PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 16


__ADS_3

"Mas, sudah pulang?" Anika berusaha bersikap biasa saja dalam menyambut Dewa. Suasana hati Dewa yang sore ini tak baik akibat penolakan Vanya, membuat Dewa tetap saja bersikap dingin. "Vio juga masih sama mama di kamar tamu."


"Ya, nanti aku temui mama." Jawab Dewa singkat. Lelaki itu bukan hanya tubuhnya yang lelah usai kerja seharian, tapi juga hatinya yang luar biasa letih.


Anika hanya bisa mengelus dada dan menghembuskan nafasnya kasar. Sebenarnya dia lelah menghadapi Dewa yang super egois itu. Tapi pinta Kania yang memintanya harus kuat, kini kembali terngiang di telinganya.


"Mas, nanti makan malam di luar, yuk. Aku ingin ajak mama keliling kota ini. Gimana?" Anika mengekor dibelakang Dewa, tapi dewa seolah acuh dan tengah berpikir. Malam ini rencananya ia ingin keluar untuk sesuatu hal.


"Besok malam saja, aku sedang ada urusan dan malam ini kita makan malam di rumah dulu. Besok pasti akan aku tepati." ungkap Dewa tanpa menoleh ke arah Anika dan tanpa menghentikan langkah.


"Baiklah. Tapi sapalah vio sebentar, mas. Biar nanti mama nggak kepikiran yang tidak-tidak dan nggak punya prasangka buruk sama rumah tangga kita. Aku mohon."


Dewa menghentikan langkah saat kini keduanya sudah berada nyaris ditengah tangga. Lelaki itu menatap istrinya yang menatap penuh harap padanya. Dewa diam sejenak. Dia ingin Anika tetap disisinya karena ada Vio yang tentu butuh kasih sayang kedua orang tuanya. Hanya saja, malam nanti usai makan malam, Dewa perlu menegaskan sesuatu hal pada Vanya tentang Tasya.


Ya. Tasya sudah ditemukan dan semuanya sudah jelas bahwa malam ini Vanya difitnah di depan Dewa. Dewa ingin meluruskan semuanya dan berharap hubungannya dengan Vanya bisa diperbaiki secepat mungkin.


Selalu berselisih dan dijauhi oleh wanita yang kita cintai, tentunya itu bukanlah hal yang mengenakkan. Dewa lupa, bahwa harusnya ia mengubur dalam-dalam cintanya dengan Vanya. Dewa belum sadar juga.


"Kamu masih belum ngerti maksud aku, Nika?" Dewa menatap tajam Anika. Suaranya juga terasa dingin dan tak ada kehangatan sama sekali.

__ADS_1


"Bukan begitu, mas. Acaranya apa nggak bisa ditahan atau ditunda Sampai besok? Aku nggak mau mama......"


"Mama nggak akan tahu jika kamu nggak cerita. Ah sudahlah, aku tak akan pusing memikirkan ini, Anika. Pekerjaanku di luar sana juga menungguku. Mengertilah, aku pimpinan di perusahaan, kehadiranku sangat dibutuhkan."


Dewa berlalu pergi dengan langkah cepat. Bahkan saat ada Siska, pengasuh vio, Dewa seperti orang yang terburu-buru dikejar sesuatu.


Kania yang sebenarnya menguping percakapan putri dan menantunya, sontak saja merasa geram dan ingin sekali rasanya menyerang Dewa. Sayangnya, Kania tak ingin gegabah.


Ada sebuah rencana yang Kania susuan agar Dewa tak berpaling dari Anika, istrinya. Biar bagaimana pun, ada Vio yang Kania prioritaskan masa depan dan kebahagiaannya. Selebihnya, Kania tak begitu peduli pada lelaki semacam dewa, andai tak ada Vio yang pasti akan jadi korban keegoisan Dewa.


**


Perbincangan hangat tentu selalu mewarnai malam kedua gadis itu. Namun sayangnya, malam ini semua itu tergantung dengan kedatangan Dewa, padahal waktu sudah memasuki waktu hampir jam sembilan malam.


Emi hanya mengernyitkan kening, merasa takut menghalangi karena Emi masih ingin bekerja di perusahaan Dewa yang memberi gaji cukup besar untuk karyawan.


"Malam, Vanya. Aku datang ingin mengajakmu, membawamu pada seseorang yang telah memfitnah kamu di masa lalu." Tanpa basa basi, Dewa mengutarakan maksudnya.


"Kemana? Maaf, pak Dewa. Hari sudah malam. Tak sepatutnya pak Dewa....."

__ADS_1


"Please Vanya. Kamu harus tau. Emi, jika mau ikut, aku tak keberatan." Dewa menatap penuh isyarat pada Emi agar ikut serta. Sayangnya, Emi menggeleng dengan dalih lelah dan lumayan mengantuk.


"Maaf, pak Dewa. Emi ngantuk pakai banget. mungkin lain waktu saja, ya. Kalian.... Berdua saja."


Emi tak mau terlibat urusan apa pun dengan Dewa Sinatra karena ingin hidup damai.


"Baiklah, ayo. Ini darurat dan aku terburu-buru."


Vanya melongo dan tak sempat berganti pakaian sama sekali.


Dalam diam, Vanya mencengkeram tangan Dewa. "Lepaskan."


"Nggak mau. Kita harus temui Tasya malam ini juga. Anak itu haru bertanggung jawab atas kehancuran hubungan kita."


Dewa berseru dalam mobil.


**


part pendek ya. maaf karena harus giliran update Aksa.

__ADS_1


__ADS_2