
Hari berlalu, Minggu berganti. Kandungan Anjani sudah memasuki usia sembilan bulan, itu artinya sebentar lagi waktu nya akan tiba. Malam ini, Anjani tengah berbaring di ranjang dengan keadaan yang belum stabil, Meski keadaannya sudah lebih baik dari kemarin, tetap saja ia masih merasakan tubuhnya masih melemah.
Anjani menunggu kepulangan Kenan, suaminya yang masih pergi untuk mengontrol distronya.
Kenan masuk tanpa mengetuk pintu, membawa sebuah undangan dalam genggamannya. Senyum lebar ia tebarkan pada istrinya yang masih nampak pucat.
Belakangan ini, kesehatan Anjani menurun karna cuaca tengah memasuki musim pancaroba. Kenan dengan sangat tegas tidak memperbolehkan istrinya keluar rumah meski hanya sebentar saja.
Sikap posessif kenan, tentu saja membuat Anjani di Landa kebosanan karna terkurung dalam rumah dan kamar. Belum lagi sang mama mertua yang begitu cerewet karna tidak mengizinkan Anjani melakukan aktifitas berat.
"Anja....?",
"Iya, mas?".
"ini, Aku dapet undangan dalam acara wisuda ku Minggu depan. Tapi gimana ya, Aku nggak mau ninggalin kamu dirumah sendirian. Apa nggak masalah kalau kamu ku ajak menghadiri wisuda ku?",
"Ya aku mau ikut lah mas. Masa kamu tega ninggalin istri sendirian di rumah?".
"Tapi, gimana? Kandunganmu udah masuk usia sembilan bulan, apa kamu mampu jalan agak sedikit jauh? Aku takut, nja. Aku takut nanti kamu sakit perut mau lahiran kalau kamu ikut ke kampus. Apa aku nggak usah datang aja, ya?".
"Ya jangan lah mas. Aku ikut aja pokoknya. Lagian aku jadi ga bosen kamu kurung terus di rumah. Kamu nggak kasian apa sama aku?", Anjani mengucapkan kalimatnya dengan bibir menggemaskan, membuat Kenan tersulut api gairahnya.
Ken hanya diam dengan meredam sebisa mungkin gelora nafsunya. Beberapa saat kemudian, gelagat Kenan dapat di tangkap oleh Anjani. Anjani pun juga sebenarnya menginginkan sentuhan Kenan. Jiwa muda mereka benar-benar bergejolak.
"Mas... Kamu?". Kenan menggeleng lemah.
"Aku menginginkanmu, nja. aku...", Ken menepis apa yang ia pikirkan. Ia menggeleng keras kepalanya. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Aku...... juga mas". Anjani menggigit bibir bawahnya, ia terlampau malu karena telah mengakui sebuah fakta menginginkan Kenan.
"Aku takut menyakiti kamu dan anak kita, nja", Anjani tersenyum mendengar ucapan Kenan. Anjani bersyukur, karna meski Kenan sangat ingin, Ken masih lah memikirkan keadaannya dan bayinya. Anjani tidak lagi bisa merangkaikan kata untuk kebahagiaannya saat ini.
Hingga akhirnya, Anjani memberanikan diri untuk memulai permainan panas itu. Kenan yang terkejut karna keberanian Anjani pun, spontan membelalakkan mata dan tidak tahan untuk menikmati dan segera memimpin permainan dengan gerakan lembut.
__ADS_1
..............
Tidak selamanya kebahagiaan yang kita agung-agungkan akan selalu melekat pada kehidupan kita. Tidak selamanya sesuatu yang kita sembunyikan akan tertutup rapat. Dan tidak selamanya pula segala sesuatu yang kita jalani sesuai dengan apa yang kita harapkan dan kita rencanakan.
Taukah kamu arti dari sebuah kekecewaan? Sakit tak berujung? Luka tak berdarah? Tangis tak berair mata? Hancur tak berkeping? Duka tak berkesudahan? Atau..... Semuanya?
Pagi ini, hari cerah bersambut kicauan burung dan mentari yang bersinar hangat. Anjani menjemurkan dirinya di taman belakang sesuai yang di perintahkan ibu mertuanya. Belakangan ini, selain memperbanyak istirahat, Nawal selalu menerapkan pola hidup sehat Anjani untuk sedikit berolahraga ringan.
Apalagi saat ini sudah mendekati HPL Anjani, Tentu saja Nawal ingin keadaan yang terbaik untuk cucu dan menantunya.
Seperti saat ini, entah mengapa, Kenan merasa tidak enak hati yang entah karna apa. Jantungnya mendadak berdegup kencang tak beraturan. Bukankah hari ini hari ia untuk wisuda setelah menyelesaikan skripsinya? Tapi entah mengapa perasaan resah dan gelisah tiba-tiba muncul begitu saja mengusik ketenangan hatinya.
Kenan turun ke lantai bawah dengan mata terus menelusuri sudut ruangan. Ia mencari sosok Anjani yang sudah tidak ada di kamar semenjak ia selesai mandi tadi.
Tidak lama, Ken pun akhirnya menemukan keberadaan Anjani. Segera saja Ken menghampiri Anjani.
"Nja?", Yang di panggil pun hanya menoleh dan menebar senyum manisnya.
"Mas, aku udah buatkan susu di meja kerjamu tadi? Apa udah di minum? Kalo keburu dingin nanti nggak enak lagi loh", kata Anjani dengan mendekati suaminya dengan langkah perlahan. Perutnya yang semakin buncit dan sedikit menurun, membuat Anjani semakin berhati-hati saat melakukan gerakan. Anjani hanya tidak mau ceroboh untuk hal-hal yang cukup penting seperti kandungannya saat ini.
"Aku di suruh berjemur sama mama. Katanya biar seger aja".
"Iya mama bener, itu udah nggak pucat lagi", tambah Ken.
"Jam berapa sekarang? Apa aku siap-siap aja ya, mas. Gerakanku belakangan ini kan lamban karna kehamilanku udah sembilan bulan. Biar nanti kamu nggak telat nyampe kampus nya".
"Aku nggak usah datang aja kali ya, nja. Aku kok tiba-tiba gelisah gini nggak tau kenapa", Ken menatap Anjani dengan perasaan was-was.
"Kenapa sih kamu ini, mas. Aku kan udah bilang aku akan baik-baik aja".
"Aku sayang sama kamu, nja. Aku.... nggak tau kenapa mendadak perasaanku nggak enak".
"Itu cuma perasaan kamu aja kali mas. Udah ah jangan mikir yang macem-macem. Aku berangkat siap-siap dulu ya. Mau mandi". Kenan mengangguk.
__ADS_1
"Aku udah hubungi penata rias buat kamu, nja. Katanya bentar lagi sampe. Kamu di rias di kamar aja?" tambah Ken lagi. Anjani mengangguk mengiyakan.
"Iya mas, Aku tunggu di kamar aja".
...................
Kenan dan Anjani sudah tiba sedari tadi di aula kampus tempat acara wisuda di mulai. Acara berlangsung meriah yang di isi dengan hiburan hadirnya band ternama di kota itu. Anjani pun menikmati acara itu dengan antusias. Tak lupa, Fandy dan Nawal pun ikut hadir dalam acara itu.
Setelah acara selesai, waktu sudah beranjak siang. Ken memutuskan untuk makan siang di resto terdekat dari kampus. Tak lupa Rio dan Niko sohib Ken yang somplak juga ikut serta membuntuti Kenan dan Anjani. Sedang Fandy dan Nawal lebih memilih untuk segera pulang .
Setibanya di resto tujuan mereka, Kenan pun memesan makanan untuk mereka. Setelah selesai, mereka berencana pulang dan berpisah di sini saja. Sebelum pulang, Anjani pamit izin ke toilet sebentar.
Selepas kepergian Anjani ke toilet, Rio dan Niko seperti biasa menggoda Ken karna ternyata sudah berhasil menikahi Anjani.
"Ken, gue nggak nyangka kerja keras Lo malam itu berhasil. Nggak nyangka aja bentar lagi Lo bakal jadi bapak", kata Rio yang memulai perbincangan.
"Gue bersyukur pada akhirnya gue bisa kembali sama Anjani. Cinta memang datangnya tak pernah kita pikirkan, kan?". Sahut Kenan dengan mengulas senyum bahagianya.
"Eh tapi.... Lo beneran cinta sama Anja?" kali ini, Niko bersuara.
"Ya iyalah. Gue serius menghabiskan seluruh hidup gue dengan Anjani dan anak-anak kami kelak".
"Gila.... Yang awalnya kita cuma taruhan Lo buat ngedapetin keperawanan Anjani, sekarang malah cinta beneran". Rio berucap lagi tanpa Rio sadari, Anjani mematung di belakangnya. Kenan dan Niko yang baru menyadari kedatangan Anjani pun membelalakkan mata karna terkejut.
Kenan mendadak tegang. Nafasnya tak beraturan. Dadanya naik turun. Emosinya kacau. Kenan melontarkan ribuan sumpah serapah dalam hatinya untuk Rio yang bicara asal di saat rumah tangga Ken dan Anjani sedang hangat-hangatnya.
Anjani pun mendekat dengan air mata berlinang dan hanya mampu berkata lirih karna mendadak ia melemas dan seperti kehabisan tenaga.
"Kalian.....Ta, taru-han?".
๐น๐น๐น๐น๐น
Di part berikutnya, siapkan tissue ya kak...
__ADS_1
Bakal termehek-mehek Ampe pingsan ntar๐๐