PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 16


__ADS_3

Hujan turun dengan sangat deras malam ini, membasahi permukaan bumi yang sebelumnya terlihat tandus di tanah Jawa. Anjani nampak lebih ceria sekarang. Ia tampak menikmati hari-harinya dengan bahagia.Dan saat ini, adalah bulan ke empat Anjani tinggal di pesantren ini.


Dalam hati, Anjani bertekad akan membesarkan anaknya dengan perawatan yang sangat baik. Anjani juga sekarang menyesuaikan penampilannya dengan lingkungan. Ia mulai membiasakan diri menutup aurat nya. Bukan paksaan dari nyai Galuh, melainkan ia berinsiatif sendiri. Meski ia merasa sangat kotor, setidaknya ia bertekad untuk berusaha berubah lebih baik lagi.


Anjani telah menempati kamar kosong di samping kantin para santri seperti yang di janjikan nyai Galuh, istri pemilik pesantren sekaligus sepupu Nawal yang belum di ketahui identitas aslinya oleh anjani. Saat ini, Anjani juga tengah membuka usaha berjualan kue di kantin kampus berkat kepiawaiannya dalam membuat kue.


Bukan hal yang mudah. Berbekal uang sisa tabungan yang ia buat modal untuk membuka usaha kecil-kecilan, Anjani memulai usaha dengan sangat yakin. Anjani men-sugesti diri sendiri bahwa ia akan mampu membesarkan anaknya seorang diri.


Di pagi hari, Anjani berjualan daging ayam potong di pertigaan jalan besar dari pesantren menuju pasar. Berkat bantuan nyai Galuh, Anjani pada akhirnya di antar pada jagal ayam potong untuk ikut berjualan ayam.


Setelah jualannya habis, Anjani akan kembali ke pesantren dan membuat kue untuk ia jual siang hari hingga malam. Kuenya ia jual di pesantren milik kyai Arsyad.


Sebenarnya, Nyai Galuh enggan mencarikan Anjani pekerjaan mengingat Anjani yang saat ini tengah hamil besar. Namun, Anjani tetep keukeuh ingin mencari kerja sampingan lagi selain berjualan kue yang tidak seberapa hasilnya itu.


Bukan tanpa alasan Anjani ingin melakukan semua pekerjaannya. Anjani sangat kelelahan setelah membuat kue di sore hari, tapi mengingat biaya melahirkan dan kebutuhan sang calon bayi yang harus tercukupi, Anjani mau tak mau tetap bersikeras untuk berjualan daging ayam, Usaha yang ia lakoni dalam lebih dari dua bulan terakhir ini.


Kini, Anjani jauh lebih bersyukur atas apa yang menimpa dirinya. Ia menjalani peran sebagai calon ibu dengan baik. Setelah ini, Anjani berencana untuk mencicil kebutuhan sang bayi dengan membeli beberapa potong pakaian bayi.


Anjani tengah duduk santai di kantin pesantren. Di sini, Susana hati Anjani lebih adem dan tenang. Suara santri-santri yang mengaji membuat jiwa Anjani terasa damai.


Tiba-tiba, Anjani teringat bi Tarsih. Bagaiman keadaan Bi Tarsih saat ini? Anjani sangat merindukannya. Beberapa waktu terakhir ini, Anjani sering memimpikan bi Tarsih yang memintanya untuk segera pulang.


Terbesit dalam hati Anjani untuk menghubungi ibunya sekedar memberinya kabar. Namun, ia takut jika sampai keberadaannya di ketahui oleh Kenan. Kenan adalah sosok yang akan terus ia hindari. Mungkin, hingga sepanjang hidup Anjani.


"Ya sudah, aku mau menghubungi ibu dulu. Yang penting Ibu sehat aku udah lega". Anjani segera membereskan sisa kue dagangannya yang sisa tiga potong itu. Ia berniat untuk meminjam ponsel nyai Galuh untuk menghubunginya.


Ponsel Anjani sebelumnya ia jual untuk mnghilangkan jejak. Selain itu, uang hasil penjualan ponsel ia gunakan untuk membiayai hidupnya kala ia masih Luntang Lantung tak jelas di jalanan.


"Assalamualaikum, Bu nyai".

__ADS_1


"Wa Alaikum salam. Eeh ada Anjani. Ayo duduk nak. Gimana? Apa kamu baik-baik saja?".


"Baik Bu nyai. Anjani kesini ingin minta tolong Bu nyai. Pa boleh?"


"Ya boleh dong. Mau minta tolong apa?".


"Anjani kangen sama ibu Anjani. Boleh tidak, kalau Anjani pinjam ponsel Bu nyai untuk menghubungi ibu di Banyuwangi?".


"Walah, gitu to? Ya boleh to nduk. Kamu ada nomernya?". Tanya Bu nyai dengan wajah teduhnya. Anjani segera mengeluarkan kertas kecil dari genggaman tangannya. Berisikan nomor yang menunjukkan bahwa nomor itu, nomor telepon rumah.


Angka demi angka di ketik oleh nyai Galuh. Sesaat, nyai Galuh terpaku dan tenggorokannya tercekat saat panggilan terhubung, nama "Rumah Mbak yu Nawal".


Setelah panggilan panggilan telepon terhubung, nyai Galuh segera memberikannya pada Anjani. Anjani pun meminta ijin menjauh dan segera berbicara dengan lawan bicaranya di seberang sana tanpa melihat layar ponsel.


Nyai Galuh berdebar tak karuan saat itu. dalam hati nyai Galuh, ia bertanya-tanya, apa hubungan Anjani dengan sepupunya itu? Bukankah Anjani berkata bahwa ia ingin menghubungi ibu Anjani?.


Ah biarlah, ia akan menghubungi sepupunya lagi nanti. memastikan ada hubungan apa antara Anjani dan Nawal.


"Hallo", Suara nawa nampak anggun di seberang sana. Anjani memejamkan matanya sekilas guna menetralkan degub jantungnya yang tak beraturan.


"Hallo assalamualaikum".


"Wa'alaikum salam. Ini dengan siapa?".


"Saya Siti dari kampung nyonya. Apa mbak yu Tarsih ada?", tanya Anjani dengan gayanya yang di buat medog. Tanpa di sadari oleh Anjani, nyai Galuh mendengarkan pembicaraan Anjani dari balik pintu.


"Lho, kalau keluarga bi tarsih dari desa, Apa Bu Siti belum menerima kabar? Apa keluarga bi Tarsih ada yang melewatkan berita tentang bi Tarsih?", Suara Nawal di seberang telpon, menunjukkan nada kesedihan yang mendalam.


"Memangnya, ada apa dengan Bibi Tarsih?", Anjani mendadak lemas meski ia belum memastikan keadaan ibunya. Berbagai asumsi berseliweran dalam kepalanya.

__ADS_1


"Bi Tarsih sudah meninggal sebelas hari yang lalu. Beliau sakit keras karena anaknya pergi tanpa meninggalkan jej........"


"Tidak. Nyonya pasti bohong. Ibuku. Ibuk nggak mungkin pergi ninggalin Anja. Nyonya pasti bohong. Katakan. Dimana ibu Anja sekarang?". Seketika kalimat Nawal terhenti kala Anjani berteriak menyela kalimat Nawal.


Tubuh Anjani limbung. Kini, Anjani duduk bersimpuh dan menangis sejadi-jadinya. Nyai Galuh pun dengan sigap segera menghampiri dan berusaha menenangkan Anjani. Ponsel yang terjatuh ke lantai segera di raih nyai Galuh, dan mennggantikan Anjani untuk berbicara dengan Nawal.


.............


"Hallo mbak yu... Assalamualaikum..."


"Wa'alaikum salam.......... lha.... Diajeng? kok... kok? Anjani? Diajeng Galuh? Ini ada apa to?? Tadi itu, apa bener suaranya Anjani?".


Nawal yang kebingungan sekaligus bahagia mendengar suara Anjani, sempat tak percaya.


"Sebentar mbak yu. Nanti aku telfon balik ya. Ini Anjani pingsan....... Wis Yo assalamualaikum".


"Wa'alaikum salam". Nawal tidak ingin menundanya lagi. Saat ada petunjuk tentang keberadaan Anjani, Nawal harus segera kesana.


Tut Tut Tut Tut...


Sambungan telepon terputus.


"Pa.... papa.... pa.....?" Nawal memanggil fandy yang berdiam diri dan tenggelam mengerjakan tugasnya memeriksa laporan keuangan resto miliknya.


ceklek..


Pintu terbuka dan tanpa basa basi, Nawal segera berbicara pada Fandy.


"Pa, papa tau? Anjani selama ini ada di Pati pa. Mama udah nggak sabar dan nggak mau menunda. Ayo kita ke Pati, sekarang!".

__ADS_1


"Memangnya, mama tau dari mana?", Fandy sontak berdiri dan membelalakkan mata tak percaya.


"Diajeng Galuh telpon. Ada suara Anjani di sana dan Diajeng Galuh juga bilang gitu pa. Mama siap-siap sekarang".


__ADS_2