
Pagi menjelang. Suara kicau burung nampak bersahut-sahutan di atas pohon. Niko membuka mata nya perlahan dan mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang merasuk dalam pupil matanya. Senyum mengembang sempurna pada bibir indahnya.
Semalam, setelah Kania tertidur, Fandy, Nawal, Ken dan Anjani pamit pulang. Niko yang merasa tak enak hati itu pun, meminta maaf atas kejadian tak enak semalam. Toh Niko tidak tau jika Kania akan menumpahkan segala kekecewaan dan semua beban di hatinya, secepat itu.
Tapi tidak. Tidak ada yang salah dari Kania. Semua berjalan natural dan tidak di buat-buat. Istri Niko itu benar-benar mengeluarkan segala uneg-uneg yang di pendamnya selama ini. Niko benar-benar di buat terpana dengan sikap berani istrinya. Meski Kania banyak membantah Fandy, namun semalaman Kania menangis dan menyesali kalimat pedas nya semalam.
Lantas ayah dua anak itu pergi kamar mandi dan melihat bunda nya tengah memandikan Fatih. Setelah menyapa orang tua dan putra sulungnya, Niko kemudian kembali ke dalam kamar.
Niko lantas kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang bersama istrinya. Meski Kania semalam memeluknya erat, namun Kania masih saja meninggikan egonya utuk tidak mau di sentuh. Mengingat itu, Niko mendesah berat. Ada rasa ingin protes, namun Niko terlanjur berjanji pada dirinya sendiri untuk sabar menanti kesanggupan Kania melayaninya. Yang membuat Niko bahagia, kini Kania tidak lagi sekasar ketika Niko baru saja tiba kemari. Sikapnya sedikit melunak dan ketusnya perlahan mulai menghilang.
"Eeengggh.....".
Kania menggeliat pelan dan matanya masih tertutup. Sepertinya, ia enggan bangun dari tidurnya.
Niko refleks mengusap-usap kening istrinya. Mendapati ada tangan hangat yang membelai wajah bagian atasnya, Kania lantas memaksakan matanya terbuka, meski berat dan harus mengerjap beberapa kali.
"Jam berapa ini?" Tanya Kania yang masih setengah memulihkan kesadarannya.
"Masih pagi. Kalau ngantuk, tidurlah lagi".
Jawab Niko lirih. Tangannya masih setia menjelajahi wajah istrinya. Di perhatikannya lekat wajah istrinya, meski warna kulitnya saat ini tak seputih dulu, namun kadar kehalusannya masih tetap terjaga.
"Anika mana?" Tanya Kania lagi dengan suara parau.
"Di gendong ayah. Kalau abangnya, Fatih masih di mandiin bunda."
"Aku mau bangun, tapi kenapa lelah banget, ya?"
"Ya udah, istirahat lagi saja dulu. Nggak usah masak. Bunda udah masak. Kalau kamu mau sarapan, aku ambilkan".
Kania mengangguk beberapa kali, berusaha mencerna apa yang Niko katakan.
Kalau bunda sudah masak, bukankah artinya, ini udah siang? Terus, bunda udah mandiin Fatih. Berarti hari udah mulai......
__ADS_1
Astaga..... aku kesiangan....
Batin Kania berteriak dan ia berjingkat seketika.
"Loh, kamu kenapa?"
Niko terheran-heran melihat istrinya yang berjingkat secara tiba-tiba.
"Ini udah siang, mas. Fatih udah mandi. Mana bisa kamu bilang ini masih pagi?"
Sungut ibu dua anak itu dengan tatapan garangnya.
"Ya kan kamu masih ngantuk?"
"Iya kalau bunda nggak ada. Di sini ada bunda. Apa kata bunda kalau ternyata tau bahwa menantunya ini pemalas?"
"Biarin aja. Bunda pasti ngerti kok".
Tanpa menjawab, Kania kemudian bangkit dan berlari kecil menuju arah kamar mandi. Sesampainya di ruang tengah, betapa terkejutnya Kania mendapati bunda tengah menyuapi Fatih yang masih sibuk bermain dan berceloteh.
"Nggak apa-apa. Buruan mandi gih. Terus sarapan. Nanti Niko ngajak kita jalan-jalan nggak tau kemana, setelah kalian sarapan".
"Tapi.... mas Niko nggak ada bilang".
"Mungkin nggak sempat. Sudah ayo buruan. Setelah cucu kesayangan bunda ini selesai makan, bunda mau siapkan bekal."
Jujur, Kania merasa tak enak hati pada bunda yang mengerjakan semua pekerjaan rumahnya.
"Ya udah, Kania mau mandi dulu".
"Iya."
Lagi-lagi, bunda tersenyum menanggapi.
__ADS_1
**
Kania tengah sibuk menatap pemandangan indah di sebuah gazebo yang terletak di atas perbukitan kebun stroberi. Hawa di sini terasa sejuk dan menyenangkan. Senyum terbit di bibirnya, ketika mengingat bahwa Kania tidak pernah pergi berlibur semenjak ia meninggalkan Niko setahun yang lalu.
"Kania..... sini, nak. Bunda sama ayah mau berbincang-bincang sama kamu".
Kania refleks menoleh pada bunda. Tersenyum dan kemudian langkahnya menghampiri bunda.
"Iya, bunda".
Mata Kania lalu menangkap sosok Niko yang menggendong Fatih dan berjalan-jalan menapaki jalanan kecil di sela-sela tanaman stroberi.
"Gimana perasaan kamu hari ini, nak?".
Ayah tersenyum dan menampilkan wajah jenaka. Nada suaranya begitu nyaman di dengar dan membuat hati Kania menghangat.
"Baik ayah. Kania bahagia bisa berlibur".
"Oh ya, kalau boleh tau, apa Kania bisa melupakan sejenak masalah Kania sama keluarga?"
Jujur saja, Kania terkesiap ketika ayah menanyakan tentang perihal keluarganya.
"Iya, ayah".
"Kalau boleh ayah minta, Kania jangan sedih-sedih lagi, ya. Kasihan anak-anak dan suamimu. Niko khawatir Sekali semalam, ketika kamu nangis. Jangan nangis lagi, nak".
"Iya yah. Maaf Kania buat semua orang khawatir".
"Apa Kania masih marah sama keluarga?".
Kania menunduk dan tak berani mengangkat wajahnya. Pertanyaan ayah seolah membuat hatinya kembali sedih.
"Seburuk dan sejahat apapun bentuk dan sifat anak, tidak ada orang tua yang akan membenci darah daging mereka. Seburuk dan sebesar apapun kesalahan orang tua, mereka tetap orang yang membuat anak hadir ke dunia, membesarkan dan melimpahi banyak kasih sayang terhadap anak-anaknya. Jangan terlalu lama memendam luka dan kecewa, terlebih pada keluarga. Cobalah berdamai agar hati kamu nggak lagi sakit. Biar bagaiman pun, keluarga memiliki peran yang sangat besar untuk Kania. Coba cerna, apa yang baru saja ayah katakan pada Kania".
__ADS_1
🍁🍁🍁
Di sambung di part berikutnya, ya....akan kembali up hari ini, agak siangan.