
Anjani tengah panik ketika ia tak bisa menghubungi suaminya. Bukan tak bisa, panggilan telepon terhubung, hanya saja sama sekali tak ada jawaban dari suaminya. Ini sudah satu setengah jam dari ketika Kenan pamit padanya untuk ke toilet.
Di sampingnya, Nawal dan Fandy menatap khawatir dan cemas. Orang-orang kepercayaannya telah di kerahkan nya untuk mencari keberadaan Kenan.
Tiba-tiba, Niko muncul dari ambang pintu sambil menggenggam ponselnya.
Raut wajah Niko demikian panik.
"Gimana, Niko? Apa ada kabar terbaru?"
Melihat nko mengangguk, Fandy bangkit dan mengajak Niko keluar ruangan.
"Mas Ken di bawa seseorang pa. Niko akan berangkat menjemputnya, sekarang. Papa mau ikut?"
"Ya."
Mereka kemudian meminta sopir keluarga untuk membawa Nawal, Kania dan Anjani untuk pulang. Sementara Fandy dan Niko pergi untuk menjemput Kenan.
Sesampainya di sana, Niko terkejut luar bias ketika melihat lengan kiri Kenan telah bersimbah darah dan melihat Kenan memucat. Dira Ng masih syok itu semakin menciut nyalinya ketika melihat Niko, dan lelaki perih baya yang ia tau itu adalah Fandy, ayah Kenan.
"Astaga...... Ken....."
Fandy berlari menghampiri putranya, membuka jasnya dan menyobek paksa kemeja biru telur bebek yang di kenakannya. Membalutkan sobekan kemejanya pada lengan putranya.
"Nak, bangun Ken. Kamu dengar papa?"
Sayangnya, suara lirih Fandy kini sudah tak mampu lagi menembus rungu Kenan yang tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah.
Sedang Niko, pria itu kemudian membekuk Dira yang masih megenakan gaun tidur dengan bercak darah Kenan yang masih segar. Dira tak melakukan perlawanan, tubuhnya seolah tak mampu meski hanya untuk sekedar melawan.
"Niko, kita ke rumah sakit, sekarang!!"
Fandy berteriak kesetanan sembari mencoba membangkitkan Kenan untuk di bawanya ke rumah sakit.
....
Anjani menatap suaminya yang terbaring dengan wajah pucat pasi. Setelah Kenan di temukan dalam kondisi tak sadar, Anjani histeris dan sempat pingsan. Kini, setelah dokter menjelaskan tentang kondisi tubuh Ken yang dalam pengaruh obat.
Pandangan Anjani nanar terarah pada suaminya. Hatinya seolah remuk ketika mendengar pengakuan Dira yang kini sudah di amankan di kantor pihak yang berwajib.
__ADS_1
Ken dalam pengaruh obat, dan Kenan nekat menusuk lengannya sendiri demi bisa menghindari wanita penggoda itu. Ya tuhan, Anjani begitu terharu mendapati kenyataan bahwa Ken begitu kuat menjaga pernikahan mereka. Namun hatinya begitu teriris melihat suaminya tak berdaya terbelenggu kegelapan yang menjadikannya tak sadar.
"Mas.... kamu nggak mau bangun? Aku rindu".
Dan Anjani kembali meneteskan air matanya sebagai bentuk kepedihan hatinya, mendeklarasikan pada dunia, bahwa Kenan adalah separuh dari jiwanya, cinta sejatinya, dan segala-galanya.
"Apa kamu nggak rindu sama aku?".
Lirihnya sebelum kemudian tenggelam dalam tangisnya, seperti yang sudah-sudah.
"Aku janji, akan aku buat wanita setengah gila itu, menjadi gila seutuhnya.
Aku janji, mas. Aku janji".
Di luar ruangan, Kania menatap keduanya penuh khawatir. Tapi mau bagaimana lagi? Toh Kania sudah berjanji pada suaminya, Niko, untuk tak selalu ikut campur pada urusan saudaranya itu.
"Kamu nggak pulang dulu?"
Tanya Niko yang menyentuh pelan bahu Kania.
"Mau kalau di bolehkan".
Ken adalah satu-satunya saudara sedarah Kania, mana mungkin Kania akan merasa biasa saja ketika sang kakak tengah terluka.
"Kita pulang dulu. Fatih juga butuh kita. Mama dan mba Anja akan bergantian jaga. Kamu boleh ikut jaga kalau kamu memang nggak capek".
"Tapi aku capek, mas".
"Ya udah. Kita pulang".
Kania mengekor di belakang Niko. Merogoh ponselnya di dalam tas, dan menghubungi seseorang.
Kali ini, Kania tengah menghubungi seseorang untuk menggali seluruh informasi dan latar mengenai si Dira itu. Kania tak akan menggunakan cara kekerasan, namun menggunakan sedikit intrik kotor, boleh, kan?
**
"Eeengggh....." Kenan melenguh pelan, ketika Anjani yang baru saja hampir terlelap. Anjani yang sadar bahwa ada pergerakan kecil Daris suaminya, segera bangkit.
"Mas... mas kamu sadar, mas? Ya tuhan.... Alhamdulillah... Alhamdulillah.... Kamu butuh sesuatu, mas?".
__ADS_1
Anjani mendekap lengan Ken yang tak tertusuk jarum infus, dengan erat. Tangis haru itu kemudian pecah.
"Ha--us....."
Gumam Kenan lirih. Suaranya menyerupai bisikan angin.
"Aku ambilkan".
Anjani kemudian meraih gelas berisikan air mineral di atas nakas. Kemudian menyuapkannya pada suaminya, dengan mengenakan sendok.
"Syukurlah kamu sadar, aku panggilkan dokter dulu, ya?". Kenan hanya mengangguk sebagai jawaban.
Seusai Ken di periksa oleh dokter, dokter menyatakan bahwa, perkembangan nya cukup baik. Hanya menunggu hingga masa pemulihan total saja, Ken akan kembali seperti semula. Meski luka yang Ken alami cukup parah, namun rupanya Ken memiliki semangat yang tinggi untuk sembuh.
"Nja......".
Kenan melambai ke arah Anjani untuk mendekat ke arahnya.
"Ya, mas?". Anjani mendekat ke arah Ken dengan menggenggam jemari Ken yang bebas infus.
"Maaf membuatmu panik". Nafas Kenan terasa berat. Anjani lebih panik lagi kali ini.
"Mas jangan banyak gerak dulu, ya. Lebih baik mas istirahat. Jangan khawatir, aku baik-baik aja".
Ken mengangguk. Ia kemudian tersenyum dan menatap manik mata istrinya yang nampak sendu.
"Aku sayang kamu, nja. Sangat sayang kamu. Saat kegelapan hampir merenggut kesadaran ku, hanya wajah kamu, Vanya, Kania, mama dan papa yang tampak. Kalian hartaku yang berharga".
Anjani semakin menumpahkan tangisnya.
"Aku janji akan mengabdikan seluruh hidupku sama kamu, mas. Cuma kamu".
"Aku... aku sayang kamu, nja". ucap Kenan lirih seiring genggaman tangannya yang kian erat terhadap Anjani.
"Aku juga sayang banget sama kamu, mas. Sangat dan sangat. Terima kasih, terima kasih kami sudah bersedia menjaga diri kamu, hati kamu, hanya untukku. Kamu..... segalanya buat aku".
Dalam hati, Anjani bersumpah akan membuat siapapun yang membuat lelaki nya terluka.
Mari kita lihat, seberapa kuat Dira menghadapi kemarahan Anjani dan ke-bringasan Kania.
__ADS_1