
Pagi menyambut...
Anjani bangun dari tidurnya, Ia melirik Kenan yang masih tidur dan terdengar dengkuran halus. Anjani tersenyum dan rasa bersalah mulai muncul perlahan menjalar dalam sisi hatinya yang rapuh.
Anjani bangkit dan tiba-tiba saat telapak kakinya menyentuh lantai, perutnya mengeras seperti semacam kram. Entahlah, belakangan ini, Anjani sering mengalami kram perut.
"Aaaarrgggggghhh....." Pekik Anjani tertahan, sebisa mungkin Anjani menahan suara agar Kenan tak terbangun. Namun sayang, Anjani terlanjur mengusik tidur Kenan.
Ken yang mendengar suara Anjani seperti menjerit, namun tertahan segera bangun dan membelalakkan matanya saat mendapati Anjani meluruh ke lantai sembari memegangi perutnya.
"Nja..., kamu kenapa, nja? Kamu jatuh?".
Anjani menggeleng dan masih meringis menahan sakit, wajahnya pucat pasi.
"Aku biasa kram perut seperti ini tiap pagi, mas. Kamu jangan khawatir. Aku nggak apa-apa".
"Nggak apa-apa gimana, nja? Kalau di biarin bisa bahaya" Kenan heran dengan Anjani, Dalam keadaan sakit pun Anjani masih bisa berkata bahwa dia baik-baik saja. Dan kram seperti ini, ia alami setiap pagi.
Ken sadar, ternyata, tidak lah mudah mengandung buah cinta, apa lagi di usia muda. Kenan kembali merasa bersalah yang entah ke berapa kalinya.
Tanpa kata, Kenan segera membopong istrinya itu dan merebahkannya pelan di ranjang. Anjani pun tidak bisa menyembunyikan rona keterkejutan di wajahnya.
"Mas, kamu.....".
"Buang egomu kali ini, nja. Aku nggak mau kamu di lantai".
.................
Anjani bahagia saat ini, Ia berfikir biarlah saat ini ia menikmati saat-saat bersama suaminya.
Jika sudah tiba waktunya nanti mereka berpisah, ia harus benar-benar siap dan ikhlas melepas Kenan. Menurut Anjani, Ia tak akan selamanya bersama Kenan. Suatu saat nanti, Kenan pasti akan membuangnya setelah Ken bosan.
Mengingat kejadian pagi tadi, Anjani menangkap sinar ketulusan dari netra mata Kenan yang hitam legam. Hatinya tiba-tiba menghangat saat ia berada dalam rengkuhan Kenan.
Malam ini, Kenan pergi ke distro miliknya karna ada beberapa masalah di sana. Ada customer yang komplain. Jadi, Ken memutuskan untuk ke distro setelah mendapat izin dari Anjani tentunya.
Saat ini, Anjani tengah duduk di balkon kamarnya dengan sepiring melon di meja kecil sebelah kursi yang di tempatinya. Sebuah notif pesan membuyarkan lamunan Anjani. Tertera nama kenan Nayaka❤️ di sana.
'Nja, Habis ini aku pulang. Kamu mau aku bawain oleh-oleh nggak? Kali aja kamu mau apaaaa gitu😚'
Anjani tersenyum-senyum sendiri membaca pesan itu. Ken bersikap sangat manis setelah resmi menjadi suaminya. Andai pernikahan mereka tidak karna insiden hamil dulu, pasti kebahagiaan Anjani akan sangat sempurna.
Anjani mencoba menerima niat baik Ken dengan akan membalas pesannya.
__ADS_1
'Aku mau makan siomay batagor dong'
'Siap nyonya Kenan😍'
Begitulah balasan Kenan. Anjani merasa ragu sekarang dengan keputusan nya yang akan bercerai setelah melahirkan. Sepertinya, Ken sangat tulus padanya. Entahlah, perlahan Anjani akan mencoba membuka hatinya kembali.
Anjani berjalan pelan hendak turun dan menyambut Kenan di lantai bawah. Suasana hatinya sangat baik saat ini. Senyum dan binar bahagia tidak lagi ia pendam.
setelah Anjani turun ke lantai bawah, ia berpapasan dengan ibu mertuanya.
"Nja, Kamu mau kemana?".
"Nunggu mas Ken pulang, ma. Anja nitip pengen di beliin batagor". Nawal berbinar karna mendengar Anjani sepertinya sudah mulai berusaha menerima pernikahannya. Fandy dan Kania saling lirik kemudian mereka tersenyum.
"Ohh, cucu Oma mau makan batagor ya....?", ucap Nawal sembari mengusap pelan perut Anjani.
Anjani hanya tersenyum simpul. Tak lama, suara klakson mobil terdengar dari halaman.
"Kayaknya itu suamimu datang, nja". Kata Fandy.
"Iya, pa". Dan benar saja, Kenan muncul dengan membawa kantong plastik di tangannya. Ada beberapa bungkus batagor di sana. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.
"Assalamualaikum", ucap Ken.
"Nja, ini pesenan kamu.....". kata Ken dengan menyerahkan kantong plastik yang Ken bawa. Anjani menerimanya dengan mata berbinar.
"Makasih, mas". Kenan mengangguk.
"Ciye ciyeee.... yang lagi pengantin baru.... Jadi baper deh ah.....", Suara Kania lolos begitu saja dari bibir indahnya. Sontak Anjani merona di buatnya. Sedang Ken, ia sama sekali tak terusik dengan kalimat adiknya.
Nawal dan Fandy pun terkekeh melihat interaksi anak-anaknya.
"Adek...", ujar Fandy untuk menegur putrinya.
"Dulu, papa sama mama pas pengantin baru gitu, Apa kayak mas Ken dan kak Anja?", Nawal dan Fandy saling memandang. Dengan ringan, Nawal pun menjawab.
"Kurang lebih, seperti itu kali ya, pa?", Fandy pun terkekeh dan mengangguk mengiyakan.
"Papa sama mas Ken, lebih manis mana?".
"Kelamaan kapan kita makannya?" Sahut Kenan lirih.
Dan, berbagai obrolan ringan mulai menjadi bahan perbincangan mereka. Anjani bersyukur dalam hati, ia masih bisa di beri kebahagiaan. Meski harus melalui lautan diri, Semuanya tidak sia-sia karna kini, kebahagiaan dengan suka rela menghampirinya.
__ADS_1
"Ken, Kapan rencana mu untuk mengunjungi makam mertua mu?", Tanya Nawal setelah makan malam berakhir.
"Kalau nggak besok ya lusa kali mah", jawab Ken dengan melirik Anjani. "Itu pun kalau Anja udah lebih baik keadaannya. Yang penting Anja sehat dulu".
Anjani tersentuh mendengar penuturan suaminya. Baginya, perhatian kecil yang di nilai sepele inilah, justru membuat Anjani mampu luluh hatinya. Anjani hanya bisa mengulas senyum tipis.
"Kalau kamu besok nggak sibuk, ya udah mas besok juga boleh. Aku udah sehat kok".
Ken mengangguk. "Besok aku bisa luangkan waktu. Tenang aja. Aku kan bosnya".
"Bos? Bos macam apa yang ninggalin usaha distro nya Sampek mau bangkrut cuma gara-gara sakit hati?", Sahut Nawal cepat. Kenan pun hanya bisa pasrah kalau sang mama sudah bersuara.
"Jangan di bahas lah, ma". Jawab Ken yang di sambut gelak tawa dari semuanya.
Selesai makan malam, Anjani segera di bimbing menuju kamarnya. Ken benar-benar tidak membiarkan Anjani mengerjakan pekerjaan dapur. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada Anjani dan bayinya.
"Aku cuma hamil kan, mas? Enggak sakit. Kalau kurang gerak juga nggak bagus", ucap Anjani yang sudah mulai duduk di ranjang.
"Nja, Jangan bantah. Aku nggak mau kamu kelelahan". Jawab Kenan yang segera menyambar bantal dan hendak beranjak duduk di sofa, Namun segera Anjani menahan tangan Kenan agar tidak tidur di sofa lagi.
Kenan yang melihat Anjani pun terlihat bingung. Ia menaikkan kedua alisnya, "Kenapa, nja?". Anjani menggigit bibir bawahnya dan menunduk.
"Kamu, tidur disini aja, mas".
🌹🌹🌹🌹
Hai para readers yang Budiman. Terima kasih sejauh ini masih bersedia mengikuti cerita ini.
Bagi yang udah boom like dan berpartisipasi dalam cerita ini, ku ucapkan terima kasih banyak.
Bagi yang meminta part-nya di panjangin, mohon maaf saat ini kesibukan sedang melanda, jadi neng Tia nggak terlalu panjang up nya.
Tapi tetep akan di usahakan up tiap hari.
Mungkin setelah kesibukan neng Tia kelar
in reallife, Neng Tia usahain akan up panjang kali lebar kali tinggi deh pokoknya😂😂
Sekali lagi, terima kasih banyak para readers tercinta😚😚
Salam damai dari neng tia.
~
__ADS_1