
Entah mengapa, hari ini Anjani merasakan dadanya sedikit nyeri dan entah disebabkan oleh apa. Tiba-tiba saja, ia ingin memeluk putrinya, Vanya tanpa sebab. Selain ada rasa tak nyaman, rupanya Anjani juga punya firasat tak baik.
Gelagat Vanya tadi pagi tampak tak nyaman. Mata panda Vanya, juga raut wajahnya yang tampak kelelahan, membuat Anjani ingin sekali rasanya mencecar Vanya dengan banyak pertanyaan.
Menolak Dewa semalam, apakah membuat Vanya demikian kacau hingga tak tidur semalaman? Anjani hanya tidak tahu saja, bahwa semalam Vanya bukan kacau akibat menolak Dewa, melainkan Vanya kelelahan akibat melayani nafsu hewani Dewa.
"Kalau lelah, sebaiknya kamu libur saja, Vanya. Mama tau hati kamu sedang tidak baik-baik saja. Sebaiknya istirahat dan merefresh pikiran. Mama nggak mau kamu kembali kacau seperti dua tahun lalu. Jangan mengulanginya lagi, Vanya. Dari awal kamu tahu kalau Dewa milik Sepupu kamu."
Anjani menghampiri Vanya yang tengah menyantap sarapannya. Kenan juga melihat gelagat tak nyaman dadi sikap Vanya. Lihat saja, bahkan cara berjalan Vanya tadi saat menghampiri meja makan, juga seperti tidak baik-baik saja.
Kenan hanya berpikir, mungkin Vanya kelelahan bekerja. Toh semalaman yang Kenan tahu, putrinya berada di kamar tanpa keluar sama sekali.
"Vanya baik-baik aja kok, ma. Mama jangan khawatir. Kalau berdiam diri di rumah terus, yang ada Vanya justru bosan dan kepikiran Dewa terus. Nanti, pekerjaan adalah pelampiasan yang pas untuk Vanya."
Kelihatan sekali saat ini Vanya tengah gugup. Bahkan dari sorot matanya saja, Kenan menangkap dengan jelas.
"Kamu boleh bekerja, tapi jangan pernah di perusahaan Dewa lagi, Vanya. Papa akan beri kamu kebebasan dalam memiliki pekerjaan. Ingat, papa nggak akan pulang ke kampung halaman kalau kamu masih kerja sama Dewa. Hari ini juga, papa mau kamu resign dari perusahan Dewa. Jika perlu, kamu harus pegang salah satu usaha papa."
Kenan berusaha sekuat tenaga agar ia tak kecolongan. Menurut Kenan, sedikit saja Vanya ada celah untuk bisa bertemu dengan Dewa dalam sekali waktu, bisa saja nanti Dewa memengaruhi Vanya untuk hal yang tidak-tidak.
__ADS_1
Sayangnya, semua yang Kenan khawatirkan, sudah terlambat.
"Kalau itu yang papa mau, Vanya akan resign hari ini juga dari kantor."
Emi yang makan tak jauh dari Vanya, tersedak seketika. Gadis itu tak bisa bila bekerja namun tak bersama Vanya.
"Emi, kamu nggak apa?"
Anjani memberi segelas air putih yang segera di terima Emi.
"Nggak apa-apa Tante. Makasih banyak ya, Tante Anja. Oh ya, ini kayaknya Emi terlambat deh. Emi berangkat duluan, ya."
Nanti, Vanya perlu menguratarakan maksudnya untuk resign.
Lama mereka berbincang, dan Vanya hanya bisa mengangguk pasrah ketika Kenan memintanya resign. Bagaimana dengan dirinya dan Dewa nanti? Mau mundur? Vanya sudah menampakkan watak aslinya sekarang. Ia tak mungkin melepaskan Dewa, sementara ia telah menggadaikan Kesuciannya atas nama cinta.
"Vanya pamit, ma." Dan Vanya hanya bisa pamit bekerja.
"Ya. Ingat Vanya, ini hari terakhir kamu kerja di tempat Dewa. Setelahnya, kalau kamu nggak mau ikut pulang, kamu boleh nyari kerja di tempat ini."
__ADS_1
Anjani mengusap lembut kepala putrinya. Ada banyak hal yang ingin Anjani sampaikan pada Vanya.
"Tentu, ma. Hari ini adalah hari terakhir Vanya kerja sama Dewa."
Anjani dan Kenan mengangguk, melepaskan kepergian putrinya dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan.
Sepanjang perjalanan Vanya menuju kantor, kepala Vanya mendadak berdenyut nyeri. Hingga kemudian, Vanya mendapati Dewa yang juga baru turun dari mobilnya, saat Vanya turun dari taksi langganannya.
Dan Dewa seketika mendapat notifikasi pesan dadi Vanya.
'Hari ini aku mengundurkan diri di perusahaan, atas perintah papa. Aku harus bagaimana?'
Dewa benar-benar terkejut dibuat Vanya.
"Tidak tidak. Kamu nggak boleh resign gitu aja. On Ken pasti bercanda. Datanglah nanti pukul satu siang, kita perlu bicara di luar."
Dewa berlalu pergi, meninggalkan Vanya yang terbengong dan kacau.
**
__ADS_1