PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 42


__ADS_3

Tragedi demi tragedi, kembali menimpa rumah tangga Dewa dan Vanya yang seumur jagung. Manis madu Pernikahan yang harusnya mereka cecap bersama, kini telah berubah menjadi lautan duka tak bertepi.


Harusnya, Dewa dan Vanya bisa semangat menjalani hari, demi menantikan hadirnya sang buah hati. Nyatanya, Dewa dan Vanya kini seolah kehilangan gairah hidup, akibat kandungan Vanya tak terselamatkan. Bayi yang tak berdosa itu, nyatanya harus ikut menjadi korban.


Di rumah sakit, Dewa duduk di luar ruang operasi, seraya menunggu Vanya yang akan segera dipindahkan. Dokter telah menyatakan bahwa Janin Vanya tak bisa diselamatkan. Tentunya ini menjadi pukulan tersendiri untuk Dewa.


"Wa, kamu istirahat saja dulu. Pulang, dan tidur barang sebentar aja. Mama yang akan jaga Vanya." Ujar Anjani yang kini juga ikut menunggui Vanya.


Bahkan, saat situasinya genting begini, keluarga Dewa nyatanya tak ada yang ikut andil menunggui karena jarak.


"Ini udah hampir siang. Kamu ambil libur saja ke butik mama, biar semua diurus sama pegawai. Sekarang, yang penting kamu urus diri kamu juga. Setelah istri kamu sadar nanti, dia pasti sedih karena harus melihat kamu yang kacau begini." Tambah Anjani kemudian.


Sejak beberapa waktu terakhir, Anjani memang berniat untuk istirahat di rumah saja, mempercayakan butiknya untuk di urus menantunya yang kebetulan sedang kesulitan dalam hal finansial.

__ADS_1


Di saat begini, bahkan keluarga Dewa pun tak ada yang menunjukkan keprihatinan. Ukuran tangan dan segala bantuan, datangnya tentu dadu Anjani dan Kenan yang merasa tak tega melihat Dewa dan Vanya.


"Nggak apa-apa, ma. Mungkin sebentar lagi, Vanya akan sadar." Dewa tersenyum. Semalaman lelaki itu tak istirahat. Bahkan setelah mendengar bahwa anaknya tak terselamatkan, Dewa semakin tak memiliki rasa tenang sama sekali.


"Jangan khawatir. Tuhan pasti akan menggantinya dengan yang lebih. Jangan lupa berdoa. Biar bagaimana pun, mungkin udah seperti ini jalannya. Di masa-masa mendatang, mama harap kamu dan Vanya bisa sama-sama saling memperbaiki diri." Anjani kembali memberi Dewa petuah.


Setiap hari, Anjani tak pernah bosan mengingatkan. Dia memang ibu yang penyabar dan lembut penyayang.


"Ini mungkin hukuman buat Dewa dan Vanya, ma. Dewa akui, ini sangat menyakitkan. Hanya saja, Dewa ingin sekali menebus dosa kami di masa lalu, agar rumah tangga kami Harmon dan damai." Ujar Dewa.


Kania dan Anika datang berdua. Ibu dan anak itu tampak beriringan untuk menjenguk Vanya. Sebenci-bencinya Anika pada Vanya dan Dewa, Anika tetap memiliki nurani sebagai seorang wanita. Melihat Vanya yang ditimpa musibah, bahkan Anika juga merasa prihatin. Doa baik pun, sempat meluncur di bibirnya.


"Bagaimana kondisi Vanya, mbak Anja?" Tanya Kania. "Kandungannya?"

__ADS_1


Anika hanya diam di tempatnya. Meski gusar, namun Anika ingin ia tetap menjaga sikapnya.


"Vanya habis di operasi, Kania. Doakan yang terbaik untuk Vanya. Maafin semua salah dan khilafnya. Dia, keguguran." Anjani menjawab tanya Kania.


'Mungkin memang ini karma dari Nika.' Tambah Kania di dalam hati.


Sedang Anika, wanita itu terfokus menatap sekeliling. Tak terganggu meski hujan membawa berkah Tuhan, turun dengan deras.


"Anika?" Dewa menatap Anika dengan rasa yang tak karuan.


"Saya minta tolong, tolong bantu doa untuk kesembuhan Vanya, Anika." Suara Dewa lirih.


Anika terpaku dengan apa yang Dewa minta.

__ADS_1


**


__ADS_2