PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 28


__ADS_3

Malam ini, udara terasa sejuk. Meski tidak turun hujan, angin berhembus cukup kencang. Suasana mencekam seperti tengah terasa.


Kondisi Anjani dan bayinya sudah mulai stabil.


Zhivanya Nayaka Mahardhika.


Cucu pertama yang terlahir dalam keluarga Fandyka Satya Mahardhika.


Jam menunjukkan pukul 20.10 malam. Dua jam yang lalu, telah di gelar acara potong rambut Vanya. Setelah semua tamu undangan dan rumah kembali rapi, Anjani sengaja meminta semua orang berkumpul di ruang tengah, tempat keluarga berkumpul.


"Ada apa, nja? Apa ada yang mau kamu sampaikan?" Nawal bertanya dengan penasaran. Pasalnya, sudah sebulan ini, tepatnya setelah Anjani melahirkan Vanya, Anjani cenderung menjadi pendiam.


Seperti orang yang tertekan psikisnya, Anjani lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menyendiri. Nawal dan Fandy tentu saja khawatir.


Setelah kejadian Anjani yang mengetahui bahwa dirinya tidak lebih dari sekedar bahan taruhan, Anjani tidak marah ataupun menuntut apapun. Anjani hanya lebih pendiam dan hanya akan bicara yang penting-penting saja.


Bahkan juga Kenan sangat tidak nyaman dengan semua yang terjadi.


Setelah semua berkumpul, Vanya di ambil alih oleh Nawal. Bayi ini, selalu terlihat tenang dan tidak rewel.


"Maaf sebelumnya, ma". Anjani menarik nafasnya dalam-dalam. Menatap Kenan dengan jantung yang masih berdebar dengan tempo cepat.


"Mas, Aku minta maaf kalau selama kita berumah tangga, Aku nggak bisa membahagiakan kamu. Aku rasa Aku nggak bisa melanjutkan perjalanan rumah tangga kita".


Degg


Kenan tercekat. Nafasnya tertahan selama beberapa detik, wajahnya memerah dan seluruh tubuhnya mendadak lemas.


Kenan tidak habis pikir. Mengapa Anjani memutuskan berpisah di saat anak mereka masih sangat kecil.


"Apa yang kamu bicarakan, nja. Kamu... Kamu bercanda, kan?", Anjani menggeleng dengan menyunggingkan senyum tipis.


"Carilah wanita baik-baik, sepadan, dan pantas untukmu. Maaf aku... Aku nggak bisa melanjutkan".

__ADS_1


"Istirahat lah, nja. Aku tau kamu pasti lelah". ucap Kenan sebelum pergi meninggalkan keluarganya.


Fandy dan Nawal saling tatap. Sebelum akhirnya Kenan hilang dari pandangan mereka.


"Nja, Kenapa kamu memutuskan untuk berpisah dengan suamimu?", Fandy bertanya hati-hati. Ia tidak mampu gegabah dalam bertindak. Sebesar apapun kekuasaannya, Fandy tetaplah ingin menghargai privasi dan keputusan menantunya.


"Anja ingin sendiri, pah. Pernah menjadi objek taruhan bukan lah sesuatu yang mudah untuk bisa di terima. Mengingat masa lalu kami yang juga tidak begitu baik. Anja nggak pantes menyalahkan papanya Vanya. Anja hanya akan semakin tersiksa jika terus bertahan". Anja mengatakan dengan tegas. Meski matanya tak dapat menyembunyikan luka.


"Jadi, kamu belum bisa melupakan masa lalu?" Nawal pun turut memberikan suaranya.


"Bukan, ma. Bukan begitu. Anja hanya ingat n sendiri. Itu aja".


"Bagaimana jika suamimu sudah berubah? Mama tau kalau Ken sangat bersalah di masa lalu. Tapi bukankah setiap orang bisa berubah, nja. Kenan sudah memperbaikinya. Bahkan Ken sangat bahagia dengan hadirnya Vanya diantara kalian. Bagaimana bisa kamu memutuskan pisah? Ken pasti akan sangat hancur".


"Tapi ma, Anja nggak bisa......" Mata Anjani sudah berkaca-kaca.


Dulu, Anjani mungkin akan sangat mengidamkan untuk berumah tangga dengan Kenan. Tapi sekarang? Anjani sungguh merasa muak dengan kepura-puraan Kenan.


"Pikirkanlah kembali kembali nasib putri kecil kalian. Perceraian dan perpisahan memang mungkin yang terbaik untuk orang tua, tapi tidak dengan anak. Kamu tau, nja. Imbas terbesar perceraian orang tua adalah anak".


Fandy kembali meminta pertimbangan Anjani sebelum memutuskan. Ia hanya tidak mau cucunya mengalami nasib seperti Kenan kecil yang terlahir tanpa kehadiran Fandy saat itu. Membuka kembali memori ingatan tentang masa lalu Fandy, membuat Fandy kembali di terpa rasa bersalah yang begitu besar. Itulah alasannya mengapa Fandy selalu tenang dan lebih mampu mengendalikan emosinya saat menghadapai anak-anaknya.


Sebagai ayah, Fandy paham betul bahwa saat ini Anjani emosinya masih sangat labil. Mungkin cara berpikir Anjani lebih dewasa daripada Kania, Tapi dalam hal ini, Fandy nampaknya memang harus ekstra pengertian.


"Papamu benar, nja. Jangan hanya emosi sesaat kamu akan mengorbankan perasaan anak kalian. Perceraian juga bisa berdampak pada tumbuh kembang anak baik secara fisik maupun psikis. Jadi mama mohon, Bijaklah dalam memutuskan. Sekarang naiklah dan istirahat di kamarmu". Nawal menjelaskan dengan panjang lebar. Saat ini, Nawal hanya ingin Anjani tenang.


Anjani mengangguk dan segera mengambil alih Vanya untuk segera ia bawa ke kamar.


Sepanjang jalan menuju kamar, Anjani tidak tenang. Pikirannya kembali mengingat ucapan mertuanya. Benarkah ia harus mengurungkan niatnya untuk berpisah dari Kenan?


Sesampainya Anjani di kamar, Anjani segera meletakkan Vanya ke dalam box bayinya. tak lama, pintu kamar mandi terbuka dan Kenan muncul dari sana. Kenan menyunggingkan senyum tipis seperti tidak terjadi apa-apa.


"Sayang, Kamu mau langsung istirahat?", Kenan bersuara dengan mendekati Anjani. Anjani diam dan duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Aku nggak main-main dengan ucapanku tadi, mas. Tolong pikirkan ucapanku. Bersama pun, belum tentu akan menjamin kita akan bahagia".


Kenan menatap lekat Anjani.


"Sayang, aku mohon. Jangan bercanda lagi, oke?".


"Aku nggak bercanda, mas. Kalau kita paksakan untuk bersama, diantara kita pasti ada yang terluka?".


"Maksud kamu apa sih, nja. Aku bener-bener udah berubah, nja. Aku mau keluarga kecil bersama, mengukir cerita bahagia bersama-sama. Kalau kamu terluka karna pernikahan ini, berarti benar kamu nggak mencintai aku lagi?".


"Bukannya nggak cinta, mas. Aku cuma nggak sanggup".


"Apa yang membuatmu nggak sanggup? Apa Karna taruhan itu?", Tanya Kenan dengan mata tajamnya. Anjani meneguk ludahnya dengan susah payah. Tanpa memberikan Anjani ruang untuk bebas, Kenan meraih dan mencengkeram bahu Anjani pelan.


"Iya, mas. Biar gimana pun, Aku nggak bisa hidup dengan orang yang nggak mencintaiku".


"Apa kamu udah gila, nja? Berapa kali lagi aku harus ngomong sama kamu? Aku cuma mencintaimu sebagai wanita, nja. Perlu bukti apa lagi untuk membuktikan kesungguhan ku?".


Anjani bingung. Dirinya dilema. Mungkinkah Anjani akan tetap bertahan?


Hampir tiga puluh menit Anjani hanya diam tanpa berniat menjawab ucapan Kenan. Kenan menghela nafas gusar dan segera melepaskan cengkeramannya pada Anjani.


"Tidurlah, nja. Ayo kita istirahat". tegas Ken kemudian.


Kenan pun segera berganti pakaian dan merebahkan tubuhnya di sisi ranjang. Tanpa mereka sadari, Kenan dan Anja sama-sama meneteskan air matanya. Kenan terluka. Saat ini, Ken sangat mencintai Anjani. Bagaimana bisa Ken harus menceraikan anjani.?


Mereka sama-sama terluka.


'Aku sangat mencintaimu, nja'.


Batin Kenan menjerit.


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2