PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 8


__ADS_3

Ini sudah hari ke tujuh belas semenjak kesepakatan gila Ken dan teman-temannya buat. Ken senagaja tidak menemui Anjani atau lebih tepatnya menghindar. Namun, Ken tetap mengirimkan pesan pada Anjani berbentuk perhatian meski hanya sekedar tanya, sudah makan apa belum?".


Anjani merasa gamang. Satu sisinya, dia keberatan menyerahkan tubuhnya pada Kenan. Namun di sisi lain, ia sangat mencintai Ken dan terlanjur menyerahkan seluruh hatinya untuk Ken. Anjani tidak rela jika harus berhenti disini saja.


Berhari-hari tanpa bertatap muka dengan Kenan, membuat sisi hati Anjani di Landa kerinduan. Rasa rindu dan kegelisahan yang menyelimuti hati seolah mengalahkan akal sehatnya.


Apakah keputusannya kali ini benar? Nampaknya, Anjani benar-benar sudah buta. Mengirim pesan pada Kenan untuk bertemu dan berbicara berdua. Namun, sangat di sayangkan. Nomor Kenan mendadak tidak dapat di hubungi.


Dengan sekuat tenaga, Anjani mencoba melangkah ke arah kamar Kenan dan mengetuknya perlahan. Tak lama, pintu terbuka dengan penampilan Kenan yang membuat tubuh Anjani Panama dingin dibuatnya.


Ken hanya mengenakan handuk yang di lilitkan dari perut hingga sebatas paha bawah. Anjani menelan salivanya dengan susah payah sembari menundukkan pandangannya. Wajahnya mendadak memanas.


"Ada apa, nja?", Ken bingung dengan kedatangan Anjani yang hanya diam membisu. "Apa ada masalah?", Anjani menggeleng.


"Nggak ada kok mas. Sa saya... em ada yang mau saya bicarakan", Ken menarik salah satu sudut bibirnya. Sepertinya Ken sudah paham dengan apa yang hendak Anjani bicarakan.


"Apakah penting?" Tanya Kenan dengan menaikkan kedua alisnya.


"Tentang perbincangan terakhir kita setelah pesta itu, mas" jawab Anjani dengan menunduk dalam.


"Aku sebenernya, ada tugas yang mesti ku selesaikan karna harus di kumpulin besok sih. Tapi kalau penting, mungkin nanti selesai kerjakan tugas kita bisa keluar". ucap Ken santai.


"Iya udah deh mas. Nanti kabari ya".


"Iya deh nanti aku kirimi kamu pesan".


"Kalau begitu, saya permisi".


"Hm". Setelahnya, pintu di tutup pelan dan senyum kelicikan nampak di wajah tampannya


..........


Pukul 21.56 malam, Anjani nampak gelisah. Malam semakin larut, namun ponselnya tak kunjung memunculkan notifikasi pesan dari Kenan. Anjani yang tidur di kamar sebelah kamar ibunya, Akhirnya bangun.


Tepat saat Anjani membuka pintu kamar dan bersiap untuk keluar, Anjani mendengar ponselnya berbunyi.


Anjani pun urung ke kamar mandi dan mengangkat panggilan. Nomor Kenan tertera di sana.


"Hallo, mas".


"Hallo, Nja? Kamu belum tidur? Udah ngantuk belum?".


"Belum sih mas".

__ADS_1


"Ayo keluar",


"Tapi, semua orang sudah tidur kali, mas. Anja takut kalau keluar malem-malem gini".


"Tenang aja nja. Sama aku kok. Ya udah tunggu bentar. Aku jemput , Kamu tunggu aku di depan kamar kamu. Lagian, kayaknya semua orang udah pada tidur deh.".


"Injih, mas".


Tak lama, Kenan datang dengan senyum manisnya. Tanpa kata, Anjani mengekor di belakang Kenan dan segera masuk ke dalam mobil Kenan. Dan ternyata memang benar. Rumah memang nampak sepi. Mereka pun berjalan menuju alun-alun kota yang mulai sepi.


Kenan menghentikan laju motornya di sebuah warung kaki lima dekat alun-alun kota. Ken sengaja memilih tempat yang paling pojok agar pembicaraan mereka tak di dengar orang lain.


"Laper banget aku, nja. Tugas ku baru kelar. Makan malem aja aku baru ini",


"Loh, memangnya tadi mas Ndak ikut makan?", Kenan menggeleng.


"Nanggung. Pengen cepet ngelarin tugas biar bisa makan bareng kamu". Anjani pun tersipu malu.


Obrolan mereka sejenak terhenti karena pelayan mengantarkan makanan pesanan mereka. Kemudian mereka makan dan sesekali mengobrol.


Anjani saat ini lebih rilex karena sudah mulai terbiasa berdua dengan Kenan. Meski setiap pertemuan mereka, Anjani mati-matian untuk bisa menguasai diri dan menahan detak jantungnya yang berdetak tak beraturan.


"Nja?", Ken melirik sejenak ke arah Anjani, "Aku bayar dulu ya, kita bicarakan masalah kita di mobil saja. Di sini bising. Aku kurang nyaman", Anjani mengangguk saja dan tersenyum lembut.


"Jadi, gimana , nja?", Anjani mulai merasa canggung kembali dengan Kenan yang memulai obrolan tanpa basa basi.


"Apakah, em apakah mas serius dengan ucapan mas terakhir kali waktu di pesta itu?".


"Apa aku terlihat seperti bocah yang main-main?", Ken balik bertanya dengan menghadap pada Anjani dan menatap lekat remaja di hadapannya ini. Anjani mendadak salah tingkah di buatnya.


"Aku sangat mencintaimu, mas. Apapun. Apapun itu yang mas inginkan, selama aku mampu, akan aku realisasikan. Hanya saja...", Anjani merasa gamang dengan apa yang akan di katakannya.


"Hanya saja?",


"Aku bukan hanya butuh jaminan finansial, mas. Aku juga butuh kasih sayang dan perhatian dari, mas".


"Sebelumnya, bukankah aku juga sudah bilang tentang itu?", Anjani mengangguk membenarkan.


"Jadi intinya?", Anjani mendongak menatap Kenan.


"Aku bersedia, mas". Lanjut Anjani yang mendapat senyum kemenangan dari Ken. Untuk meyakinkan Anjani, Ken memeluk Anjani sedikit lama dan mengusap pelan rambut panjang Anjani.


"Nja?", Ken mengurai pelukannya.

__ADS_1


"Iya, mas".


"Apa kamu nggak nyesel, mencintai ku?"


"Enggak mas, Aku yakin dengan keputusanku. Aku percaya kok, mas juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasain. Asal kan mas juga benar-benar yakin dengan keputusan mas".


degg....


Ken terhenyak...


Ya. Anjani benar. Anjani tidak mungkin lagi mundur dan membuat keputusan setengah-setengah. Asal Kenan yakin dengan hubungan mereka, tidak ada alasan untuk Anjani mundur.


Anjani memberikan kepercayaan penuh pada Kenan. Namun, reaksi Kenan malah sebaliknya. Dalam hal ini, bukankah Kenan memang berniat untuk mempermainkan Anjani? Namun, kenapa kepercayaan Anjani justru menjadi keraguan tersendiri di hati Kenan?


Kenan terpekur lama. Ada sudut terdalam di hatinya merasakan keraguan akan niatnya.


Hati Kenan tersentuh.


Nuraninya memberontak kuat agar tidak meneruskan niat kotornya.


Tapi, egonya yang tinggi terus memaksakan agar segera melanjutkan niatnya tanpa henti.


"Mas? kok ngelamun? Apa omonganku ada yang salah?", Ken tersenyum kaku sembari menggelengkan kepalanya. Menepis segala keraguan yang mencoba mempengaruhi niatnya.


"Nggak ada yang salah. Kamu bener". jawab kenan cepat. Anjani kemudian tersenyum penuh kebahagiaan. "Hanya saja....", Anjani mendongak menatap Kenan lama.


"Kenapa mas?".


"Boleh aku minta sesuatu sama kamu?".


"Apa?".


"Hubungan kita backstreet aja ya".


"Kenapa begitu?", tanya Anjani dengan raut wajah kecewa. Anjani bertanya-tanya dalam hati, apa Kenan malu untuk mengakui kalau mereka menjalin hubungan? Anjani hanya tidak mau menjalani hubungan yang tak sehat di dalamnya.


"Aku belum siap semua orang tau. Beri aku waktu dua atau tiga bulan untuk mengakui semuanya. Aku janji, kalau udah siap aku bakal jujur sama semua orang, termasuk keluarga kita. Lagi pula, belakangan ini, aku juga di sibukkan dengan tugas-tugas kuliah. Bentar lagi kan aku akan skripsi".


Anjani menghela nafas lega mendengar penjelasan panjang lebar dari Kenan.


"Apapun itu, mas. Aku akan dukung". Jawab Anjani mantap.


Keduanya kembali berpelukan sebelum bergegas untuk kembali pulang.

__ADS_1


__ADS_2