PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 15


__ADS_3

Sudah berulang kali Vanya mencoba untuk tidak bersinggungan dengan yang namanya Dewa Sinatra. Tetapi apa yang terjadi? Berulang kali pula Dewa tak pernah berusaha mengerti dan menghargai Vanya.


Cinta?


Tentu saja cinta di hati Vanya masih ada untuk Dewa. Tapi Vanya tak mau menjadi duri dalam rumah tangga sepupunya, meski awalnya Anika lah yang menjadi duri dalam kisah cintanya bersama Dewa.


Siang ini, harusnya Vanya menikmati makan siangnya bersama Emi. Sayangnya, semua inginnya itu kandas akibat dewa yang menculiknya paksa dan membawa Vanya pergi ke sebuah Resto mewah.


Vanya benci situasi ini. Harusnya ia bisa Melupakan Dewa, namun berakhir akibat Dewa yang terus memaksanya untuk menikmati makan siang bersama.


"Aku mau kembali ke kantor, aku mau pulang." Vanya menatap Dewa sengit, tapi dewa tetap tak bergeming di tempatnya. Harusnya dewa mengerti bagaimana posisi Vanya.


"Diamlah dan nikmati makannya, Vanya. Aku sudah pesan banyak untuk makan siang kita." Ucapnya datar.


"Kamu gila, Dewa. Pikirkan Anika dan keponakanku. Sadarlah, Dewa. Anika dan putrimu membutuhkanmu."


"Aku tau. Aku ada untuk mereka. Apa lagi? Aku juga ingin kamu ada buatku."


"Kamu egois. Kamu nggak bisa memiliki keduanya. Kamu harus pilih salah satu."


"Katakan kalau kamu mau aku memilih kamu, Vanya. Aku akan merealisasikannya." Dewa tak main-main dengan ucapannya. Matanya yang tajam mengunci manik Vanya yang seolah kehilangan arah.


"Enggak. Aku nggak mau merebut suami sepupu aku. Lagian Anika juga nggak tau apa-apa sebelum menerima pinangan kamu. Ini bukan salah siapapun, Dewa. Ini semua udah takdir. Kita tak berjodoh dan mari hidup tenang masing-masing."

__ADS_1


"Maka aku akan meminta dan menawar takdir."


"Kamu egois."


"Aku tau. Sekarang katakan jika kamu udah nggak mencintai aku lagi."


Vanya terpaku. Hatinya bimbang dan dilanda keraguan yang luar biasa menyiksa. Ingin mengatakan mencintai Dewa, tapi tak mau menyakiti Anika. Ingin menyangkal, tapi hatinya memaksakannya.


"Aku memang mencintai kamu, Dewa. Sepenuh hati aku. Tapi sadarlah, kisah kita sudah berakhir."


Sekali lagi, Dewa menghembuskan nafasnya lelah. Ia tak tau lagi bagaimana caranya membuat Vanya mengerti, bahwa cintanya hanya untuk Vanya.


Bolehkah jika seandainya Dewa egois dan Ingin memiliki keduanya?


**


"Anika yang jadi orang ketiga dalam hubungan mereka, ma. Itulah yang sebenarnya. Mau bagaimana pun Anika membantah, tetap saja semuanya tak mungkin bisa berubah. Dan cinta mas Dewa..... cuma untuk kak Vanya." Anika perlahan mengusap lembut lengan vio yang tertidur.


Saat ini, Kania membawa vio untuk tidur di kamar tamu, dan memanggil Anika serta untuk diajaknya berbincang. Sejujurnya Kania merasa lelah dan ingin istirahat, namun wanita itu tidak bisa tenang jika tak tau cerita dibalik sikap acuhnya menantunya.


"Yang sabar, Anika. Ini mungkin ujian dari Tuhan atas rumah tangga kalian. Mama juga dulu.... banyak sekali mengalami hal menyakitkan di masa lalu. Namun itu cukup kita rasakan dan kita jadikan kenangan. Demi anak, kamu dan ke Dewa jangan sampai egois. Mama nggak mau cucu mama kurang kasih sayang dari kalian. Jika tidak, mama dan papa yang akan mengambil asuh Vio. Lihat, dia sangat lucu.".


Kania tersenyum. Bahkan wajah vio lebih mirip dengan Fatih waktu kecil, Fatih putra sulungnya.

__ADS_1


"Anika maunya begitu, ma. Semoga saja mas Dewa sadar dan berdamai dengan takdir. Mas Dewa dan kak Vanya itu masih saling mencintai hingga Sekarang, ma. Andai tidak ada vio, mungkin Anika sudah mengalah dan memilih mundur dari rumah tangga kami."


Anika memalingkan wajahnya, tak ingin wajah sedihnya dilihat oleh Kania. Anika hanya berusaha menjaga mood mamanya agar tidak marah dan barbarnya kumat.


"Tapi sekarang ada Vio, kan? pikirkan Vio, Kamu jangan egois. Mama sebenarnya enggan untuk ikut campur urusan kalian. Mama akan pikirkan dulu, harus bicara atau tidak pada suamimu. Lihat dulu situasinya bagaimana. Jika Dewa masih tidak sadar, Mama akan coba bicara baik-baik dengannya."


"Terima kasih, ma."


"Tapi ingat satu hal, Vanya. Bukan mama ini mengompori kamu. Hanya saja, jika seandainya nanti kamu tidak kuat, jangan dikuat-kuatkan. Mama tak akan bisa melihat anak mama sakit. Jika bertahan membuat kamu sakit hati, ya mundur. Tapi jika sudah tak ada jalan lain demi Vio. Mama tak mau kamu berebut lelaki dengan Vanya. Biar bagaimana pun, Vanya adalah keponakan mama. Mama tidak akan memihak siapa pun. "


Anika mengangguk. Waktu terus merangkak menuju sore. Namun Anika masih tetap setia berbincang dan melepas kerinduan dengan mamanya.


"Memang seharusnya begitu, ma. Anika suka dengan mama yang begini. Hanya saja, nanti jika ketemu sama kak Vanya, Anika minta mama agar mama nggak menyalahkan dia. Biar bagaimana pun, yang menjadi orang ketiga adalah Anika."


"Ya mama negeri."


Di saat yang bersamaan, Dewa datang. Suara deru mobilnya itu yang membuat Anika hapal. "Itu mas Dewa."


"Pergi dan sambut dia, Anika. Jangan biarkan rumah tangga kalian dingin tanpa kehangatan sama sekali. Mama ingin, kamu jangan egois. Pikirkan Vio."


Anika mengangguk. Yang Anika pikirkan adalah, ucapan mamanya yang menyuruhnya untuk tak egois.


Sayangnya..... Dewa tetaplah Dewa yang egony setinggi langit.

__ADS_1


**


__ADS_2