PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 28


__ADS_3

"Papa.... Kakak...." Tangis Anika pecah saat ia baru saja turun dari mobil. Sesosok lelaki beda usia itu merentangkan tangan dan memeluk Anika bergantian.


Fatih, putra sulung Kania tampak menatap penuh cemas pada adik satu-satunya Itu. Lelaki tampan dengan dada bidangnya yang tegap dan lengan kokoh itu, tak mengira bahwa ia telah mempercayai lelaki yang salah.


"Nika.... kamu baik-baik saja?" Fatih berusaha untuk mencoba menenangkan sang adik yang saat ini terlihat rapuh. sungguh, Fatih sendiri seperti kesulitan mengontrol emosinya meski ia masih bisa bertahan di rumah dan tak melabrak putri kesayangan Anjani itu.


"Aku kangen kakak, kangen papa, kangen semuanya."


"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Kami semua ada untukmu." Niko berusaha menenangkan. "Ayo masuk."


Fatih tampak bahagia saat melihat Vio menjulurkan tangannya sambil mengoceh tak jelas. Meski tak bertemu setiap hari, namun Vio tetap ingin Fatih membawanya ke dalam gendongannya.


Kini, Anika telah duduk di ruang tamu. Kelopak matanya tampak sedikit cekung dengan sembab yang juga menghias. Bintik kemerahan sampai terlihat di permukaan hidungnya yang Iritasi akibat selalu mengeluarkan cairan karena menangis.


"Kamu jangan cerita apa-apa dulu, Nika. Ingat, tenangkan pikiran dan papa juga kakakmu nggak akan mendesak kamu harus bagaimana. Yang penting, kamu jangan gegabah dan memutuskan sesuatu dalam kondisi hati sedang emosi. Papa begini, bukan berarti papa nggak ingin masalah kamu cepat selesai." Niko tampak terdiam, menatap istrinya yang memejamkan matanya.

__ADS_1


"Iya, pa. Anika juga sedang lelah. Inginnya istirahat saja, tapi entahlah. Kayaknya susah untuk memejamkan mata."


"Ya udah, paksain untuk istirahat, dek. Vio biar sama kakak dan mama. Kamu harus menenangkan pikiran. Besok pagi, kakak akan ambil libur dan bawa kamu dan Vio jalan-jalan." Fatih tampak prihatin melihat adik tercinta yang sedang kacau.


"Ya udah deh, kak. Aku mau masuk dulu." Anika berlalu pergi, sebelum mengecup sekilas pipi putrinya yang sedang mengoceh.


"Siska, istirahat saja di kamar tamu, Titip Vio dulu, ya?"


Anika berlalu, meninggalkan Kania, Niko dan Fatih. Siska telah pamit berlalu dan istirahat. Tak lupa, salah satu pembantu Kania mengambil alih Vio yang masih belum tidur.


"Terus, dia bilang apa?" Kania merubah posisi duduknya untuk lebih tegak. Mata yang tadinya kelelahan dan mengangguk, sontak saja kembali terbuka lebar.


"Mas Ken tanya kamu apa udah pulang? Juga..... dia menanyakan perihal video yang kamu krim ke nomor ponselnya."


"Terus, kamu bilang apa?"

__ADS_1


"Aku bilang, kamu dan Anika dalam perjalanan pulang. Mbak Anja bilang, katanya bakal kembali kemari setelah kamu dan Nika datang. Aku diminta untuk meneleponnya."


"Nggak usah. Jangan telepon dulu, biarkan sampai Vanya datang. Aku nggak mau Nika menceraikan Dewa gitu aja sebelum Anika memberi tamparan keras sama Vanya. Vanya harus mendapatkan ganjarannya."


"Maksud nama?" Fatih mengerut dahinya tak suka. Putra sulung Niko itu yang sejak tadi hanya diam, kini ikut bersuara. Fatih hanya khawatir, jika mamanya memberi pelajaran Vanya. Percayalah, Kania bukan pribadi yang memiliki toleransi dan mudah memaafkan begitu saja.


"Kalau adik kamu menceraikan Dewa gitu aja, terlalu enak dan mulus bagi Vanya dan Dewa untuk bersatu. Biarkan aja dulu Nika bermain-main sama mereka sampai mereka puas dan benar-benar mendapat balasan yang pantas."


"Astaga, mama. Biarkan Nika yang menentukan dan juga jangan meracuni pikiran polosnya." Fatih mengungkapkan pendapatnya.


"Apa yang Fatih bilang itu bener, sayang." Niko juga ikut menimpali.


"Halah, kalian para lelaki, mana tahu rasanya sakit di khianati, mana sama sepupu lagi. Ah, udahlah. Mama lelah dan mau istirahat. Lebih baik kalian halau siapa pun yang mau menemui Nika, termasuk mas Ken dan anak istrinya."


Kania berlalu pergi tanpa berniat meninggalkan anak dan suaminya yang tercengang padanya.

__ADS_1


**


__ADS_2