PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 6


__ADS_3

Malam ini, setelah makan malam di kediaman keluarga Fandyka, Ken sedang duduk di sofa ruang kerja papanya, Fandy. Di hadapan Kenan, Fandy dan Nawal duduk dengan wajah serius dan mimik tegang jelas di wajah mereka.


"Tadi malem, kamu kemana saja Ken? Kamu nggak macem-macem kan sama Anjani? Jangan sembarangan Ken. Anjani anak yang baik", Ucap Fandy memulai perbincangan mereka. Nawal hanya menyimak dan mencoba mendengarkan apa yang akan di sampaikan putra mereka.


"Macem-macem gimana sih pa? Ken cuma ngajak Anjani ke distro, beliin baju di distro Ken kemudian makan malam dan ngobrol ringan. Udah gitu aja".


Fandy dan Nawal akhirnya bernafas lega.


"Bukan apa-apa nak, mama sama papa cuma khawatir. Belakangan ini, mama sering dengar kabar diluar, kalau kamu sering gonta ganti cewek. Mama sama papa Nggak mau kalau sampai kamu beneran seperti itu. Mama sama papa nggak pernah ngajari kamu seperti itu", Tegas Nawal terhadap putra mereka.


"Udah ma, tenang aja. Mereka yang nyebarin berita nggak bener gitu mungkin aja mereka iri atau syirik sama keluarga kita. Mama nggak usah khawatir ataupun resah. Ken anak baik-baik kok ma". Jawab Ken tak kalah serius meski nadanya terdengar santai.


"Papa harap kamu serius dengan ucapan kamu".


Ken menganggukkan kepalanya.


"Kenan, jawab pertanyaan mama dengan jujur".


"Iya, ma".


"Kamu suka sama Anjani?", Ken mendongak menatap sang mama.


"Enggak". jawab Ken santai.


"Terus, kenapa kamu yang biasanya cuek kok tiba-tiba ngajakin Anjani jalan-jalan?".


"Emangnya salah, ya? Kalau Ken ngajak Anjani jalan-jalan? Ken cuma nganggap dia sekedar teman kok ma, dan sekedar ngakrab doang".


"Bener? Kalau kamu memang tertarik dengan Anjani, papa nggak keberatan kok. Dia anak yang cantik dan baik. Dia juga anak yang rajin dan disiplin". Fandy menimpali.


"Jangan ngaco deh pa. Mana mungkin Kenan suka sama anak pembantu?".


"Jaga ucapan kamu Kenan. Mama sama papa nggak pernah ngajarin kamu ngomong kayak gitu!", Nawal menatap putranya dengan tatapan tajamnya. Begitu juga dengan suaminya, Fandy.

__ADS_1


"Anjani memang anak pembantu. Tapi dia anak yang baik. Jangan pernah membandingkan derajat ataupun kedudukan sesama manusia. Pada dasarnya, semua manusia itu sama. Bukankah papa sering mengajarimu tentang itu?" Fandy berujar pelan namun tegas.


Tanpa mereka sadari, Bu Tarsih yang tanpa sengaja mendengarkan perbincangan mereka di balik ruang kerja itu, menitikkan air mata. Ia tidak menyangka, anaknya yang terlihat sangat menyukai Kenan, ternyata Kenan tidak lah lebih menganggap Anjani sebagai anak pembantu.


"iya pa, Ken ngerti".


Bi Tarsih pun bergegas pergi meninggalkan ruang kerja Fandy. Dengan masih berlinang air mata, Bu Tarsih berjalan tergesa-gesa menuju kamar. Hingga di dalam kamar, bi Tarsih bertemu dengan Anjani yang sibuk belajar.


"Buk? Ibuk kenapa? Kok sembab? Ibu nangis?". Anjani segera menghampiri sang ibu yang duduk di tepi ranjang karena menyadari ibunya saat ini sangatlah kacau.


"Nja, kalau boleh ibu meminta, tolong jangan pernah menyukai den Kenan dan tekan perasaanmu itu sebelum kamu menyesal". Ucap bi Tarsih dengan nada bergetar.


"Ibu ini ngomong apa to Bu?", tanya Anjani yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan ibunya ini.


"Den Kenan tidak menyukaimu. Lagi pula, kita harus tau diri kan nja, bahwa kita ini hanya anak pembantu". Isakan tangis lolos begitu saja dari bibir bi tarsih. Hatinya terasa sakit mengingat percakapan majikan dan anaknya di ruang kerja tadi.


"Apa Anja salah kalau Anja menyukai mas Kenan Bu?".


"Tidak salah kalau mas Kenan juga menyukaimu, nja. Tapi kalau mas Kenan tidak menyukaimu, itu jelas salah. Sampai kapanpun, kita berbeda dengan keluarga tuan dan nyonya yang selama ini baik pada kita yang bersedia membiayai sekolahmu dan hidup kita. Kamu harus tau diri siapa kamu dan posisimu". Bi tarsih semakin terisak. Anjani bingung harus gimana lagi.


"Ibu mohon nduk, Ibu mohon sekali ini....saja turuti permintaan ibu. Ibu Ndak mau kamu menyesal nantinya. Ibu Ndak mau kamu terluka nanti Kamu satu-satunya anak ibu. Ibu sangat menyayangimu. Ibu Ndak mau kamu terluka dan kecewa, nak".


"Tapi Anja akan lebih terluka kalau Anja tidak bersama mas Ken Bu. Anja sangat menyayangi mas Ken. Anja yakin, mas Ken juga menyayangi Anja. Apa ibu Ndak liat kalau mas Ken begitu baik dengan Anja? Lihat Bu, mas Ken bahkan memperhatikan penampilan Anja dan membelikan Anja beberapa potong baju!", ucap Anjani sambil membuka lemari, menunjuk baju-baju pemberian dari Kenan.


Bi Tarsih hanya terhenyak mendapati putrinya sudah benar-benar jatuh hati pada Kenan, putra majikannya.


"Ibu kecewa sama kamu, nja". Ucap bi Tarsih kemudian berlalu pergi ke taman belakang. Anja hanya menatap nanar ke arah ibunya.


'Maafkan Anja Bu, kali ini, Anja akan tetap mencintai mas Ken meski ibu menentangnya. Mas Ken baik, benar-benar orang yang baik. Anja yakin kalau mas Ken juga mencintai anja' batin Anjani sembari meneteskan air matanya.


................


Beberapa hari berlalu setelah perdebatan antara Anjani dan ibunya, bi Tarsih. Meski mereka berdebat beberapa hari lalu, namun mereka tetap berkomunikasi dengan baik. Bi Tarsih berharap, kedepannya Anjani segera sadar dan memahami keadaan mereka yang berbeda.

__ADS_1


Siang ini, bi Tarsih sedang beristirahat di kamarnya sambil menonton televisi. Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka dan Anjani yang mengucap salam sepulang dari sekolah.


"Assalamualaikum Bu...".


"Waalaikumsalam". Mata bi Tarsih tiba-tiba terpaku pada sosok yang ada di belakang Anjani. Dengan sigap, bi Tarsih segera menghampiri sosok jangkung nan tampan itu.


"Lho, mas Ken, ada apa? Apa mas Ken butuh sesuatu?" Tanya bi Tarsih sopan.


"Enggak kok bi, bibi tenang aja. Ken kesini cuma mau ijin mau ngajak pergi Anjani besok malam ke acara ulang tahun temen kampusku. Semua kan pada pergi sama pacarnya, nah Ken kan jomblo bi, jadi, boleh kan kalau Anja nanti Ken ajak kesana?",


"Ta, tapi den?",


"Anjani mau kok bi ikut, cuma ini Ken minta ijin sama bibi. Boleh ya, bi?", Ken memasang wajah memelas sembari menangkupkan kedua tangannya di depan bi Tarsih. Bi Tarsih pun segera menurunkan kedua tangan Kenan.


"Jangan begini den, bibi jadi Ndak enak. Kalau Anja mau ikut den Kenan,ya sudah Ndak apa-apa. Asal pulangnya jangan terlalu larut malam dan nggak macem-macem pasti bibi izinkan", ujar bi Tarsih seraya tersenyum.


Sejenak Ken dan Anjani saling melempar pandang dan tersenyum cerah.


"Makasih ya Bi, makasih banyak. Kalau gitu, Ken ke atas dulu ya Bi. Gerah baru pulang dari kampus", ucap Ken yang di beri anggukan oleh bi Tarsih.


Ken pun berlalu dan bi Tarsih melirik sekilas putrinya kemudian bergegas pergi ke dapur. Anjani hanya mendesah berat melihat reaksi ibu nya.


🌹🌹🌹🌹


Hai kakak-kakak reader yang tersayang...


Maaf yah kalau ceritanya membosankan. Maaf juga karna typo laknat yang bertebaran dimana-mana.


Pada dasarnya, karya ini murni hasil dari pemikiran saya pribadi.


Semoga kakak-kakak readers pada suka ya. Jangan lupa tap love and like juga komennya yang membangun semangat neng Tia yah.


Sampai jumpa di episod berikutnya.

__ADS_1


Peluk cium dari neng Tia....🤗😚😚❤️❤️


__ADS_2