
Suara ketok palu tiga kali dalam persidangan, yang dihadiri oleh Dewa dan Anika, menjadi sebuah keputusan mutlak bahwa kini Anika dan Dewa telah resmi bercerai. Hak asuh atas vio yang masih di bawah umur itu, otomatis jatuh ke tangan Anika.
Aura kesedihan tentu saja terlihat jelas pada wajah Anika. Sebanyak apa pun Anika mencoba untuk mengulas senyum untuk menutupi luka hatinya, nyatanya semua orang tak bisa dibohongi.
Kania dan Rama yang menemani Anika sidang kali ini, tak kuasa ikut prihatin dan sedih. Begitu juga dengan Dewa yang menyayangkan keputusan Anika yang terburu-buru menurutnya.
Tanpa terasa, air mata Anika jatuh di pipinya usai sidang berakhir. Bukan menangisi karena ia telah resmi menjanda, melainkan Nika menangisi nasib rumah tangganya yang kandas di tangan sepupunya, Vanya. Terlebih Anika sempat mendengar, bahwa Vanya tengah mengandung.
'Tentu setelah ini mas dewa akan benar-benar melupakan Vio sebagai anaknya. Ya udah, aku harus menjaga vio agar nggak terluka, nanti.'
Bisik hati Anika kemudian.
Anika bangkit, menghampiri Kania dan Rama yang kini duduk bersebelahan. Pertama kali yang Anika dapat adalah, pelukan lembut penuh sayang ia dapatkan dari ibunya. Sejak kecil, Anika selalu dimanja oleh Kania dan Niko. Keterpurukan Anika kali ini, tentu terasa berat baginya.
__ADS_1
Anika menangis dalam pelukan mamanya. Ia tak peduli lagi andai nanti Dewa melihatnya.
"Kamu harus kuat, Anika. Kamu anak mama yang jadi kebanggaan mama dan papa. Kalau di usia kamu yang udah sedewasa ini masih menangis, maka dunia mama dan papa nggak baik-baik aja. Kamu nggak mau melihat mama dan papa sedih, kan?" tanya Kania kemudian.
"Iya, ma." jawab Anika.
"Mbak Anika, Bu Kania, saya ke mobil duluan, ya?" Pamit Rana yang merasa situasinya tak nyaman. Bisa ia lihat tatapan tajam Dewa padanya. Maklum, sampai sekarang, Dewa masih belum tahu perihal keberadaan Rama sebagai sopir Anika.
"Ya. Tunggu sebentar disana, Rama. Aku mau ngobrol sebentar sama mama." pinta Anika sambil menghapus sudut matanya yang berair, dengan menggunakan tissue.
"Nika . . . ." Suara Dewa lirih, mendekat ke arah Anika yang masih memeluk mamanya. Sontak saja Anika melepaskan dirinya dari ibunya, agar bisa lebih leluasa berbicara dengan Dewa.
"Ada apa lagi, mas Dewa? Semua sudah jelas. Selamat atas pernikahan kamu dan Vanya, juga selamat atas kehamilan istri kamu. Semoga rumah tangga kalian baik-baik saja setelah ini?" Ucap Anika dengan nada suara yang datar. Jujur saja, hingga kini ia masih setengah tak percaya dengan kenyataan yang dihadapinya.
__ADS_1
"Aku, aku mau minta maaf." Ucap dewa kemudian.
Kania yang merasa penasaran akan apa yang ingin Dewa katakan, memilih untuk tetap tinggal di dekat Anika.
"Aku udah maafin semua kesalahan kamu, meski bekas sakit hatiku nggak akan hilang sampai kapan pun. Aku cuman berharap, malaikat penjaga diriku dan juga tuhan, juga bisa memaafkan kamu."
Kalimat Anika hanya sedikit, namun berhasil membuat dada Dewa seperti terpukul keras.Di maafkan, tapi Dewa diingatkan akan tuhan yang mungkin masih akan memberikannya hukuman.
"Ya, kamu bener. Lain waktu, seandainya aku datang mengunjungi Vio, membawa Vanya, boleh, kan? Vanya ingin ketemu kamu dan minta maaf secara langsung." Ungkap Dewa.
"Lupakan. Aku berharap dia nggak menampakkan wajahnya di depan aku lagi. Marah? Terus terang aku masih marah sama dia, meski sekarang aku dalam tahap berusaha memaafkan dia. Hanya saja, tolong biarkan suasana hatiku membaik lebih dulu. Kalau saat itu aku ingin menghajarnya, malaikat yang menjaga aku bilang, aku harus melihat om Kenan dan Tante Anja sebagai orang tuaku juga. Tapi kalau sekarang aku ketemu dia, aku takut nggak bisa mengendalikan diri dan membunuhnya. Jadi alangkah baiknya, jangan biarkan dia ketemu aku untuk sementara waktu."
Ungkap Anika, sebelum berlalu pergi dari sana. Dewa hanya bisa menatap langkah Anika dengan perasaan tak menentu. Ia tak tahu, Kebaikan dirinya yang bagaimana, yang akan ia pakai untuk menebus dosanya pada Anika dan juga Vio.
__ADS_1
Penyesalan Dewa, sudah terlambat.
**