vanya yang mulai berhasil menyulut emosinya. "Ini jam kerja, Vanya. Tolong jangan memancing emosiku. Aku udah jelasin apa adanya dan aku begitu menghindari pertengkaran," ucapnya.

__ADS_1


"Mas, kalau kamu masih ada suka sama Anika, jujur aja kenapa, sih?" tanya Vanya.


"Lalu, kalau aku bilang gitu, kamu mau apa? Ujung-ujungnya ngajakin bertengkar, kan? aku nggak habis pikir sama jalan pikiran kamu. Aku jujur, malah kamu suruh bohong. Terserah kamu deh mau mikir gimana, yang jelas, aku capek dan nggak ada waktu dan tenaga untuk bertengkar!" Seru Dewa dan berlalu pergi dari sana.


Vanya hanya tertegun di tempatnya. Bila dipikir-pikir, Vanya yang terlalu curiga dan menaruh rasa tak suka dengan sikap Dewa, saat mendengar kabar bahwa Anika akan menikah dua hari lagi.


Tak ingin membiarkan suaminya merajuk terlalu lama, Vanya lantas menyusul Dewa yang tengah merokok di halaman samping butik. Sejak berpisah dari Anika, Dewa yang dulu bukan perokok, kini justru seperti kecanduan dengan rokok.


"Mas, maafin aku," Vanya berkata, saat Dewa menyesap rokoknya, dan melirik sekilas. "Maaf aku terlalu curigaan ke kamu. Aku salah, maaf, ya?"


"Ya. Lain kali jangan mengulangi lagi, Vanya. Jangan mencurigai sesuatu berlebihan, kalau nggak mau apa yang kamu curigakan, terjadi sungguhan nanti," jawab dewa.


Vanya menghampiri Dewa, dan duduk disamping lelaki itu. Keduanya lantas hanyut dan tenggelam dalam obrolan siang. Ada banyak hal yang coba Dewa tutupi, demi keutuhan rumah tangganya.


Menyesal? Entahlah. Dewa tak begitu tahu persis, bagaimana perasaannya saat ini. Satu Yang Dewa pikirkan, apakah Rama menyayangi Elvio layaknya putrinya sendiri?

__ADS_1


Dewa tak tahu dan tidak memahami dirinya, juga perasaannya.


**


__ADS_2