
Rama nyaris tidak tidur semalaman, ketika lelaki itu kembali mengingat tawaran Anika padanya. Laki-laki itu merasa resah, karena telah di lamar secara langsung oleh majikannya.
Cinta?
Sekali lagi Rama menanyakan pada hatinya. Apakah ia benar-benar suka dan mencintai Anika?
Anika adalah wanita yang mengalami patah hati akibat pengkhianatan tiga tahun silam. Rama tak ingin memberikan luka pada wanita itu. Tidak, jelas Rama bukanlah sosok lelaki yang akan dengan mudahnya menyakiti hati wanita, terlebih itu Anika.
Lelaki itu hanya sadar diri, jika dirinya lelaki biasa yang kebetulan bertemu dengan wanita kaya dan baik seperti Anika. Bila boleh jujur, setiap berdekatan dengan Anika, Rama tak memungkiri jika dirinya itu merasa nyaman.
Flashback semalam.
"Jadi bagaimana, Rama? Apa yang kamu rasakan saat kita sedang dekat begini?" tanya Anika menatap dalam, netra Rama yang bening dan menghangatkan.
"Saya, saya merasa nyaman, mbak. Tapi, tapi saya, emm ... saya merasa tak pantas dengan mbak Anika. Saya, saya cuman sopir," jawab Rama.
"Saya nggak tanya itu, Rama. Itu bukan masalah bagi saya. Tetapi yang perlu kamu yakinkan pada dirimu sendiri adalah, saya hanya janda satu anak. Saya sadar itu," sahut Anika yang berubah menjadi formal dan serius.
"Saya nggak pernah mempermasalahkan tentang status mbak Nika, tapi, ini tentang diri saya," jawab Rama lagi.
"Yaudah, kalau gitu, nggak ada masalah dengan status dan strata sosial kita. Jujur saja, saya sudah lama menyukai kamu, karena kamu orang yang tulus, apa adanya tanpa dibuat-buat. Berhubung kamu juga suka sama saya, saya harap, jika papa bertanya nanti, katakan pada papa bahwa kita mantap menjalin hubungan," ujar Anika.
__ADS_1
Mata Rama melotot seketika, "gimana mungkin itu bisa terjadi, mbak? Ya ampun, mbak. Kita .... "
"Nggak ada hubungan apa-apa? Memang iya, Rama. Sekarang seperti itu. Tapi jika kamu serius menyukai saya, segera nikahi saya dengan mahar semampu kamu, saya nggak akan menekan. Saya tahu kamu orang baik, latar belakang kamu sudah saya ketahui semuanya. Saya dan kamu juga bukan lagi anak muda yang suka lebay dan menye-menye untuk kencan tak penting. Kita bisa mendekatkan diri setelah kita menikah. Tapi kalau kamu nggak mantap untuk memilih saya, saya nggak akan memaksa," ujar Anika panjang lebar.
"Saya, saya memang menyukai mbak Anika. Hanya saja, pikirkan hingga besok, mbak, mbak Anika apa nggak menyesal memiliki suami yang miskin seperti saya? Saya pribadi sih, bersedia menerima mbak Anika dan non Vio," timpal Rama kemudian.
"Baik, pikirkan dan mantapkan hati kamu. Saya beri kamu waktu sampai besok pagi. Apapun keputusan kamu, saya akan terima. Saya nggak suka menunda waktu," Anika mengakhiri percakapannya di dalam mobil.
--
Pagi buta, Rama bahkan tidak menyadari bahwa pagi telah menyapa. Lelaki itu mengerjapkan matanya beberapa kali, merasa ia bodoh sekali karena tak tidur semalaman. Entah apa yang dia pikirkan, namun yang pasti, lelaki itu semakin gelisah, karena Anika semalam hanya memberinya waktu hingga pagi ini untuk memberi jawaban.
Tak membuang waktu, Rama lantas mandi, dan berganti pakaian untuk bersiap kerja. tak lupa, lelaki itu juga sarapan dengan menu telur ceplok dan sambal kaleng. Menu yang sederhana, karena Rama berasal dari keluarga kurang berada dengan makan seadanya.
"Oh iya, bang. Ini sudah selesai sarapan, Abang sudah sarapan? Kalau belum, boleh sini sarapan, ada telur tinggal goreng," tawar Rama pada bang Sahrul, tukang kebun rumah Kania.
"Sudah tadi, mas. Silahkan. Kayaknya ada yang mau dibicarakan serius, mas. Ada bapak juga, maksudnya, Pak Niko sama Den Fatih juga," tambah bang Sahrul yang setengah berbisik.
Tentunya hal itu sukses membuat Rama semakin tak nyaman.
"Iya deh, bang. Makasih banyak, ya," ujar Rama yang diangguki oleh bang Sahrul. Rama kemudian menatap punggung bang Sahrul yang menjauh. Ada banyak tanya yang mewarnai otaknya kali ini.
__ADS_1
Tak membuang waktu lagi, Rama lantas keluar dari paviliun, berniat menuju ke rumah utama. Tanpa sengaja, Rama dikejutkan oleh kedatangan sosok Anika yang kini tengah memegang tangannya.
"Rama, kita ngobrol sebentar sebelum kamu menemui Papa," ujar Anika, dan melihat sekeliling yang tampak sepi.
"Iya, Mbak Anika?" tanya Rama yang berpura-pura lupa akan obrolan semalam dengan Anika.
"Jadi, apa keputusan kamu?" tanya Anika tanpa bertele-tele.
"Saya mantap untuk mencintai mbak Anika," Rama menjawab mantap, "hanya saja, tolong jangan ada penyesalan di kemudian hari karena mbak Anika memiliki suami seperti saya."
"Nggak usah panjang lebar, Saya nggak suka ribet. Kalau gitu, usahakan nanti sampaikan niat dan jawaban kamu, ke Papa dengan bahasa yang sopan," ucap Anika.
Rama mengangguk.
Kini, tak ada lagi pilihan Rama untuk mundur.
'Kamu memang anak seoramg sopir dan pembantu, Rama. Tapi pesona kamu, berhasil membuat aku jatuh cinta untuk yang kedua kali.'
Batin Anika sambil memandangi Rama yang berjalan menuju ke rumah utama.
**
__ADS_1
Mungkin, dua bab lagi ending, ya, manteman.