PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 27


__ADS_3

Jika kebanyakan para wanita akan membalas kecurangan pasangannya dengan kecurangan yang sama, maka kali ini Anika tak akan melakukan hal itu. Wanita itu bisa saja mencari lelaki lain untuk melampiaskan sakitnya di khianati, namun tak akan Anika lakukan karena ia tahu bagaimana sakit yang kini ia rasakan.


"Anika, kamu baik-baik saja?" Kania menyibak surai rambut putrinya yang kini jatuh di tepi wajahnya.


"Mama masih bisa menanyakan Anika? Setelah semua yang terjadi?" Anika kembali rapuh, hanya di depan mamanya. Kania pun membawa putrinya ke dalam pelukannya.


"Papa tadi telepon mama sewaktu kamu di kamar mandi hotel. Mama bilang kita akan segera datang sebentar lagi. Tenang aja, semua akan baik-baik saja." Kania mencoba untuk menenangkan putrinya.


Saat ini, Anika dan Kania tengah berada di perjalanan menuju rumah usai dari bandara. Bersama Siska dan Vio yang memang sering ajak bolak balik, kini Anika sudah memantapkan hati untuk tidak kembali ke ibukota lagi.


Ponsel Anika bergetar, nama pak Agus tertera, sopir keluarga Dewa yang saat ini sembunyi atas perintah Anika.


"Ada apa, pak?" Anika mencoba biasa saja meski kentara sekali, suaranya sangat parau.


'Pak Dewa sejak tadi nelepon terus, Bu. Aduh ini gimana? Mana bapak juga mencari saya ke rumah. Apa yang harus saya lakukan, Bu?'


"Temui Dewa saja, pak Agus. Katakan pada Dewa, kalau sekarang saya sedang dalam perjalanan pulang ke Kampung halaman bersama mama. Bilang juga kalau ini saya yang berkeras hati untuk pulang. Bilang juga, saya nggak mau di jemput dan suruh tunggu surat dari pengadilan."


Anika berkata dengan mantap. Hati wanita itu terlanjur sakit dan akan terasa sulit untuk memulihkannya sendiri.


'Baik, Bu. Tapi.... bagaimana kalau nanti saya di pecat, Bu.'

__ADS_1


"Enggak. Jangan khawatirkan hal itu. Bapak tenang saja, nanti urusan dipecat atau enggaknya sama Dewa, bapak bisa hubungi saya Saya sudah hubungi omnya Dewa dan meminta pak Agus tetap bekerja. Oh ya, pak. Apa bapak punya anak yang belum bekerja dan sedang mencari pekerjaan?"


'Ada, Bu. Anak sulung, laki-laki. Rama namanya. Memangnya kenapa, Bu?'


"Sebagai tanda terima kasih saya, saya minta untuk putra pak Agus untuk menghubungi saya. Saya akan beri anak pak Agus pekerjaan di perusahaan papa saya."


'Baik, Bu."


Panggilan dimatikan sepihak. Anika menghapus air matanya yang meleleh.


"Ma, apa om Ken atau Tante anja menghubungi mama?" tanya Anika.


"Ya, sayang. Mama hanya menjawab kalau kamu dan mama memergoki mereka langsung. Jangan khawatir, semua pasti ada jalan keluarnya. Mama juga minta, kamu jangan sampai membenci om dan Tante kamu, kamu tahu sendiri kalau mereka nggak tahu apa-apa. Lebih bijaklah dalam mengambil sikap."


"Bagus. Sekarang kamu harus kuat. Kamu harus bahagia. Ingat, ada Vio yang butuh kamu sekarang. Kamu satu-satunya sandaran Vio." Anika mengangguk mendengar ucapan mamanya.


"Iya, ma."


**


Sementara di tempat lain, Dewa kelimpungan mencari kemana perginya istrinya. Dan jantungnya terasa berhenti berdetak seketika, saat ia tahu fakta, bahwa Anika sudah pulang ke kampung halaman. Terbukti dengan nama Anika dan Kania, juga Siska yang namanya tercantum pada daftar penumpang di bandara.

__ADS_1


Dewa lemas. Ia tak lagi memiliki keinginan untuk bergelut dengan Vanya saat ini. Yang paling berat dan membuat Dewa kepikiran, adalah tentang Vio yang pasti akan menjadi korban keegoisannya.


"Mas, gimana? Aku harus apa? Ya ampun, mas. Aku yakin pasti Tante Kania dan Nika udah ngaduin ini ke papa mamaku." Vanya menangis frustasi. Wanita itu benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana dalam mengambil sikap. Dewa benar-benar ia cintai, namun juga Dewa tak bisa Vanya miliki.


Kini, keduanya sama-sama kacau balau. Hati mereka dipenuhi dengan keruwetan yang mereka ciptakan sendiri.


"Jangan khawatir, sayang. Kita hadapi bersama-sama. Kalau pun mama dan papa kamu mendesak untuk aku menikahi kamu, aku akan tetap menikahi kamu." Dewa tampak cemas. Bukan cemas apa, kini dilihatnya Vanya tampak sangat pucat.


"Gimana sama Vio dan Nika?"


"Entahlah."


Kepala Dewa kembali pening saat mengingat nama Vio dan Anika.


"Aku akan pesan tiket pesawat. Kita akan menyusul Anika dan menemui orang tua kamu. Nggak usah bawa apa-apa. Kita akan membelinya di sana kalau butuh sesuatu ataupun pakaian."


Vanya mengangguk. Wanita itu benar-benar menyesali semuanya sekarang.


"Mas.... aku.... aku takut."


"Jangan takut sekarang, Vanya. Kita udah terlanjur berjalan hingga titik ini. Perjuangan kita masih panjang, yang penting, kita harus sama-sama saling menguatkan dan kita selalu bersama."

__ADS_1


Dan hari ini, adalah hari paling menyakitkan bagi Dewa, Vanya, juga Anika. Sayangnya, Anika lah yang paling malang di antara mereka.


**


__ADS_2